THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]

THE DEATH LIGHT BEARER [TOWER OF GOD]
Chapter 7: Apa yang Kau Rencanakan?



Cklek.


“Selamat pagi.”


“Pagi,” Viole mengangguk, membalas sapaan Akraptor seadanya. Pria dengan tindik di telinganya itu menunggu sarapan yang sedang dipersiapkan oleh Goseng.


Miseng dan Prince, anak perempuan dan pemuda yang masuk dalam tim mereka, duduk di sebelah Viole. Keduanya persis seperti anak seusianya yang antusias menunggu masakan seorang ibu, meski tentu mereka sudah mengalami hal-hal yang jauh lebih berat dari anak seusia mereka.


Hal tersebut berbanding terbalik dengan Horyang, pria bertubuh paling besar nan tinggi di antara mereka duduk di sebelah Akraptor. Wajah khasnya yang tenang dan datar tidak berubah, meski sekedar menantikan sarapan sekalipun.


Wangnan seperti biasa, ia masih tidur. Namun jangan khawatir, pemuda berambut keemasan itu tidak pernah melewatkan makan, baik sarapan, makan siang, maupun malam. Mungkin begitu Goseng selesai menghidangkan sarapan di meja pemuda itu akan otomatis bergabung.


Sedangkan Ehwa katanya sejak tadi masih bersiap untuk pertemuan dengan keluarganya. Yah, untuk gadis dari salah satu Keluarga Agung menjaga martabat itu penting. Apalagi mengingat gadis itu setim dengan Jue Viole  Grace, Calon Pembunuh FUG, yang dapat dikatakan sebagai “pengkhianat” Menara. Tentulah gadis itu harus semakin menunjukkan sisi baiknya.


“Viole, apa kau tahu ke mana si Khun yang kau bawa kemarin itu?” Akraptor yang duduk di seberang Viole bertanya. Tentu saja pertanyaan itu spontan membuat kepala Viole yang sejak tadi tertunduk terangkat. “Pergi?”


“Ya, kau tidak tahu?”


Viole menggeleng.


Akraptor menghela napas, sorot matanya tiba-tiba berubah serius, membuat wajah antusias Prince dan Miseng memudar. “Sekitar jam 3 tadi aku terbangun karena mendengar suara. Tapi waktu aku mengecek, aku melihat si Khun itu keluar. Tentu saja aku segera mengikutinya. Tapi baru membuka pintu, dia sudah tidak terlihat. Seakan dia sengaja membangunkanku.”


Viole terdiam sebentar. Namun samar, Akraptor dapat melihat sudut bibir Viole bergerak. “Apa anda yakin?” tanya Viole akhirnya.


Akraptor mengangguk mantap. “Kau harus berhati-hati. Orang itu berbahaya.”


“Tuan Akraptor, kurasa kita sudah membicarakan ini dari kemarin.”


“Aku tahu dan aku mengerti, hanya saja...”


Cklek.


‘Panjang umur’, setidaknya biasanya itulah ungkapan yang lebih dari cukup untuk mendeskripsikan keadaan saat ini. Ketika pemuda yang hendak dibicarakan Akraptor muncul dengan sendirinya, kemudian duduk di sebalah kanan Viole.


“Selamat pagi, Tuan Khun,” sapa Viole.


Aguero mengangguk. “Pagi, Viole,” balasnya sambil tersenyum ramah. Sebagai tambahan, Aguero juga menunduk ke penghuni meja makan lainnya. Tentu saja ini termasuk dalam upayanya agar tidak diusir dalam waktu dekat.


Setelah dipikir ulang, tempat tinggal yang bagus, makanan yang selalu disediakan, sampai orang-orang ‘bodoh’ yang hadir untuk membersihkan tempat tinggal. Kenapa Aguero harus membuangnya?


Akraptor mengeluh dalam hati. Haah… orang-orang dari Keluarga Khun memang menyebalkan. Dia muncul tepat ketika aku ingin memperingatkan Viole. Atau jangan-jangan…


Netra cokelat Akraptor bergerak ke kanan dan ke kiri, mencoba memastikan sesuatu.


Sial, tidak mungkin kan…,batinnya lagi. Namun ketika netranya berhenti pada pemuda berambut biru di depannya, ia berubah pikiran. Pemuda itu memang berbahaya!


“Biar aku bantu,” ucap Horyang. Pria berbadan besar itu segera berdiri, mengambil dua piring dari tangan Goseng. Tampak rona merah samar di wajah keduanya. Kedua orang itu saling bertatapan sebentar sebelum kemudian keduanya tersadar oleh pintu yang untuk kesekian kali terbuka.


Cklek.


“Selamat pagi semuanyaaa!” seru pemuda berambut emas itu. Meski yang terakhir tiba, tapi tidak diragukan semangatnyalah yang paling membara di antara orang-orang ini. Walau menimbulkan kekecewaan untuk orang-orang tertentu, tapi kehadiran pemuda berambut keemasan itu selalu saja dapat menghidupkan suasana.


“Selamat pagi, Wangnan,” balas Goseng sambil tetap berusaha mengukir senyum, meski tampak canggung. Horyang pun refleks segera meletakkan piring di meja kemudian kembali ke tempat.


“Selamat pagi, Kak Wangnan!” Miseng dengan semangat membalas sapaan, sedangkan Prince hanya membalas dari dalam hati.


Wangnan dengan senyum penuh kebahagiaan seolah akan segera mencapai puncak Menara bergegas mengambil tempat di sebelah Akraptor. Air liurnya tidak lagi dapat ditahan ketika melihat masakan penuh uap buatan Goseng, menandakan masakan itu baru matang. Wangnan menarik napas dalam-dalam, menghayati aroma yang masuk ke indar penciuman.


Glup. Perutnya pun semakin tidak dapat dikontrol. Meski menjadi orang yang terakhir tiba, ia selalu akan mejadi yang pertama dalam mengambil lauk-lauk itu ke piring. Para penghuni meja lain yang sudah terbiasa hanya dapat tertawa kecil sambil geleng-geleng melihatnya.


“Pelan-pelan saja, Wangnan,” ucap Goseng yang sudah ambil tempat di sebelah pemuda berambut keemasan itu.


Bukannya menurut, Wangnan malah sibuk memuji masakan Goseng dengan mulutnya yang penuh itu. Alih-alih tersanjung, yang ada seisi meja dipenuhi tawa karenanya.


Akraptor menghela napas. Yah sudahlah, nanti saja kuperingatkan dia.         


Manik cokelatnya lagi-lagi bertemu dengan manik biru itu. Akraptor dapat menangkap seringaian kecil pemuda dari Keluarga Khun itu.


Kini tidak ada keraguan lagi! Anak dari Keluarga Khun itu pasti merencanakan sesuatu dan memanfaatkan kebaikan Viole.


Sama seperti adik sepupunya yang licik itu.


Haahh…. Keluarga Khun memang menyebalkan. Akraptor diam-diam berdecak, memutus tatapan mereka yang saling bertemu. Netra cokelatnya terarah pada sebuah garpu yang kesulitan meraih telor gulung.


Akraptor menghela. Dasar anak kecil.


Baru juga Akraptor mengambil garpu dari piringnya dan hendak membantu, garpu lain lebih dulu membantu anak perempuan itu mengambil telor gulung. “Ini,” ucap Prince sembari tersenyum.


Miseng mengangguk, “Terima kasih.”


Kedua anak itu lanjut makan. Namun entah kenapa tiba-tiba Prince merinding, seolah ada api tak kasat mata yang hendak menelannya bulat-bulat tanpa ia sadari.


Sementara itu, Wangnan yang menyadari apa yang terjadi tertawa singkat, mengambil satu telor gulung dengan sendok dan garpu, kemudian meletakkannya ke piring Akraptor. “Jangan bersikap seperti seorang ayah yang putrinya ‘dicuri’ oleh laki-laki lain,” ucapya berusaha ledakan tawa yang lebih besar.


Akraptor mendelik ke arah pemuda berambut keemasan itu. Api biru seolah berkobar dari kedua maniknya, menatap Wangnan bak iblis yang ingin segera mendorong jiwanya ke lautan api. Melihat itu, Wangnan spontan berpura-pura kejadian beberapa detik lalu tidak pernah terjadi, kembali bergegas mengambil lauk-lauk untuk mengisi piringnya, “Sepertinya ini enak ya…. Atau mungkin ini lebih enak….”


Pria bertindik itu menghela, kemudian kembali menatap pemuda berambut biru yang sedang menikmati makanannya, dibantu oleh pemuda berambut cokelat di sebelahnya.


Khun Aguero Agnes. Pria itu mengangkat sudut kanan bibir. Kita lihat saja nanti apa yang kau rencanakan. Aku tidak akan membiarkanmu melukai tim ini, tekadnya dalam hati, mengeratkan genggaman pada garpu di tangan.