The Cold Wife Of The Billionaire

The Cold Wife Of The Billionaire
Bersembunyi



langit yang kini telah menggelap, dengan perlahan mulai meneteskan airnya, tidak deras namun jika berlangsung lama bisa membuat mereka kedinginan.alice,mauren dan vektor. saat ini mereka tengah berada di seberang sungai yang alirnya begitu deras.


alice, gadis itu saat ini tengah sibuk menggosok tangannya, lalu menyentuh tangan keriput milik mommynya. guna membuat wanita parubaya itu sedikit merasa hangat, di balik rasa dingin yang mulai menerjang mereka.


ia telah menekan kalung miliknya, dimana dalam kalung tersebut terdapat tombol yang telah di desain khusus oleh alexa, dimana saat dirinya tengah berada dalam keadaan darurat sang kakak bisa menemukan lokasi dimana dia berada.


dalam hati ia berharap semoga kakaknya cepat menemukan mereka. dibanding khawatir dengan dirinya sendiri, alice lebih khawatir dengan kondisi mommynya saat ini. dimana ia berkali kali melihat wanita parubaya itu nampak meringis dan terlihat menahan sakit yang ada dikakinya.


lelehan bening perlahan menetes di pipi mulus miliknya, namun dengan cepat ia menghapusnya dengan kasar. tak ingin diketahui kalau sebenarnya saat ini dirinya tengah menangis.


''nyonya besar,nona muda, apa kalian telah mematikan ponsel anda?''


vektor bertanya dengan cepat


mendengar hal itu sontak membuat mauren dan alice mengerutkan keningnya.


''tidak paman, ponselku masih hidup hanya saja disini tidak ada jaringan''


mauren juga menyetujuinya, ponsel mereka masih dalam keadaan baik baik saja dan berada disaku mereka masing masing


''tolong berikan padaku''


ucap vektor cepat.


dan tanpa mengatakan apapun mauren dan alice segera memberikan ponsel mereka. namun yang mereka terkejut ketika vektor membanting ponsel mereka kepohon. tak hanya sekali, bahkan vektor membanting ponsel mereka berkali kali hingga ponsel itu benar benar hancur tak terkira.


''paman vektor, kenapa merusak ponselku''


pekik alice kaget, meski ia bisa membelinya lagi, namun itu adalah sebuah pemborosan baginya.


''maaf nyonya besar, nona muda''


''namun bagi kelas dunia mafia terkadang mereka bisa melacak keberadaan kita melalui ponsel kita''


jelas vektor


vektor sejenak terdiam, terlihat mengerutkan keningnya beberapa waktu.


''kita harus bergerak secepatnya, nyonya besar''


mauren hanya diam, rasa sakit di kakinya membuat dirinya terasa sulit menggerakkan badannya.


namun saat hendak vektor yang mengangkat tubuh mauren. pergerakan yang tidak jauh dari posisi mereka terasa begitu jelas, bahkan alice juga menyadarinya.


''nona muda ikutlah padaku''


sahut vektor kemudian bergerak dari posisinya,menuju pohon yang terlihat besar dan begitu rimbun. dia meletakkan mauren secara perlahan.


''nona muda, tetaplah disini bersama nyonya besar''


''jangan keluar apapun yang terjadi''


alice hanya mengangguk ditengah rasa takut yang semakin menghantam. gadis tersebut terlihat duduk disamping mommynya terlihat semakin pucat.


''mommy, kumohon bertahanlah''


''aku yakin, tidak lama lagi kakak lexa akan menemukan kita''


ucap alice yang menggosok tangan mauren agar merasakan sedikit kehangatan.


mauren hanya tersenyum tipis mendengar suara ucapan putrinya.


Disisi lain


Pria itu mendenggus ketika tidak menemukan siapapun.


"bukankah alat itu menunjukkan keberadaan mereka disini"


tristan mendesis tidak senang, rahangnya tampak mengeras


"apa kalian sudah memastikannya dengan benar"


pria itu berteriak dengan penuh kemarahan


hingga mereka dikejutkan ketika sesuatu yang terlihat terlempar tepat dihadapan mereka.


"ohh ****"


umpat tristan ketika menyadari benda apa itu


"tutup mata dan hidung kalian"


teriaknya, dan selang beberapa detik kemudian asap pekat terlihat mengepul, membuat mereka terbatuk batuk beberapa saat


Dor Dor


tristan kembali mengumpat, ia benar benar tidak menyangka jika tangan kanan alexa begitu gesit ketika melakukan penyerangan.


dengan cepat ia mengeluarkan senjata miliknya. menarik pelatuk kemudian menembak secara acak.


"ohh shitt"


tristan leon dan anggotanya yang tersisa bergerak dari posisi mereka, bersembunyi dibalik pohon kemudian menajamkan mata mereka, memperhatikan sekitar.


mata tristan menyipit ketika melihat kini mereka hanya berjumlah lima orang. dan detik kemudian tristan bergerak cepat dari tempatnya ketika menyadari sesuatu bergerak kearahnya.


Slasss


Pak


''sial''


ia mengumpat ketika melihat sebuah anak panah tertancap di sampingnya. bisa dia pastikan jika saja dirinya tidak bergerak dengan cepat anak panah itu telah menancap di wajahnya.


"berpencar, pastikan kalian menemukan gadis itu, aku yakin gadis itu tidak jauh dari sini''


perintah tristan di earpice miliknya.


Di sisi lainnya


Rasa panik semakin melanda gadis kecil itu, berulang kali ia berdoa, berharap kakaknya segera datang .


ia sesekali mengintip, tubuhnya semakin bergetar ketika melihat para musuh lainnya kini telah berpencar mencari keberadaan mereka.


ditengah rasa panik yang menerjang gadis kecil itu, sebuah ide yang cukup menakutkan terlintas dibenaknya


"mommy tunggu disini, jangan keluar apapun yang terjadi ok"


mendengar apa yang dikatakan putrinya membuat mauren dengan cepat menggeleng.


"kau mau kemana, jangan gila alice, vektor meminta kita untuk tetap disini"


mauren menolak, ia bisa menebak apa yang akan dilakukan alice. dengan erat ia menggenggam tangan putrinya itu.


"mommy, jika kita tidak berpisah mereka akan menemukan kita berdua, aku mohon"


pinta alice dengan memelas, ia tidak bisa memikirkan cara lain. otaknya terasa buntu saat ini.


ia juga takut menjalangkan ide itu.namun membayangkan jika orang tersebut menemukan dirinya dan mommynya adalah sesuatu yang lebih buruk lagi.


"maafkan aku, mommy"


ucap alice pelan, kemudian memukul tengkuk mauren dengan kuat hingga membuat wanita parubaya itu pingsan.


Bugg


"aku mohon maafkan aku, mommy"


ucapnya pelan yang kemudian mencium kening wanita yang menyayanginya itu.


"kakak, aku harap kau segera datang menjemput kami"


batin alice penuh penuh harap, ia kemudian berjalan dengan pelan agar pergerakannya tidak di dengar oleh musuh. beruntungnya cuaca dan kondisi sekarang seolah mendukung mereka.


dimana awan yang begitu gelap ditambah saat ini mereka tengah berada di hutan yang begitu lebat membuat orang merasa sulit menajamkan penglihatan mereka.


alice yang merasa tempatnya telah jauh dari posisi sebelumnya. menghembuskan nafasnya pelan, ia kemudian mengintip memperhatikan keberadaan mommynya dari jauh.


dan tepat disaat ia melihat seseorang yang kini berjalan mendekati tempat dimana mommynya berada membuat alice bergetar dibuatnya


"tuhan, kumohon bantu aku"


batinnya


"arghhhhhhh"


alice berteriak seolah penuh ketakutan, berusaha mengalihkan pandangan para musuh agar mendekat kepadanya.


"arghhh ular, tolong"


Alice kembali berteriak, ia seketika tersenyum tipis ketika melihat musuh yang tadinya berjalan mendekati posisi persembunyian mauren kini berbalik kearahnya.


ketika merasa rencananya berhasil, alice memilih lari untuk saat ini, berlari tanpa tau arah. membiarkan para musuh mengejarnya dari arah belakang.


namun sekuat apapun ia berlari, jelas saja kecepatan dari musuh yang mengejarnya lebih cepat, membuat dirinya menerima hantaman keras ditengkuknya hingga membuat dirinya tidak sadarkan diri