
Satu, dua, tiga....
Hari pertama masuk sekolah dan tentu saja tak ada yang spesial karena Lisa tetap berada di kelas yang sama. Berbeda dengan siswa lain yang kebanyakan tidak berada di kelas yang sama lagi.
Yang berbeda di tahun ini adalah Cinta tak ingin sebangku dengan Lisa lagi. Tentu saja alasannya karena berita tadi pagi. Ya, hanya dalam semalam berita tentang Juna yang berlibur ke rumah Lisa tersebar luas. Bahkan sekarang keduanya tengah berada di kantor kepala sekolah. LAGI.
Tuhan. Ini baru hari pertama masuk sekolah dan Lisa sudah harus disidang lagi oleh kepala sekolah.
Sejak tadi suasana ruangan ini menjadi hening. Kepala sekolah tampak tersenyum pada Lisa, tapi percayalah senyum itu begitu mengintimidasi. Rasanya seperti Lisa tengah ketahuan membawa kabur anaknya.
"Jadi, kamu menghabiskan libur semestermu di rumah orang lain daripada memilih untuk pulang ke rumahmu sendiri?"
"Benar."
Kepala sekolah beralih ke arah Lisa. Membuat Lisa refleks menegakan posisi duduknya.
"Pasti Juna sangat merepotkan kedua orangtuamu."
Lisa menggeleng cepat. "Tidak sama sekali, Pak. Anda tidak perlu khawatir. Orang tua saya sangat senang selama Juna menginap."
"Benarkah?"
"Sebenarnya ibu saya yang meminta Juna untuk datang. Ibu ingin berterima kasih karena telah menolong saya saat pertandingan kemarin."
Kepala sekolah mengangguk. "Tenang, aku tidak akan memarahimu untuk semua ini. Hanya saja..." Kepala sekolah menghembuskan nafas panjang saat beralih menatap Juna.
"Karena Keluarga Lisa begitu baik. Bagaimana kalau kita mengundang Lisa untuk makan malam?"
"Tidak." Tolak Juna langsung tanpa berpikir panjang.
"Kenapa kamu yang menolak? Ayah sedang bertanya pada Lisa."
Lisa menatap Juna yang menggeleng kecil padanya. Tapi bagaimana caranya menolak? Ini permintaan kepala sekolah.
"Saya..." Lisa tak bisa mengeluarkan kata-kata yang tepat. Ayo otak, cepatlah berpikir.
"Dia tidak akan bisa. Ini baru awal tahun ajaran baru. Tentu dia akan sibuk." Jawab Juna.
"Hanya makan malam. Bahkan nilai Lisa selalu stabil. Bukankah seharusnya kamu mengkhawatirkan nilaimu sendiri daripada nilai orang lain?"
Lagi. Lisa harus berada diantara pertengkaran ayah dan anak ini. Bagaimana ini? Rasanya benar-benar tidak nyaman. Lisa ingin keluar dari ruangan ini secepatnya.
"Saya takut merepotkan Bapak nantinya."
"Tidak. Tentu saja tidak. Kamu jangan khawatir. Pasti Mama Juna sangat senang mendengar hal ini. Kamu sangat diterima di rumah kami. Jadi jangan khawatir"
"Kalau begitu saya tidak akan keberatan jika Anda memaksa "
Juna menatap Lisa tajam. Sedangkan Lisa hanya bisa memasang wajah menyesal. Semuanya diluar kuasanya. Dia sudah berusaha menolak semampunya.
"Bagaimana dengan malam ini?"
Terkejut. "Apa tidak terlalu cepat? Saya takut merepotkan Anda "
"Sama sekali tidak. Lebih cepat lebih baik."
"Kalau begitu saya akan bersiap untuk nanti malam."
"Bagus. Kalau begitu kalian bisa kembali ke kelas."
Juna langsung berdiri berjalan di depan Lisa. Sedangkan Lisa masih memberikan salam sebelum pergi.
"Apa kamu sudah gila?!" Tanya Juna setelah keduanya keluar dari sana.
"Aku nggak punya pilihan lain. Tahu sendiri ayahmu terus memaksaku."
"Aku sama sekali nggak mau kembali kesana! Tapi.. aku nggak mungkin membiarkanmu kesana sendirian."
"Kenapa begitu? Kamu mengatakan seolah-olah ayahmu seorang penjahat atau atau yang lainnya."
"Memang."
Lisa terkesiap. Apa maksudnya? Kepala sekolah mereka seorang penjahat? Bagaimana mungkin.
"Apa maksudmu?"
"Akan aku ceritakan nanti. Kita cari jalan keluarnya dulu."
"Benar. Ajak saja Jeslyn."
"Apa kamu yakin kita bisa mengajak orang lain?"
"Jangan khawatir. Ayahku nggak akan menolak jika kamu sudah membawanya."
"Tapi kamu bilang rumahmu berbahaya. Apa nggak masalah jika Jeslyn ikut?"
"Tenang. Dia akan baik-baik saja."
#
"Hey.. aku ingin bicara." Lisa menyeret Jeslyn pergi saat dia baru mau ke kantin. Sedangkan Jeslyn hanya menurut, tubuhnya seperti kapas yang tertiup angin.
"Kalian duluan saja. Nanti aku menyusul." Ucap Jeslyn kepada teman-temannya yang masih berdiri disana.
"Ada apa? Apa sepenting itu sampai nggak bisa menunggu saat pulang sekolah nanti?"
"Aku diundang makan malam di rumah kepala sekolah." Ucap Lisa panik.
"Hah?! Serius?! Bagaimana bisa?!"
"Ini semua karena Juna yang pergi ke rumahku. Jadi sebagai rasa terimakasih, kepala sekolah berganti mengundangku untuk makan malam."
"Bagus sekali. Aku nggak tahu kalau hubungan kalian sudah sampai sejauh ini. Bahkan sampai bertemu dengan orang tua masing-masing. Aku turut bahagia." Tentu saja Jeslyn harus memberi selamat atas kemajuan ini.
"Bukan itu masalahnya."
"Bukan?" Tanya Jeslyn heran.
"Aku belum tahu alasannya, tapi kata Juna aku harus membawamu pergi juga kesana."
"Apa? Kenapa aku? Ini kan urusan pertemuan keluarga. Tapi sebenarnya aku nggak keberatan juga. Kata orang-orang rumah Juna itu sebesar istana. Mari kita pastikan sendiri."
"Ini serius. Aku mengajakmu bukan untuk rekreasi." Lisa mulai kesal karena Jeslyn tak menganggap hal ini serius.
Lisa menengok ke kana dan ke kiri. Memastikan bahwa tidak ada orang lain di sekitar yang mungkin bisa menguping pembicaraan mereka.
"Kata Juna kepala sekolah kita itu berbahaya."
"Berbahaya bagaimana? Aku setuju sih kalau kamu bilang kepala sekolah kita itu misterius. Sama seperti anaknya."
"Aku nggak tahu. Sebenarnya Juna bersikeras agar aku nggak nerima ajakan ini. Tapi aku mana bisa nolak permintaan dari kepala sekolah. Makanya aku ngajak kamu ikut."
"Ini permintaan Juna?" Jeslyn dibuat terkejut. Seingatnya mereka sama sekali tak pernah mengobrol. Lalu kenapa dia harus diikutsertakan?
Lisa mengangguk cepat. Jeslyn berpikir sejenak. Kenapa Juna harus mengikutsertakan dirinya kalau ini berbahaya
"Kenapa dia memilihku?"
"Aku nggak tahu. Tapi dia tahu kalau kamu bisa lihat hantu dan energi manusia. Apa mungkin ini ada hubungannya? Dan juga, Juna juga bisa melihat hantu."
"Kamu serius?"
Lisa mengangguk yakin. "Bagaimana?"
"Hmm.. sepertinya menarik. Kalau begitu aku akan ikut."
"Kamu serius?"
"Kamu sebenarnya ingin aku ikut atau enggak sih?" Tanya Jeslyn mulai kesal. Kalau begini Jeslyn jadi ikutan bimbang.
"Ingin. Tapi aku nggak tahu apa yang akan terjadi nanti. Perkataan Juna terlalu menakutiku." Balas Lisa khawatir. Karena jika sampai terjadi hal yang tak diinginkan dan bersangkutan soal Jeslyn. Lisa tidak akan memaafkan dirinya.
"Tenang saja. Entah kenapa aku punya firasat kalau Juna itu bisa diandalkan. Jadi dia nggak mungkin memintaku datang tanpa persiapan apapun." Ucap Jeslyn menenangkan Lisa.
"Kalau begitu deal kamu ikut?"
Jeslyn mengangguk yakin. Rasanya dia juga penasaran kenapa kepala sekolahnya sangat misterius. Bahkan seingatnya, Jeslyn belum tahu bagaimana wajah kepala sekolahnya sendiri. Mungkin ini waktu yang tepat untuk menjawab rasa keingintahuannya.
Jika Jeslyn memutuskan untuk ikut, kemungkinan besar Jeslyn akan tahu darimana energi Juna berasal.
#