THE COLD GODDESS

THE COLD GODDESS
42



Leon merasa ini seperti Malaikat maut datang secara perlahan ke arahnya.


Suasana di sekeliling Silvia sekarang sangat gelap dan dingin.


Rambut emasnya terbang terbawa angin, dan gaun merahnya terkena sinar matahari, membuat gadis itu sangat memukau


Leon sempat lupa untuk menyerang, ia terlalu terpesona


Kedatangan gadis itu ia baru sadar saat Silvia sudah menganyungkan pedangnya akan menibas dadanya jika ular milik leon tidak menarik kerahnya.


Mata leon melebar saat melihat jejek tebasan pedang itu berbekas di tanah arena.


"Mana mata  yang kau gunakan. Untuk menatapku tadi heeeee"suara gadis itu sangat dingin.


Leon bergetar dan  ia tanpa sadar mundur.


Ular merah leon langsung mendesis  dan menyerang ke arah Silvia.


"Habisi dia  Putih"titah gadis itu dengan suara lembut


Secercah cahaya langsung keluar dari Permata dan semakin besar.


Tubuh leon dan ularnya membeku.


Di depan mereka, saat cahaya berangsur menghilang, sesosok Harimau putih dengan kepala berbulu singa dan tubuh belang hitam mirip Harimau muncul.


Aura Putih menekan ular itu, dan kaki besarnya langsung menginjak tubuh malang kecil ular tersebut.


"Uhukkkk.. "leon memuntahkan seteguk darah saat ular nya juga mulau terljka parah.


"Masih Kuat? "tanya silvia dan memasukkan kedua pedangnya kembali.


Mata leon memerah menahan amarah, sedangkan para penonton menatap takjub hewan miliknya berdiri gagah.


Mereka semua mengira bahwa gadis itu lemah dan hanya sombong. Tapi apa ia mengalahkan semua orang hanya seorang diri.


Dan juga hewannya sangat hebat apaalgi tipe legend.


Tubuh para penonton mengigil. Mereka semua menyimpulkan bahwa gadis itu sangat kuat. Dan kejam.


"Aku menyerah! "suara leon sangat lemah.


Silvia tersenyum penuh kemenangan dan


Mc mulai bicara


"Pemenang Turnamen, Silvia Belix Ophelia dari Academy Thorns"


Tepuk tangan meriah bergema di arena.


Semua guru dari sekolah sama bertepuk bangga dan senang, sedangkan kepala Yamu menatap intens sosok Silvia sedari tadi.


Merasa ada yang menatapnya, Silvia berbalik dan menengok ke atas.


Mata mereka bertemu.


Yamu akhirnya langsung membeku saat Ia melihat sesosok seseorang yang mirip dengan Silvia, seakan bayangan orang itu berdiri di samping gadis itu.


Yamu menatap Silvia dengan tatapan terkejut


Itu Dia.


Yamu melihat bayangan gadis cantik dengan rambut emas  ,dan mata Merah emas kuning mirip dan berdiri disampkng Silvia.


"Lina"gumam Yamu.


Silvia membaca gerakan mulut Yamu dan kerutan muncul.


Siapa Lina? Mirip dia?


Silvia menerima piagam, piala, dan juga berbagai hadiah mahal nan langka.


Silvia langsung menyimpannya di cincin miliknya.


Dan saat ia akan turun, ia bertemu Suya dan Nic.


"Silvia ini semu salahmu!kau membuatku malu! "teriaknya.


Putih langsung berdiri didepan silvia menjaganya


Ggrrrrrrrrr


Geraman marah putih membuat tubuh suya membeku dan memeluk erat nic di sampingnya.


"Anjing yang baik tidak akan menghalangi jalan"


Silvia melanjutkan langkahnya, saat sebuah bola air dengan cepat menyerangnya.


Silvia berbalik mundur dan mengeluarkan Sihir Tanahnya membentuk prisai.


Bbboooommm


Semua penonton menatap arena heran, kenapa sesama murid sekolah saling menyerang.


"Mati Kau ******! "


Suya langsung melemparkan bola Airnya yang dengan jumlah besar, di mungkinkan akan membunuh silvia.


Bbbboooommmmmm


Ledakan besar terjadi, Putih tidak sempat melindungi tuannya, dan juga Suya menatap ledakannya dengan bahagia


"Hahahahahha MATI KAU ******! "tawanya menyeramkan.


Saat Asap mulai hilang, sesosok pria sedang memeluk seorang gadis dalam dekapannya.


Mata semua penonton melebar


Sedangkan Silvia, merasa bahwa ada orang yang menarik pingangganya dan memeluknya dengan erat didadanya, wajah gadis itu memerah.


Namun ia membeku saat mencium bau yang akrab, Bau qiqinya. Menengok keatas, ia melihat dagu milik pria itu, dan bayangan Qiqi muncul.


"Qi.... Qi? "panggilnya gugup.


Namun saat pria itu  menunduk menatapnya, barulah Silvia menatapnya kaget.


Bukan


Bukan


Bukan


"Siapa Kau? "


Tbc


"Siapa Kau! "suara dingin Silvia membuat pria yang memeluknya menegang


Pria itu mengenakan Kain Hijau daun, dengan rambut panjang nya di ikat dengan rapi.


Silvia entah kenapa merasa bahwa mata emas Pria itu membuatnya teringat Qiqi.


Silvia buru-buru melepas pelukan antara mereka berdua.


Tatapan dingin gadis itu sangat tajam


Pria itu, Sanats, menegang, ia merasa bahwa seharusnya bukan tatapan itu yang ia terima, Mungkin harusnya tatapan sayang gadis itu.


Sanats langsung muncul, saat ia melihat bahwa gadis itu hampir saja terkena serangan besar yang menuju kearahnya.


"Kau Siapa Tuan! menjauh lah dari ku" setelah mengatakan itu, Silvia melangkah ke arah Suya.


Suya merasa bahwa ia membeku, tak bisa bergerak, saat ia melihat tatapan mata sedingin es itu, Ia tanpa sadar melihat dewa kematian melangkah kearahnya.


"Kau.seharusnya.tidak.menganggu.batasanku"suara Silvia sangat dingin.


Yamu menatap gadis itu dengan perasaan akrab, ia seakan melihat Lina, gadis hebat yang sangat melegenda itu beraksi lagi.


"kau.... Kau.... Menjauh dariku?!"ujar Suya gugup.


Silvia, langsung mengangkat tangan kanannya


Api hitam dengan emas muncul  dari tangan gadis itu


Semua orang menelan air liur mereka gugup dan takut.


Api Hitam adalah ciri khas Klan Darah Murni yang membentuk Benua, dan juga Klan itu sangat langka.


Yamu berdiri dari tempatnya ingin menghentikan gadis itu.


Tapi ia kalah cepat dengan lemparan Silvia yang selalu tepat sasaran saat berurusan dengan bola apinya.


Wwuwuuuuusssshhhhhh


Api itu sangat cepat, mengarah langsung ke arah  Suya.


"HENTIKAN! "teriak seorang pria.


Silvia langsung mengedipkan matanya, dan api hitam emas itu hilang. Berhenti dekat dengan wajah Suya sangat dekat, Suya langsung pingsan.


Silvia langsung mengangkat kepalanya dan menatap podium atas, disana  seorang pria dengan Pakaian khas Raja, dengan warna biru berdiri dan menatap nya marah.


Pria itu, Raja Aquamaris, marah menatap Silvia karna hampir membunuh putrinya.


Raja itu tau kalau Api itu sangat mematikan.


"Kau! BERANINYA KAU MENYAKITI PUTRIKU! "teriaknya dan langsung melompat dan menghampiri Suya.


Silvia tidak gentar dan hanya menatapnya acuh


Melipat kedua tanganya, Silvia menatap Raja itu dengan jijik


"Heh.. Lalu kenapa? Putri anda yang duluan memulai menyerang saya, Jadi saya harus  menerimanya saja? Tidak melawan? KAU PIKIR AKU BODOH! "suara tinggi Silvia sangat dingin dan penuh dengan tekanan wibawa seorang penguasa.


Raja itu marah akan penghinaan. Itu, ia akan menyerang Silvia, namun tubuhnya membeku saat melihat saat Pria di belakang gadis itu.


Tubuh raja itu membeku dan ia merasa bahwa Tatapan pria itu sangat mematikan lebih mematikan dari pada gadis itu.


Sanats melangkah dan langsung berdiri didepan Silvia


"berani kau menyentuhnya. Kerajaan mu hancur"ancam Sanats.


Tubuh raja dan semua orang mematung akan  momentum pria itu.


Silvia menatapnya heran, kenapa ia melindunginya? Mereka tidak kenal?.


Silvia hanya menatapnya sebentar, dan langsung berbalik menghilang dengan sihir anginya.


Sanats merasa jengekl dan kesal saat melihat bahwa gadis itu menghilang.


Hei dia disini agar gadis itu melihatnya oke?


Sanats juga berbalik dengan kesal dan menghilang.


Semua orang akhirnya bisa bernafas lega.


SYUKURLAH!


TBC


Udah mau di tamatin ngak?


Lanjut buku selanjutnya.....?