
"Tuan apa kau tidak mau makan? "
Putih menatap gadis yang sedang berbaring di bawah pohon taman Academy
Silvia membuka matanya, dan duduk menatap Harimau putih yang berdiri di depannya.
"Emmm? Aku tidak nafsu kecil"ujar Silvia dan akan berbaring lagi, namun dia tidak jadi
Namun Silvia merasa ada orang lain didekatnya.
Silvia langsung berguling, dan menarik pedangnya, mengarahkannya ke sebuah leher jakung
Mata Silvia melotot kepada pria didepannya
"Apa anda kurang kerjaaan? "ujar nya dingin
Pria itu menaikkan alisnya sebelah
"Pekerjaan ku adalah menemani istriku"
"Siapa yang istrimu HAh! "kesal Silvia ingin meninjunya
Hap
Pria itu langsung menangkap tangannya dan memutar tubuh Gadis itu
"Ukkkhhhh"hidung silvia menabrak dada kokoh pria itu
"Kau harus ingat, nama suami mu itu Sanats dan bukan KAU"
Sanats memberikan senyum tampannya, Wajah Silvia memanas saat diberi senyum seperti itu
"Kau... Sanats aku tidak pernah menerima Lamaran mu"
"Bukankah Cincin itu tanda Nya"
Kesal, Silvia mengangkat tangannya yang terpasang cincin yang sangat indah.
"Ini? Kau memaksaku memakainya, dan ku minta kau mengambilnya"
Sanats menggelengkan kepalanya, menolak
"Aku tidak pernah mengambil apa yang sudah ku berikan, dan juga apa itu buruk menikahiku? "senyum bangga terpampang di wajah Sanats
"Aku tidak menerimanya! "
Silvia langsung mengeluarkan Aliran Listrik dan langsung memegang tubuh Sanats
"Akhh"
Melihat pria itu sakit, Silvia langsung melompat mundur, dan memakai posisi siaga.
Mengarah pedangnya pada Sanats dengan tatapan tajam
"Aku tidak akan pernah bersama pria manapun...... Karna Hatiku sudah dimiliki. Dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah memberikan hatiku pada pria lain"
Mendengar hal itu, sanats merasa ada perasaan senang, namun ia berfikir seharusnya ia merasa marah kan?
Tapi jantungnya berdebar saat mendengar pengakuan gadis itu
"Sia...pa? "suara pria itu bergetar
Silvia pikir itu karna ia malu
"Dia adalah Rekan ku dalam hidup ini, Pria yang ku sukai. Qiqi"
Mendengar nama 'Qiqi'dari mulutnya sendiri, silvia merasakan sakit di dadanya, Pria yang ia sukai sudah pergi, bukankah artinya ia harus hidup sendiri.
"Bukankah ia sudah Tiada? Apa salahnya bersamaku? "
Sanats menepiskan perasaan bahagia nya yang aneh itu
Mata silvia melebar, dan ia menatap Sanats dengan tatapan sedih, namun marah lebih mendominasi
Sanats merasa bahwa aura gadis itu sangat pekat, ia melihat Api Hitam dengan campuran emas mengelilingi silvia di tengah.
Sanats baru pertama kali melihat dalam hidup nya seorang dengan kemampuan yang sangat kuat seperti Silvia, Aura mendominasi dari gadis itu membuat Sanats merasa pemandanga ini sangat akrab.
"PERGI! Jika kau masih ingin hidup"suara Silvia sangat dingin.
Axel langsung muncul tepat di depan sanats melindungi Pria itu
Berbalik, axel berbicara pada sanats
"Tuan apa kita akan melawannya? "tanya Axel pada Sanats
Sanats memegang Bahu axel dan menggelengkan kepalanya
"Tidak. Dia Istriku"
Sanats melangkah ke depan dan mereka berdua saling berhadapan.
Silvia baru fokus sekarang merasa bahwa pria yang berdiri didepannya memiliki aura yang lebih kuat dari pada ia.
"Aku akan pergi, Namun Silvia aku betul mencintaimu"
Silvia merasa sakit saat ia melihat tatapan sendu pria itu, dan melihat pria itu berbalik pergi, Silvia tanpa sadar air matanya menetes
Ia mengusap air matanya, dan entah kenapa perasaan sakit ini tiba-tiba muncul.
Putih berjalan kearah Silvia dan mengusapnya bulunya
"Tuan aku merasa bahwa ada memiliki ikatan dengan pria itu"
"Ikatan? "tanya silvia
"emmm. ikatan yang terjalin antara jiwa kalian"
Silvia menggelengkan kepalanya
"Aku cuma punya 1 orang yang mengikat jiwa kami, tapi ia sudah tiada"ujarnya
"Lalu? Tuan ikatan jiwa itu tidak pernah ada kalau anda berdua sendiri yang membuatnya"
"Maksudmu?"
"Tuan apa anda tidak tau bahwa ada kisah dimana jiwa roh seseorang berpindah dan kembali ke tubuhnya lagi"
"Ap-a tidak mungkin"
Putih menatap wajah pucat gadis itu dengan sendu, ia merasa takdir cinta tuannya sudah muncul, hanya saja gadis itu masih menolak menerimannya.
Tbc
Silvia diberikan libur dari sekolah selama sebulan penuh.
Karna ia sudah berhasil mengikuti Turnamen bergensi, ia diberi Hak istimewa di sekolah.
Silvia tentu saja menerimanya, apalagi beberapa hari ini ia mengalami bad mood
Diluar sekolah Sudah di siapkan Kereta yang berlapis kristal biru menunggu kedatangannya.
Beberapa murid juga melihat kereta itu, dan takjub, mereka semua berasak dari keluarga bergensi namun mereka tidak memiliki Kereta mewah berlapis kristal itu.
Silvia datang sambil membawa tas miliknya. Disamping Gerbong kereta, pelayan sudah menunggunya, Pelayan bertelinga kelinci.
Semua Orang sekali lagi heran dan penasaran, siapa sebenarnya identitas Anak Duke yang dikatakan Jelek dan hanya anak Haram itu.
Sampai ia bisa menerima Hewan tingkat 9 sebagai pelayannya, apalagu Beast Legends juga tungangannya.
"Selamat Datang Kembali Yang Mulia"
Hormat Pelayan itu pada Silvia
"Em"
Setelah itu, silvia melangkah ke arah gerbongnya, Pelayan itu membantu Silvia untuk naik.
Kereta itu tanpa Kusir, jadi setelah Silvia naik kereta itu langsung berjalan.
Semua orang masih melihat kereta itu, sampai menghilang dari pandangan mereka.
Dalam Kereta di hiasi dengan Sofa besar pas untuk ia tidur, dan sudah tersedia Cemilan kesukaannya.
Menyanggah kepalanya, Silvia melihat pemandangan dari Luar jendela.
Srrriinnngggg
Tersenyum, Silvia tau bahwa ada orang yang mengikutinya, Namun ia tidak mengusirnya, Karna ia ingin tau apa tujuan orang itu.
"Yang Mulia sepertinya ada yang mengejar kita"
"Biarkan Saja"
Silvia kembali memejamkan matanya,
Tiba tiba kereta miliknya berhenti, Silvia menyimpulkan bahwa orang itu sudah menghadangnya.
Suara langkah kaki melangkah kearah samping pintu keretanya, Silvia hanya menutup matanya, Namun Api hitam emasnya sudah berada di sekitarnya melindungi gadis itu.
Pintu terbuka.
"Via~"suara serak seorang pria membuat Silvia membuka matanya.
Matanya melebar, dan tanpa menunggu, ia langsung melempar dirinya memeluk pria itu.
"Kakak~I Miss You Brother"ujar Silvia senang.
Arga merengkuh tubuh adiknya dengan erat, Dia rindu ehhhh.
"en. Kakak juga, Silvia sudah bertambah tinggi yah"pujinya.
Silvia hanya terkikik mendengar hal itu.
Arga masuk ke dalam kereta, dan mereka berdua asik bercengkrama.
"Kakak bisa disini? "
"Tentu saja. Adik kakak sangat hebat menang dalam Turnamen, mana mungkin kakak melewatkan bertemu dengan adik manis kakak ini"
Arga tau adiknya terlihat tersenyum pada mereka saja Ayah dan kakaknya, namun ia tau di dalam hati gadis ini ada luka yang sangat sakig tanpa obat, kehilangan Qiqi membuat gadis itu menjadi lebih dingin, namun ia masih bisa tersenyum bbahaia padanya itu sudah keajaiban baginya.
Mengelus surai adiknya, Silvia mengingat masa kecil mereka, dantanpa sadar tertidur.
Dia tertidur di pangkuan arga dengan damainya.
Tbc