
''kakak ku mohon maafkan aku untuk kali ini''
Alice berguman,meremas kedua telapak tangannya yang kini mulai berkeringat.
Memikirkan apa yang dilakukan saat ini membuat dirinya meremang. Ia tau kelakuannya kali ini akan membuat kakaknya marah, bahkan sangat sangat marah.
Namun di sisi lain, alice tak sanggup menolak permintaan temannya yang saat ini tengah butuh bantuannya.
''alice kumohon bantu aku,saat ini aku tengah berada di rumah sakit xxxx, adikku masuk rumah sakit''
''aku harus melakukan sesuatu yang penting,bisakah kau menjaga adikku sebentar saja? Aku tidak bisa mempercayakan adikku pada siapapun''
Permintaan temannya terus tergiang di telinganya. ditengah kebimbangan dimana dia bingung harus membantu temannya atau tidak.
sesa,temannya itu terus saja mengirim pesan padanya. Seolah gadis itu benar benar sedang terdesak dan butuh bantuannya saat ini juga.
Dan alice tetaplah alice,yang meski rasa takutnya sebesar apapun ia tak rela melihat orang lain kesusahan.
Ia tau betul rasanya dimana saat kita membutuhkan bantuan tapi tak ada yang ingin membantu. Maka dengan melawan rasa takutnya ia memilih pergi tanpa memberitahukan siapapun,kecuali supir yang ditugaskan untuk mengantarnya kemanapun.
dengan menggunakan entah berapa jurus untuk membujuk sopirnya. dan akhirnya sang supir menyetujuinya ketika alice menyakinkan jika diirnya tidak akan lama.
namun selang beberapa saat dahi gadis itu mengerut,ketika menyadari jika sebuah mobil yang begitu ia kenali mengikutinya dari arah belakang.
''pak, bukankaj itu mobil mommy?''
tanya gadis tersebut sembari melihat kearah belakang
''iya nona muda, mobil itu milik nyonya besar''
Sang supir menjawab dengan sedikit panik, cukup sulit memikirkan apa yang harus dia katakan pada nyonya besarnya itu.
Namun ia seketika dibuat semakin bingung ketika melihat dua buah mobil hitam juga turut mengikuti mereka dari arah belakang.
''pak, dua mobil itu siapa?'
Kini alice bertanya dengan panik, entah mengapa jantungnya terasa berdebar kuat tidak seperti biasanya.
''saya tidak tau nona muda''
Entah apa yang ada dipikirannya, supir tersebut memilih menginjak pedal gas miliknya, menambah kecepatan penuh cukup takut jika kedua mobil tersebut berniat tidak baik
sebelum alice pergi
Mauren, wanita paruh baya itu mengerutkan keningnya ketika melihat alice keluar dari kamarnya dengan cara yang cukup mencurigakan.
Meski hanya mengenakan piyama tidurnya, gadis itu membawa tas selempang bermerek gucci miliknya. dimana hal tersebut membuat mauren curiga jika putrinya itu akan keluar secara diam diam.
Belum sempat menegurnya, alice terlihat begitu tergesa gesa, dengan sesekali melirik kesisi kanan dan kirinya. kemudian membawa langkahnya ke pintu belakang.
Mauren yang memang sejak kemarin dilanda rasa khawatir tidak pikir panjang mengikuti alice yang kini telah naik kemobil mewah miliknya.
kembali kesaat ini
mauren yang menyadari jika mobil miliknya di ikuti seketika mengerutkan keningnya.
"jangan hiraukan apapun, jangan lengah dan jangan sampai kita kehilangan mobil putriku"
"baik nyonya besar"
Sang supir mengangguk mantap, memilih menambah kecepatan mobil yang ia kendarai, ketika menyadari mobil milik nona mudanya kini terlihat bergerak dengan kecepatan penuh.
Di mobil milik alice
Gadis tersebut semakin dilanda rasa panik ketika dirinya menghubungi temannya namun tak mendapatkan jawaban apapun.
terdengar cukup tidak masuk akal, jika temannya yang tadi butuh bantuannya kini ponselnya berada diluar jangkauan.
''apakah dirinya dijebak?''
batin alice bertanya dengan panik
"pak, aku takut"
cicitnya, dirinya kini sadar apa yang dilakukan kali ini benar benar akan membawa bencana.
"jangan khawatir nona muda, aku akan melindungi anda meski nyawa saya menjadi taruhannya"
Supir tersebut menjawab dengan mantap.
Namun ditengah kegelisahannya, ponsel milik alice berdering.
Melihat siapa yang memanggilnya, dengan cepat alice menggeser layar ponselnya.
"paman vektor"
Kini mata alica nampak berkaca kaca2, kali ini benar benar takut
"nona, tolong aktifkan loadspeakernya"
"ikuti apa yang kukatakan, bawa mobil tersebut kejalan xxxx"
perintah vektor disebrang sana
"baik, tuan"
supir tersebut kini menambah kecepatan mobil yang dikendarainya, menuju kemana tempat yang telah dikatakan oleh vektor
dimobil yang berbeda
pria berbadan kekar dengan kedua temannya seketika terkejut,ketika melihat mobil yang kini berada di belakang mereka nampak menargetkan mobil yang sama
"apa apaan ini?"
pria tersebut terlihat mengumpat ketika mobil yang dia lihat kini berusaha menyalip mobil mereka.
"kita harus lebih dulu mendapatkan gadis itu"
seru pria yang mengemudikan mobil tersebut.
hingga terlihat dalam jalanan yang terlihat begitu sunyi kini tedapat empat mobil yang saling berburu dengan kecepatan penuh menuju jalan yang mereka tak ketahui
"nona muda sebelum mobil ini berhenti,sebaiknya anda menggunakan jaket yang ada dalam kotak yang berada didekat anda"
supir tersebut mengingatkan, ketika merasa tidak lama lagi mereka akan tiba dimana tempat yang dikatakan oleh vektor tadi.
alice mengangguk,tanpa mengatakan apapun,ia memilih melakukan apa yang dikatakan oleh supirnya tersebut.
hingga selang beberapa saat. mereka telah tiba ditempat tersebut.
namun alice dseketika dikejutkan ketika melihat siapa yang saat ini berada di samping mobilnya yang tengah mengetuk kaca mobil miliknya.
"mommy"
seru gadis tersebut
ia dengan cepat membuka pintu mobilnya kemudian memeluk tubuh wanita paruh baya tersebut.
"maafkan aku"
lirihnya
"nyonya besar,nona muda, ikuti saya"
"kita tidak punya banyak waktu"
mauren dan alice seketika terkejut melihat kedatangan jeff secara tiba tiba. namun ketimbang mengeluarkan suaranya. mauren dan alice lebih memilih mengikuti langkah jeff karna yakin, mobil yang mengikuti mereka sebentar lagi akan tiba.
dan benar saja, ketika mereka baru saja menutup pintu mobil yang saat ini dikendarai oleh vektor. kedua mobil tersebut telah tiba dimobil itu.
vektor dengan cepat menekan pedal gas mobil yang saat ini ia kendarai. mobil yang didesain sendiri oleh alexa dengan dilengkapi berbagai keamanan yang cukup tinggi termasuk anti peluru.
dimobil yang berbeda
pria berbadan kekar tersebut seketika mengumpat ketika melihat target mereka telah pergi dengan menggunakan mobil yang berbeda
"kurasa kita telah ketahuan"
pria berkepala plontos tersebut mengeluarkan suaranya, terlihat jika dirinya cukup takut disituasi ini.
"lalukan panggilan kepada ketua, kita pindah kerencana B"
"kau gila"
kini pria dengan rambut panjang sebahu dengan di ikat turut mengeluarkan suaranya.
"kau fikir kita semua akan selamat ketika rencana B dijalankan"
pria tersebut kembali melayangkan protesnya pada temannya yang kini mengendarai mobilnya tersebut.
"lalu kau pikir jika kali ini kita gagal,kita akan selamat ha"
"kau tau bagaimana pria tua itu, jika kita gagal bukan hanya kita tapi keluarga kita juga akan habis ditangannya"
"kau mau melihat anak dan istrimu mati di tangan mereka ha?"
teriak pria tersebut dengan amarah yang membucah.
"aku tak apa mati ketika menjalankan rencana B, setidaknya jika rencana tersebut berhasil keluargaku akan terbebas dari pria tua itu"
ya, bagi pria berbadan kekar tersebut. saat ini mereka tak punya pilihan lain. mereka tau jika mereka gagal, mereka akan tamat di tangan mario atau ditangan alexa.
dan semuanya hanya tertuju pada satu titik, yaitu mati.
mendengar apa yang dikatakan oleh temannya,membuat kedua pria itu seketika terdiam. ya, apa yang dikatakan temannya itu benar pada akhirnya mereka setuju untum menjalankan rencana B