Sweet Curse

Sweet Curse
Melihat Hantu



Hari sudah sangat larut. Lisa terbangun saat merasakan angin dingin masuk kedalam kamarnya. Ternyata dia lupa untuk menutup jendela kamarnya.


Lisa mengurungkan niatnya untuk menutup jendela saat melihat Juna tengah berdiri di luaran sana. Padahal ini hampir tengah malam. Apalagi angin cukup dingin dan bisa membutnya flu kemudian hari.


"Hey, apa yang kamu lakukan diluar sana?" Tanya Lisa masih dari dalam kamarnya.


Mungkin karena cukup jauh atau karena sudah cukup larut hingga Juna tak ingin berteriak, Lisa tak begitu mendengar jawabannya. Walaupun begitu Lisa senang Juna masih mau menanggapinya.


"Tunggu sebentar, aku akan segera kesana."


Lisa menutup jendela kamarnya sebelum pergi menghampiri Juna. Dia juga menarik selimutnya karena diluar begitu dingin. Lisa membungkus dirinya dengan selimut.


"Apa yang kamu lakukan disini? Apa kamu nggak bisa tidur?" Tanya Lisa duduk disebelah Juna yang terlihat tenang sambil menatap langit malam.


"Sedikit. Aku hanya ingin menghirup udara malam sebentar. Kamu sendiri kenapa belum tidur?"


"Sebenarnya aku baru bangun, hehe... Aku luoa menutup jendela kamarku. Apa kamu nggak kedinginan?" Tanya Lisa sembari mengusap tangannya sendiri. Padahal dia sudah membalut dirinya dengan selimut, tapi angin malam masih saja terasa dingin di kulitnya.


"Mau berbagi selimut?" Tanya Lisa menawarkan. Belum Juna menjawab tapi Lisa sudah membagi selimut padanya.


Merasa tak nyaman harus berbagi selimut. Akhirnya Juna melepas selimut dipundaknya. "Nggak perlu. Anginnya nggak begitu dingin."


Omong kosong. Bahkan Lisa bisa merasakan dinginnya sampai ketulang-tulang. Bagaimana bisa ini tidak dingin.


"Tapi angin malam itu nggak bagus. Nanti kamu bisa jatuh sakit." Kedua kalinya Lisa memaksa selimut itu berada di bahu Juna.


Terserah. Ini sudah larut dan Juna tak ingin membuat keributan. "Kenapa nggak kembali tidur?"


"Kamu ngusir?" Tanya Lisa tak suka.


"Mana ada tamu ngusir pemilik rumah dari rumahnya sendiri?"


"Ya habisnya..." Lisa tak bisa berkata-kata lagi.


Sunyi. Mereka berdua terdiam cukup lama sambil menatap langit malam yang bertaburan bintang.


"Astaga!" Saat tengah sibuk menatap bintang. Tak sengaja Lisa melihat sosok menakutkan di atas pohon yang cukup jauh di seberang jalan.


Refleks Lisa memeluk Juna erat. Apa itu tadi? Tidak mungkin kan manusia berdiri seperti itu di atas pohon tengah malam begini. Tidak salah lagi pasti itu hantu.


"Kamu melihatnya?" Tanya Juna santai. "Tapi sekarang dia sudah pergi.


Lisa mendorong tubuh Juna menjauh. Juna yang di dorong tampak kebingungan. Bukannya Lisa yang datang memeluknya. Kenapa jadi dia yang dapat kekerasan fisik?


Melihat Lisa salah tingkah, Juna tak ingin membesarkan masalah dan membiarkan hal itu berlalu.


"Kamu bisa melihat hantu?" Tanya Lisa tak percaya.


"Iya. Aku bisa melihat mereka dari kecil. Aku nggak tahu kalau kamu juga bisa melihat hantu."


"Aku nggak bisa lihat hantu. Nggak tahu ini kenapa mereka jadi keliatan."


Lisa melirik sedikit tempat dimana hantu tadi berada. "Kamu bohong! Katanya tadi sudah pergi."


"Tadi beneran sudah pergi. Tapi tunggu dulu."


Juna memegang tangan Lisa erat dan ternyata benar. "Ternyata benar."


"Apanya?" Lisa menepis tangan Juna. Kenapa tiba-tiba saja Juna jadi memegangnya tanpa permisi.


"Kalau kita bersentuhan, maka hantu-hantu itu akan pergi."


Mendengar kata 'hantu-hantu itu' Lisa jadi semakin ketakutan karena sepertinya mereka berjumlah banyak.


"Mau coba."


Lisa menggeleng cepat. "Sebaiknya aku masuk ke dalam."


"Di dalam, dekat lemari es dapur juga ada mereka."


Lisa berbalik menatap Juna nyalang. Kenapa juga dia harus mendengar hal itu? "Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Lisa hampir saja menangis.


"Duduk disini sebentar."


Juna menggenggam tangan Lisa. "Coba buka matamu dan lihat kesana. Aku nggak bohong, mereka benar-benar menghilang."


Lisa menggeleng kecil. "Percaya padaku. Mereka nggak akan pernah berani mendekati atau menyakitimu."


Lisa akhirnya luluh dan percaya dengan kalimat Juna. Perlahan dia mulai membuka dan mengintip sedikit. Lalu benar saja, mereka semua menghilang.


"Benar, kan?"


"Bagaimana bisa?" Tanya Lisa tak percaya.


"Aku juga nggak tahu. Ngomong-ngomong bagaimana bisa kamu melihat hantu?"


"Sepertinya ini sudah waktunya. " Ucap Lisa penuh nada sedih.


Sedangkan Juna tak mengerti sama sekali dengan ucapannya. Sudah waktunya untuk apa?


"Apa maksudmu?"


"Mungkin apa yang aku katakan ini akan terdengar gila, tapi semoga kamu bisa mempercayainya. Sebenarnya aku kena kutukan. Aku nggak bisa dapat jodoh karena energiku cukup besar. Karena energi itu juga yang membuatku perlahan bisa melihat hantu. Walaupun mereka nggak akan berani mendekat, tapi tetap saja mereka semua menakutkan."


"Kamu juga? Mereka juga nggak berani mendekatiku."


"Tentu saja. Itu karena energimu juga besar."


Juna menatap Lisa penuh selidik. "Kamu bisa melihat energi."


"Bukan aku, tapi Jeslyn."


"Apa ini ada sangkut pautnya kamu terus mengikutiku?"


Lisa tersenyum canggung sambil memperlihatkan deretan gigi depannya. "Sebenarnya aku dipaksa Jeslyn. Katanya kalau aku nggak mau jadi lajang seumur hidup, maka aku harus mendekatimu. Tapi sepertinya aku akan terus lajang seumur hidup." Ucap Lisa pesimis.


"Kenapa begitu?"


"Apa kamu berpikir kita bisa menjalin hubungan? Lupakan saja. Hubungan kita nggak akan pernah berhasil."


"Benar juga. Tapi kamu kan masih bisa mencari orang lain?"


"Omong kosong. Kata Jeslyn orang yang memiliki energi besar seperti kita itu seperti harta karun. Mereka sulit ditemui. Lupakan. Lagipula aku sudah nggak memikirkan hal itu lagi. Sepertinya sekarang ada yang jauh lebih penting untuk dipikirkan."


"Jadi, apa energiku sebesar itu?"


"Nggak sebesar milikku, tapi lumayan juga. Tapi terakhir kali Jeslyn bilang energimu berubah warna."


"Warna?"


"Heemm.. jadi energi manusia dilihat dari warnanya. Paling besar adalah merah kehitaman dan yang paling biasa adalah hijau. Kamu memiliki energi merah muda."


"Dan kamu memiliki energi merah kehitaman?"


"Yap. Benar sekali."


"Bagaimana bisa kamu memiliki energi sebesar itu?"


"Karena ada dewa yang aku tolong. Dia memberikan energinya padaku dan sekarang aku sedang dikejar-kejar musuhnya."


"Siapa?"


"Entah. Wujudnya seperti burung elang besar."


Lisa menatap Juna yang hanya terdiam mendengar ceritanya. Diluar ekspektasi, Lisa pikir bahkan Juna akan menganggapnya gila. Siapa sangka Juna percaya pada semua ucapannya. Bahkan Juna terlihat antusias untuk tahu lebih.


"Kamu percaya semua ucapanku?" Tanya Lisa memastikan. Karena biasanya Juna selalu sulit ditebak. Siapa tahu ternyata dia diam-diam menganggap Lisa gila.


"Aku percaya. Sama seperti kamu, siapa yang akan percaya aku bisa melihat hantu. Nggak ada seorangpun yang percaya dengan ucapanku."


Lisa mengangguk kecil. Sekarang Lisa paham kenapa Juna bisa percaya padanya dengan mudah. Sepertinya Juna berada diposisi yang sama dengannya. Ini pertama kalinya Lisa dapat bercerita tentang hal ini begitu mudah. Sepertinya dia telah menemukan teman bercerita selain Jeslyn.


#