Sweet Curse

Sweet Curse
Cinta



Setelah bel istirahat berbunyi Wendy dan Zoya langsung menghampiri Lisa lebih dulu. "Mau pergi ke kantin bersama?"


"Mau banget, tapi apa boleh nanti aku nggak duduk bersama kalian? Aku belum sempat berpamitan dengan temanku."


"Tentu saja." Balas Zoya penuh senyuman. "Kamu bisa memanggilku Zoya."


Lisa mengangguk mengerti. "Kamu bisa memanggilku Lisa." Lalu mereka berdua menggandeng tangan Lisa. Saat mereka sudah dekat dengan pintu tiba-tiba saja Juna mengatakan sesuatu.


"Kerja bagus." Ucapnya sebelum keluar lebih dulu mendahului mereka.


"Woah.. kamu dengar barusan?" Tanya Zoya tak percaya. "Katakan dengan jujur, kamu punya hubungan apa sama Juna." Desak Zoya pada Lisa.


"Kami tidak ada hubungan apapun. Kami cuma berada di klub yang sama." Jelas Lisa, karena memang benar mereka sama sekali tak memiliki hubungan.


"Kamu juga bisa taekwondo?" Wendy cukup terkejut ternyata Lisa tak hanya pandai dalam bidang akademis.


"Aku masih pemula. Ngomong-ngomong apa nggak pa-pa kalau kita nggak dia juga?" Tunjuk Lisa pada seorang siswi yang masih di dalam kelas.


"Cinta maksumu? Biarkan saja dia. Sekarang ini keliatannya dia sedang kesal." Jelas Zoya.


"Kesal kenapa? Apa nilai ujiannya turun? Atau jangan-jangan dia nggak suka aku bergabung disini?"


"Tepat sekali. Sebenarnya anak-anak sudah tahu kalau Juna sempat membelamu di ruang guru. Kamu tahu Cinta itu sangat menyukai Juna, karena itu sepertinya dia melihatmu sebagai saingannya. Apalagi melihat perbedaan perlakuan yang kalian dapat dari Juna."


"Sepertinya aku harus meluruskan hal ini."


"Untuk apa? Toh Juna dan Cinta juga nggak ada hubungan sama sekali."


"Tapi aku nggak ingin dia salah paham kepadaku."


"Kamu anak yang baik." Puji Wendy. Membuat wajah Lisa memerah karena malu.


Setelah sampai di kantin, mereka memutuskan berpisah sesuai kesepakatan awal. Disana Lisa juga sudah melihat Jeslyn berada di meja bersama teman sekelasnya yang lain.


#


Juna memberikan hasil lembar jawaban Lisa yang sebelumnya dikerjakan di kelas khusus pada kepala sekolah. Sebenarnya orang yang meminta Lisa untuk bergabung ke dalam kelas khusus adalah dirinya.


Bukannya tanpa alasan Juna melakukan hal ini. Dia melakukan semua ini demi Lisa juga. Kepala sekolah bersikeras tak percaya dengan pertemanan keduanya seperti yang Juna katakan.


Untuk membuat kepala sekolah percaya, Juna mengusulkan hal ini. Tapi sepertinya hal itu tidak cukup. Karena Juna sudah memulainya, maka dia akan bertanggung jawab sampai akhir. Dia akan berusaha meyakinkan kepala sekolah bahwa dia dan Lisa memang benar-benar berteman.


"Kenapa kamu terlihat begitu risau?" Tanya kepala sekolah yang melihat raut wajah Juna yang tak fokus dengan keberadaannya sekarang. Ini pertama kalinya dia hilang fokus saat menghadap padanya.


"Saya?" Tanya Juna yang sepertinya tak sadar bahwa pikirannya tengah berada di tempat yang lain.


"Lupakan. Kalau begitu kamu bisa pergi."


Juna membungkuk kecil memberi hormat sebelum pergi.


"Tunggu. Kamu harus pulang hari ini. Ibumu ingin kamu berada di rumah."


Juna menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah kepala sekolah.


"Sayangnya saya tidak bisa pergi hari ini. Dan maaf, dia bukan ibu saya. Saya permisi."


Juna berjalan meninggalkan ruangan kepala sekolah dengan tenang. Keduanya memang seorang ayah dan anak, tapi setelah kepergian ibunya, keduanya tak pernah akur sekalipun.


Bukan hanya tak akur, bahkan Juna tak pernah menginjakkan kaki ke dalam tempat yang mereka sebut rumah itu lagi. Dia tak akan pernah sudi melakukannya.


#


Lisa duduk di sebelah Jeslyn dan menaruh piring makan siangnya di meja. "Nggak begitu buruk. Kelas itu nggak sesuram perkiraanku."


"Sudah jelas kelas itu nggak buruk. Kamu dikelilingi para pewaris keluarga kaya, ditambah mereka semua tampan dan cantik. Kamu sekarang seperti berada di ladang berlian."


Lisa mengangguk setuju. Semua orang di kelas itu memang tampak begitu memukau. Lisa sempat minder sebelumnya jika Wendy dan Zoya tidak mengajaknya bicara dengan santai.


Mungkin bisa dibilang otak mereka sekarang berada ditingkat yang sama, tapi bagaimana dengan kondisi keluarga mereka? Bagaimana bisa anak yang dibesarkan oleh karyawan kantoran dan juga ibu rumah tangga sepertinya bersanding dengan para pewaris tunggal kaya raya.


"Apa menurutmu aku bisa bergaul dengan mereka?"


Jeslyn mengangguk yakin. "Tentu saja kamu bisa. Kalau perlu saat jam istirahat kamu bisa bersama mereka. Tidak perlu sungkan dengan kami." Mawar dan Jihan juga mengangguk setuju.


"Kamu yakin?"


Jeslyn mengangguk lagi. "Lagian, jika kamu berhasil dekat dengan mereka itu akan menjadi jackpot untukmu. Mereka mempunyai banyak koneksi, jadi masa depanmu akan lebih terjamin. Jika kalian sudah berteman, jangan sungkan untuk memperkenalkan mereka kami pada mereka." Jeslyn menaikan alisnya menatap ke arah Lisa.


Lisa hanya mencibilkan bibirnya saat menyadari lapa maksud Jeslyn. "Jadi kamu sedang memanfaaatkanku?"


Jeslyn menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Lisa. "No, no, no honey. Yang kita bicarakan disini adalah soal strategi dan mengambil peluang yang ada. Jadi, semoga berhasil."


"Lupakan soal koneksi. Aku hanya akan berteman dengan mereka jika mereka juga ingin berteman denganku."


"Tentu saja. Itu yang paling penting."


#


Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Lisa memilih kembali ke kelas saja. Dia sudah tidak sanggup lagi mendengar ocehan Jeslyn soal ide-ide gila mendapatkan koneksi. Bahkan mereka masih kelas sepuluh, kenapa sudah memikirkan hal tentang bisnis?


Karena tak tahu harus melakukan apa di kelas Lisa membuka buku tulisnya dan mulai mencoret-coret. Menggambar seekor binatang yang entah apa. Karena Lisa suka binatang, apalagi binatang unik yang mungkin belum pernah dia temui.


"Apa itu panda merah?" Lisa terlonjak kaget saat mendapati Cinta sudah berada di sebelahnya.


"Iya. Bagaimana kamu bisa tahu? Aku hanya menggambarkannya asal."


Cinta menggeleng kecil. "Kamu menggambarkannya dengan baik."


"Terimakasih." Balas Lisa soal pujian Cinta.


"Aku denger kamu dekat dengan Juna."


Benar juga, Cinta suka dengan Juna. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk meluruskan kesalahpahaman ini. "Tidak sama sekali."


"..."


"Kami hanya berteman seperti yang lainnya. Kita satu klub dan aku memintanya untuk mengajariku belajar. Kamu tahu kan dia guru yang baik." Balas Lisa yang masih mengikuti skenario Juna. Sepertinya dia akan menyimpan kebohongan ini sampai mati.


"Tapi Juna tidak akan menerima permintaan orang yang tidak dekat dengannya."


"Tentu saja dia nggak membiarkannya mudah. Kamu nggak tahu seberapa keras aku memohon padanya untuk mengajariku. Dia sangat... Kamu tahu? Sedikit angkuh."


Cinta mengangguk mengerti. Sepertinya dia mulai percaya dengan perkataan Lisa. "Kamu mau berteman denganku?" Ajaknya. Membuat Lisa cukup terkejut saat mendengarnya.


"Tentu saja." Ucap Lisa antusias.


"Baik. Kalau begitu mulai sekarang kita berteman."


#