Sweet Curse

Sweet Curse
Menyusup ke Asrama Putra



BRAK


"Astaga! Serangan apa ini?!" Jerit Jeslyn saat tiba-tiba saja Lisa membuka pintu dan menutupnya secara kasar.


"Kamu sudah kembali?" Tanya Jeslyn khawatir saat melihat keadaan Lisa yang sepertinya tidak sedang baik-baik saja.


"Apa terjadi sesuatu? Aku pikir kalian akan pergi lebih lama lagi. Aku bahkan sudah menyiapkan surat izin, tapi sepertinya sekarang nggak perlu."


"Apa maksudmu? Hari apa sekarang?" Tanya Lisa yang sepertinya sudah kembali ke Lisa yang biasanya.


"Tentu saja hari minggu."


"Berapa hari aku pergi?"


"Kalian berangkat jum'at malam dan kembali minggu malam. Bisa dikatakan kalian pergi sekitar 2 hari."


"Hanya dua hari?" Tapi kita sudah berada disana selama berhari-hari.


"Benarkah? Tapi kalian benar-benar hanya pergi selama dua hari."


"Aneh. Bukankah biasanya dimensi lain yang akan berjalan lebih lambat."


Jeslyn mengangguk setuju. "Kebanyakan memang seperti itu."


"Aku harus pergi ke tempat Juna."


"Sekarang juga? Tapi ini sudah malam."


"Jam berapa sekarang?"


"Jam 8."


"Dia masih bisa keluar."


Lisa bergegas keluar lagi.


"Aku ikut!"


#


"Dia belum muncul juga?" Tanya Jeslyn yang mulai kesal dengan nyamuk. Mereka sudah menunggu cukup lama di depan asrama putra. Belum lagi pintu asrama akan segera ditutup.


"Tadi dia bilang sebentar."


"Sebentarnya Juna itu berapa lama, sih?"


"Kamu tahu yang mana jendela kamar Juna?" Tanya Lisa iseng.


"Kenapa? Kamu mau manjat lewat jendela?" Jeslyn mulai kesal. Pasalnya nyamuk-nyamuk itu tak mau pergi dari tubuhnya sebentar saja.


"Udah nggak usah banyak nanya. Kamu tahu nggak?"


"Yang itu." Tunjuk Jeslyn pada jendela kamar paling pinggir lantai dua.


"Kamu yakin?" Tanya Lisa ragu.


Jeslyn mengangguk yakin. "Siapa lagi yang punya energi sebesar itu di sekolah kita selain kamu dan Juna? Bahkan energinya jauh lebih besar dari terakhir kali aku ingat. Sampai batas mana sebenarnya energi Juna terus meningkat?"


Lisa mengangguk mengerti. Kemudian dia mulai menyusup ke dalam asrama putra. Beruntung penjaga sedang tertidur. Jadi keduanya bisa masuk dengan mudah.


"Kamu yakin mau menyusup seperti ini? Nggak mau nunggu sampai besok?"


"Nggak bisa. Aku merasa ada yang aneh. Aku harus segera mengatakan hal ini pada Juna. Aku nggak akan masuk, cuma mau lempar kerikil ini ke jendela kamarnya."


BRAK


Belum sempat Lisa melancarkan aksinya. Tiba-tiba ada dua bayangan yang tengah berkelahi terlihat di jendela kamar Juna.


Lisa tak jadi melempar kerikil di tangannya. Sepertinya hal yang membuat Juna tak segera muncul adalah bayangan itu.


"Kita harus ke kamar Juna sekarang."


Jeslyn meraih tangan Lisa. "Kamu gila ya?! Ini sudah jam berapa? Sebentar lagi asrama mau ditutup."


"Kamu sebaiknya kembali. Biar aku saja yang naik." Setelah mengucapkan itu Lisa berlari masuk ke dalam asrama putra. Sedangkan Jeslyn galau mau masuk atau memilih kembali saja. Tapi pada akhirnya dia ikut masuk mengejar Lisa.


Beruntung asrama sudah sepi. Entah memang Lisa sedang beruntung atau karena memang ada sesuatu yang aneh dengan asrama ini.


"Hah!" Lisa membekap mulutnya saat bertemu orang dibelokkan, tapi ternyata orang itu tengah pingsan.


"Astaga!" Ucap Jeslyn terkejut melihat beberapa siswa yang tergeletak di lantai.


"Apa yang terjadi?" Tambah Jeslyn.


"Aku juga nggak tahu. Sepertinya ini semua ulah orang yang sedang Juna lawan. Kenapa kamu ikut masuk?"


"Aku nggak berani ke asrama sendiri."


"Tapi ini berbahaya. Mungkin saja hal yang sama seperti terakhir kali terjadi lagi padamu."


"Aku tahu. Makanya aku ikut. Lebih baik aku ikut daripada khawatir sendirian di kamar."


"Baik kalau begitu. Sebaiknya kita bergegas."


Jeslyn mengangguk setuju. Mereka kembali pergi kamar Juna.


#