THE COLD GODDESS

THE COLD GODDESS
B40



Sanats dan Axel sedang berjalan di sebuah pasar dimana disana kebanyakan adalah orang yang menjual atribut sihir


Sanats dan Axel menyamar dengan memakai tudung,  menutupi Wajah mereka.


Sanats menggunakan pakaian Putih dan jubah putih.


Sedangkan Axel, menggunakan warna hitam, Sangat kontras bagi mereka berdua.


Kedua pria itu akhirnya singgah di sebuah Kedai Teh 


"Yang Mulia? Kenapa kita pergi ke sini? "tanya Axel menatap Tuannya dengan bingung


"Hanya merasa ada yang menarikku disini"


"Menarik anda? Seseorang atau atribut? "


"Seseorang. Seorang Gadis. Dan ku yakin dia ada disini"


Mata Axel melebar mendengar bahwa tuannya mencari seorang gadis


Apa dia nyonya barunya?


Bagaimana tuan dan gadis itu bertemu?


Apa dari mimpi?


Kening Axel berkerut, dan hanya bisa menghela nafas.


Tiba-tiba  orang -orang di kedai mulai berisik, hingga Axel juga ingin tau apa yang di ributkan oleh pelangan pelanggan itu.


"Wahhhh liat gadis berjubah putih itu, sangat cantik, tapi kenapa ia memakai tudung? "


"Husss darimana kau tau ia cantik Hah? Mungkin saja wajahnya hancur sampai harus menutupi ya! "


"Heii bodoh, liat saja bentuk tubuhnya dan bibirnya yang indah, pastinya itu cantik! "


"Humppt palingan Putri Kiran yang cantik"


"Mana ada yang cantik itu tunangan putra mahkota, putri Suya"


"Tapi liat dulu, gadis berjubah putih itu, sangat mencolok! "


Axel akhirnya mengetahui bahwa orang-orang bodoh ini sedang membandingkan kecantikan seorang gadis.


Axel pun ikut mengintip kearah jendela kedai, dan matanya melebar saat ia langsung fokus pada seorang yang mengenakan jubah Putih dengan garis-garis emas


Walau memakai tudung, Axel bisa merasakan tekanan orang itu cukup kuat dan juga pakaiannnya bukan dari bahan biasa


Dan melihat gaya pakaiannya seperti di buat oleh tangan ahli, tapi kenapa Axel mengira bahwa Pakaian gadis itu, sangat cocok dengan pakaian tuannya


Melihat Tuannya menikmati teh, dengan santai dan tenangnya, aaxel mengubris pikirannya dan fokus menatap gadis itu


Silvia hari ini keluar untuk berjalan-jalan, ia hanya seorang diri karna ia tidak suka mendengar celoteh orang lain.


Putih berada di Senjata Pedang milik gadis itu, Pedang nya sangat istimewa karna mampu menyimpan hewan di dalamnya. Jadi Putih bisa menjaga Tuannya


Penampilan  nya hari ini, mirip dengan seorang Ksatria bertopeng berjubah putih dengan pedang miliknya yang memberikan aura mengesankan


Walau ia seorang gadis, tidak khayal ada juga gsdus-gadis yang memerah melihatnya.


Penampilan Nya di sembunyikan jubah miliknya


Ia belum pernha memperlihat kan wajah, dan rambut miliknya, ia tak ingin membuat masalah.


Silvia berjalan dengan santainya, melihat-lihat berbagai jualan  ,ia tertarik pada manisan, Puding Gula.


"Gadis manis ingin puding? "tanya nenek penjual


"Em. Tolong bungkus 5 nek"


Nenek itu pun memberikan bungkusan puding Silvia


Gadis itu melanjutkan langkahnya ke arah  Kedai, tempat Sanat dan Axel sedang duduk juga


Pelayan perempuan maju dan bertanya padanya


"Pesan apa Tuan? "


"Teh Hijau 1"


"Baik akan segera saya antarkan"


Silvia memilih duduk di lantai atas, dan tempatnya berada di samping kedua pria itu.


Axel menatap sedari tadi kedatangan gadis itu


"Tuan. Apakah menurut anda gadis di samping cantik"bisiknya


"Ukhhh Tuan Liat dulu...... Oh... Dia membuka tudungnya.... Tuan liat! "semangat Axel saat Silvia membuka tudung kepala miliknya


Rambut pirang emas miliknya berkilau di terpa cahaya, dan untungnya ia membukanya saat pelayan sudah mengantar pesanannya


Ia kira hanya dia disini, namun ia tak sadar ada dua pria di sampingnya yang terhalang oleh layar


"Emas.... Rambut pirang emas! "Mata Axel melebar


Sanats yang sedari tadi tidak tertarik, tiba-tiba merasa bahwa warna rambut itu seakan Familiar


Karna kekuatannya ia bisa melihat penampilan gadis itu dari layar.


Deg


Tubuhnya membeku, hatinya terasa memompa dengan cepat, perasaan  rindu, dan sedih merayap ia rasakan.


"Ada apa Yang Mulia? "tanya Axel melihat raut wajah sanats yang berubah


Sanats mengabaikannya, ia hanya fokus memperhatikan gadis itu.


Rambut itu, mirip seperti mimpinya. Namun ia masih ragu bila tak melihat matanya.


Dimimpinya terakhir, mata penuh air mata dan rasa sedih yang ia lihat.


Silvia mulai membuka kotak puding dan melahapnya bahagia


Hanya ini momen dimana silvia menunjukkan sikap seorang gadis kecilnya.


"Manis~nya tapi lebih enai buatan.... Qiqi"


Saat mengingat rubah itu, Silvia tanpa sadar meneteskan air mata.


Ia dia masih tidak bisa melupakannya


Orang yang selalu bersamanya.


Orang yang menjadi Cinta pertamanya


Yah gadis itu menyukai rubah nakal itu, hanya saja ia telat mengungkapkannya.


Qiqinya pergi.


Perubahan emosi gadis itu bisa di rasakan oleh kedua pria itu


Axel menyanggah wajahnya


"Aneh... Gadis itu tadi ceria, tapi sekarang murung"


Sanats merasa sakit di dadanya melihat air mata itu menetes, seakan ia ingin maju dan menghapusnya


Ia merasakan keterikatan dengan gadis itu.....


Dia memutuskan


Bahwa


Ia


Ingin


Gadis itu.....


Menjadi Istrinya, pendampingnya.


Seakan Melihat ia tersenyum Sanats bisa puas, melihat ia bersedih Ia merasa tertekan dan sakit.


Apakah ini yang dinamakan cinta pandangan pertama?


Tapi Sanats merasa ini bukan pertama kali ia melihat gadis itu, seakan mereka sudah lama bersama.


"Tuan? "


"Cari tau identitas gadis itu untukku"


Axel menatap tuannya kaget


Apa dia benar penguasa alam atas yang kejam dan dingin?


Yang tidak suka di sentuh lawan jenisnya?


Sejak kapan tuannya menjadi sadar bahwa ia tertarik pada perempuan?


"Baik. Yang Mulia"


Bersambung.....