The Cold Wife Of The Billionaire

The Cold Wife Of The Billionaire
Bertemu



Alice, gadis itu seketika bangun dengan gelagapan ketika dirinya diguyur air secara tiba tiba, seolah dirinya di paksa bangun dari alam sadarnya.


''hah hah hah''


dia terlihat bersusah payah mengatur nafasnya. dan ketika merasa stabil, ia mengedarkan pandangannya. matanya terbelalak lebar melihat vektor dalam kondisi yang tidak baik baik saja.


tubuh pria sangar itu dipenuhi luka yang begitu mengerikan. terlihat seperti luka cambuk yang masih menyisahkan darah segar dan juga luka bakar yang terlihat menghiasi punggung kokoh itu.


namun yang membuatnya salut adalah, pria itu masih sadarkan diri. berdiri dan diikat disebuah pohon besar dan rimbun.


alice yang secara tak sadar menggerakkan tangannya seketika mengerutkan keningnya. kini dia sadar saat ini dirinya dalam kondisi sedang terikat.


''kenapa kau tidak memiliki kemiripan dengan gadis itu''


tristan berucap sembari mengangkat sudut alisnya.


ia sama sekali tidak melihat sedikitpun kemiripan antara alexa dengan gadis kecil dihadapannya. meski tidak ia pungkiri jika gafis dihadapannya juga terlihat cantik namun dengan alexa mereka memiliki kecantikan yang berbeda.


''apa kau yakin jika dia adalah adik dari alexa?''


mendengar pertanyaan tuannya membuat leon seketika mengangguk yakin.


''iya bos, dia adalah adik dari nona alexa''


tristan tak lagi menanggapi, ia kemudian berdiri dari posisinya, mendekati alice yang terlihat beringsut menjauhinya


''kau cantik juga, apa kau tidak berniat menghiburku malam ini''


ucap tristan yang kini jongkok di hadapan alice,mata mereka saling beradu beberapa saat.


''cuihhh''


alice meludah tepat mengenai sepatu milik tristan. meski dirinya polos bukan berarti ia tidak tau apa arti dari kalimat pria dihadapannya.


''bahkan sampai matipun aku tidak akan sudi''


sarkas gadis tersebut


tristan menatap ludah alice yang kini mengenai sepatu miliknya. tatapannya begitu dingin menatap alice seolah siap memakan gadis itu hidup hidup


plakkk


tamparan tangan kekar itu terasa begitu menyakitkan, membuat sudut bibir gadis kecil itu mengeluarkan darah. tak hanya sampai di situ, tristan menarik rambut alice dengan kuat.


''arghhh''


teriakan alice begitu memecah kesunyian hutan, ia kembali meringis ketika tristan menarik rambutnya dengan kuat.


''kau memiliki nyali yang cukup besar untuk melakukan itu padaku''


tubuh alice meremang, ia bisa melihat bagaimana kemarahan pria dihadapannya. namun mengingat bagaimana pria itu merendahkannya tentu saja membuat dirinya tidak terima.


''lepas''


namun bukan melepaskannya, tristan semakin keras menarik rambut panjang alice, membuat gadis itu mendonggakkan kepalanya. percayalah ini sangat sakit, bahkan alice merasa ada banyak rambut yang terlepas dari kepalanya.


namun sesaat kemudian yang terjadi berhasil membuat semua orang kaget dibuatnya.


Bughhh


tristan yang terkejut segera membalikkan badannya, alangkah terkejutnya dia saat melihat orang yang begitu dia sayangi kini tergeletak tak berdaya dihadapannya. matanya bisa melihat luka luka yang terdapat ditubuh wanita itu, bahkan pipinya terlihat membiru dan masih terlihat darah segar di ujung bibirnya tersebut. bisa iapastkan jika saat ini ibunya tidak sadarkan diri


''siapa?''


teriaknya penuh kemarahan


ia ingin melangkahkan kakinya, mendekat kearah sang ibu guna untuk memeriksa keadaanya. namun detik kemudian terdengar suara mengejutkan dirinya.


''tetap di tempatmu, atau ini adalah hari terakhir kau melihat wanita itu''


tristan jelas menghentikan langkahnya. kini pandangan semua orang tertuju pada sumber suara.


alexa, wanita itu muncul dengan pakaian hitam miliknya. dengan rambut dikuncir kuda, wajah cantik alami tanpa polesan makeup. terlihat berjalan mendekati mereka.


alice yang melihat kedatangan kakaknya seketika tersenyum lega.


''kau, bagaimana bisa kau''


Tristan bertanya dengan penuh kemarahan, dirinya terkejut bagaimana alexa bisa menemukan ibunya, bahkan tidak ada yang mengetahui seperti apa rupa ibunya selama ini.


tentu saja dia menyembunyikan ibunya rapat rapat guna melindungi wanita tua itu. takut jika musuh memanfaatkan ibunya untuk menjatuhkannya.


Bughhh


''berhenti, atau aku akan menghabisimu''


teriaknya dengan penuh kemarahan, rahang tristan terlihat mengeras dengan tangan yang terkepal kuat. mata tajam itu memandang alexa dengan tatapan pembunuh


''kenapa?''


Alexa menaikkan ujung alisnya, menatap tristan dengan tatapan yang meremehkan.


''bukankah kau melakukan hal yang sama pada adikku, lalu kenapa kau marah jika aku melakukan ini pada ibumu''


tristan dibuat terdiam dengan apa yang dikatakan alexa.


''kau tau, aku tidak punya hati pada orang yang telah menyakiti keluargaku''


ucap alexa dingin


dengan gerakan tangan, ia memberi kode pada almero untuk melakukan sesuatu.


bisa dilihat pria berbadan kekar itu mulai maju mendekat kearah wanita tua yang tidak lain adalah ibu tristan.


''apa yang akan kau lakukan sialan''


tristan berteriak dengan penuh amarah ketika melihat almero perlahan membuka baju milik ibunya. namun hanya sebatas perut saja.


mata tristan membulat ketika menyadari sesuatu, perut ibunya terlihat baru saja dijahit


''apa yang telah kau lalukan pada ibu ku''


suara tristan terdengar membelah kesunyian hutan.


''kau tau, disaat aku menekan tombol ini tubuh wanita tua itu akan hancur lebur''


ucap alexa sembari memperlihatkan sebuah benda kecil bewarna hitam.


''dan kau tau tristan, saat ini anggotaku telah mengepung markasmu dan bahkan bisa menghancurkannya saat ini juga''


dan setelah alexa mengatakan itu. almero, pria itu telihat melempar sesuatu yang berhasil membuat mereka terkejut setengah mati. bahkan alice dibuat tak sadarkan diri karna melihat hal tersebut.


sebuah kepala terlihat menggelinding tepat dihadapan tristan. pria itu tau siapa milik kepala itu, yang tidak lain adalah orang yang ia tugaskan untuk menjaga keamanan markas miliknya.


tristan, pria itu menatap alexa dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana gadis itu begitu gesit darinya. bahkan menyerang dan menguasai markasnya. dan juga mendapatkan ibunya untuk menekannya.gadis tersebut membuat tristan kehilangan kata katanya.


''apa maumu?''


''Berikan adikku''


jawab alexa, yang tatapannya kini tertuju pada alice yang saat ini tidak sadarkan diri disamping anggota milik tristan.


''baiklah, tapi lepaskan ibuku''


alexa terlihat menyunggingkan bibirnya, membuat pria itu mengerutkan keningnya.


''dan aku juga ingin markas milikmu menjadi milikmu''


sahutnya santai


''apa kau gila?''


tristan berteriak, ia tidak mengerti jalan fikiran gadis itu.


''baiklah''


alexa mengedikkan bahunya acuh, kemudian terlihat menekan earpice miliknya.


''hancurkan markas itu''


ucapnya pada seseorang diseberang sana


''tunggu''


tristan berkata dengan panik, jika markasnya di hancurkan. maka beberapa barang berharga miliknya akan hancur. bukan harganya,melainkan kebanyakan barang milik tristan langka atau bisa dikatakan hanya satu atau dua orang memilikinya didunia ini. dan jelas saja itu menjadi pertimbangan besar untuknya.


Dan akhirnya tristan memilih mengalah, bahkan ia tidak habis fikir bagaimana ia bisa kalah dari wanita mungil dihadapannya, wanita itu berhasil menekannya secara tidak terduga.


''Baiklah aku akan memberikan markas itu untukmu, namun beri aku waktu untuk memindahkan barang barang milikku''


mendengar hal itu membuat alexa tersenyum penuh kemenangan. ia kemudian menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan oleh tristan.