
Seminggu Kemudian....
Turnamen Antar Sekolah akhirnya tiba
Para Penonton membuat Seluruh Arena pertandingan penuh
Tiap sekolah mengizinkan semua murid mereka yang ingin menunjukkan bakatnya untuk naik.
Begitu pula Academy Thorns, Mereka sudah memilih Silvia ,Suya dan Nicholat sebagai Perwakilan mereka.
Mengapa ketiga orang itu?
Pertama, Bakat Mereka adalah yang paling menonjol selama di akademik
Kedua, Mereka memiliki Kemampuan untuk terpilih.
Sejak kedantangan Suya, mata para pria sudah menatapnya terpesona, apalgi dengan rambut gelombang indah miliknya membuatnya terlihat seperti duyung yang duduk di pinggir batu
Seperti Nicholas, Sebagai Putra Raja, ia juga menjadi tatapan wanita karna ketampanannya
Kedua orang itu menjadi objek pemandangan semua orang kagum.
Beda dengan Silvia, walau ia memakai tudung banyak yang penasaran dengan nya
Silvia berdiri dengan pedang merah miliknya serta pedang hitam miliknya di pinggang nya
Banyak para Ksatria dan murid lain menatapnya, fokus mereka kearah pedang gadis itu.
Masing-masing pedang mengeluarkan Aura mencekam membuat penindasan yang rasakan semua orang.
Karna Nic dan Suya pergi ke balai Pengobatan, Silvia hanya sendiri.
Para penonton melihat dengan tawa menghina, mereka semua menyimpulkan bahwa gadis ini akan jatuh.
"Perwakilan Academy Thorns. Peserta Silvia menerima pertandingan ini atau mengalah! "suara Mc terndengar.
Silvia melangkah naik kearah Arena pertarungan, Jubah Putih nya terbawa angin dan Tudungnya hanya menampakkan wajah yang di tutupi topeng gadis itu.
Hanya Dagu dan bibir merah muda tipis yang menggoda bisa dilihat.
Kerumunan akhirnya pecah
"apakah ia benar-benar akan bertarung sendiri? "
"dia gila apa! "
"Apakah wajahnya jelek sampai harus memakai topeng itu? "
"matanya saja tidak terlihat, apa topeng itu sangat tebal? "
"dia berani melawan iblis dari safire? "
"dimana teman-teman nya apa mereka takut? "
"apa dia cukup kuat bertahan dalam 5 detik? "
Bisikan di tempat para penonton, meremehkan akan kemampuan Silvia, Tapi gadis itu masih acuh pada situasi.
"Apakah Perwakilan Safire Siap? "tanya Mc
Turnamen ini sebenarnya di lakukan dengan semua petarung masuk ke arena dan siapa pun yang bisa bertahan adalah pemenangnya.sadis memang.
"Kami Siap!"ujar mereka semua
Jumlah mereka ada ratusan, sedangkan Silvia hanya sendiri.
Leon menatap gadis itu, keberadaannya seakan cahaya di tempat gelap, kehadiran tidak bisa di abaikan.
Ia sangat ingin menghancurkan topeng jelek itu, ia ingin melihat seperti apa anak pungut Duke itu.
"apa academy thorns sangat takut yah? Dia hanya mengirim seorang gadis kecil melawan kami hahahahah"
"Ini... Bukankah tekanan sihir gadis itu sangat seram"takut seorang pria.
"Aku Siap! "ujar Silvia dan membuka jubah putih miliknya.
Mata dan tubuh semua orang membeku, mereka menatap gadis seorang diri itu di arena dengan kaget
Mereka kira penampilan luarnya biasa atau sangat jelek tapi, gadis itu sangat memukau, walau topeng masih menutup wajahnya.
Gaun merah Silvia sampai siku miliknya, jadi kaki nya yang indah terlihat.
Rambut Pirang emasnya di ikat menjadi satu, dan itu memperlihatkan leher jenjang nya yang putih dan mulus.
Gaun merah membara gadis itu membuatnya terlihat seperti seorang ratu yang sangat kuat.
Namun mereka semua merasa bahwa ada gadis itu sangat misterius namun kuat.
Mereka merasa bahwa Rambut itu seperti rambut yang dirumorkan sama milik penguasa Gunung Suci yang jelek.
Mereka membayangkan bila penguasa Gunung suci itu adalah gadis diarena mereka pastinya akan cepat pergi melamarnya, namun mereka tau identitas gadis itu hanya seorang Anak Pungut Duke.
"Kalian semua bisa maju, aku terlalu malas berdiri lama"ujar Silvia
Wajah semua lawanya memerah malu, dan juga tangan mereka mengepal,
Gadis ini sangat sombong.
Karna amarah, mereka semua naik dan mengeluarkan semua senjata dan tungangan mereka.
Suasana perang dan haus darah bisa dirasakan oleh semua orang.
Silvia menyungginkN senyum sinisnya .
Leon sedari tadi merasa bahwa gadis itu sangat aneh.
"Leon ayo kita habisi wanita sombong itu"ujar salah satu teman timnya.
Leon menganggukan kepalanya dan mengeluarkan pedangnya, iamemanggil ular piton api miliknya.
Sssssssssssss
Desisan ular itu membuat para penonton merinding.
"Ular Piton tingkat 5 "kagum semua orang
Leon mengangkat dagunya sombong, dan menatap gadis disebrangnya dengan angkuh tapi di abaikan.
"Apa kau takut sampai kau tidak mengeluarkaan Hewan mu! "teriak leon dan diikuti tawa semua orang.
Silvia melangkah secara santainya, dan ia mulai mengambil kedua pedangnya dan menganyungkannya secara Santainya.
"SERANG! "
Ratusan murid mulai maju berlari dan mengangkat senjata mereka menyerang gadis itu.
"Ck. "decih Leon saat melihat gadis itu di kepung.
Namun, baru saja ia akan menertawakan gadis itu, namun tubuhnya membeku saat melihat semua rekannya terbang terlempar ke semua sudut arena dengan luka tebasan dan babak belur pada wajah mereka.
"Heehhhhh aku sudah jijik dengan wajah kalian, masih tampan kakakku"
Memdengar suara gadis itu, leon merasa marah, jadi kenapa wajah rekannya babak belur karna gadis itu Jijik?
"Sekarang kau"dingin Silvia dan melangkah dengan santainya le arah leon.
Semua penonton merasa perubahan adengan ini sangat mmemuat Mereka terkejut kelewat batas.
Tbc