
"Ini saatnya."
Lilith, Juna, Lisa dan lainnya mulai menunggu di pintu gerbang. Mereka akan menahan dan memukul mundur para tentara Erka.
Seperti dugaan. Walaupun mantra gerbang telah diperkuat, Erka dan pasukannya tetap bisa masuk dengan mudah.
Masing-masing pasukan berteriak untuk menyerang. Lilian palsu langsung menuju ke arah Lisa, sedangkan Juna langsung menghadapi ayahnya.
"Biar aku saja. Kamu bantu Juna melawan ayahnya." Ucap Lilith menahan Lisa untuk menyerang.
"Tapi..."
"Tenang saja. aku sangat sadar bahwa dia bukan kakakku. Ada urusan yang harus aku selesaikan dengannya."
Lisa mengangguk mengerti, kemudian beralih membantu Juna untuk melawan ayahnya.
"Apa ini? Sepasang merpati mencoba menantang elang?" Ucap Erka sambil tersenyum mengejek.
"Koreksi. Bukan sepasang merpati, tapi sepasang Singa."
Juna dan Lisa menyerang Erka secara bersamaan. Sebenarnya Erka tak pernah meremehkan kedua lawannya di depannya ini.
Tentu keduanya tidak hanya diam saja selama tinggal disini. Pasti entah itu antara Lilith ataupun Leos pasti mengajarkan mereka cara bertarung.
Belum lagi keduanya memiliki background beladiri dan energi yang besar. Padahal Erka sudah mengambil cukup banyak energi Lilian yang berada di tubuh Lisa. Sepertinya Erka terlalu cepat menyimpulkan arti kata banyak.
TING
Juna berhasil memukul mundur Erka menggunakan pedangnya.
"Makanya, jangan melamun saat lawanmu sedang serius." Ucap Juna yang tersenyum mengejek sama seperti yang diperlihatkan Erka sebelumnya.
Hal itu membuat Erka semakin geram. Melihat pancingannya berhasil membuat Juna semakin tersenyum kegirangan.
Namun tak berselang lama senyum itu harus hilang saat melihat menyerang Lisa dan berhasil mengenai bahunya.
"Aku nggak pa-pa, sungguh." Ucap Lisa saat melihat Juna tampak khawatir dan marah.
Juna mulai mengayunkan pedangnya kembali. Kini Erka yang senang melihat Juna kembali pada amarahnya. Tentu saja dia tau bagaimana karakter Juna. Karena mereka ayah dan anak. Mereka tidak akan jauh berbeda.
"Apa kamu yakin kalian benar-benar bukan sepasang merpati?"
"Diam!"
#
"Lilith berhenti! Apa kamu tak ingin semuanya berakhir? Kakak tak ingin ada yang terluka." Ucap Lilian memasang wajah sendu. Merasa terpojok, kini Lilian palsu mencoba untuk memenangkan hati Lilith dengan wajah kakaknya.
Tendangan dan juga pukulan tak berhenti Lilith berikan kepada Lilian palsu.
"Berhenti berakting seolah-olah kau kakakku!" Lilith menaikan intensitas serangannya.
"Apa maksudmu sedang berakting? Aku ini benar-benar kakakmu."
"Diam! Bersiaplah... Aku akan aku keluarkan wujud aslimu dari raga kakakku!"
"Heh.. baiklah kalau kau bersikeras. Jika cara halus tak mungkin berhasil, aku hanya tinggal merubah strateginya." Ucap Lilian palsu merubah ekspresi sendunya menjadi tersenyum jahat.
Lilian palsu mengucapkan beberapa mantra dan menembakan pada Lilith. Beruntung Lilith berhasil menghendar disaat yang tepat.
Melihat bagaimana perbedaan besar energi keduanya. Bahkan Lilith sudah tahu siapa yang akan menang.
"Kakak, aku tidak akan mengecewakanmu. Jangan khawatir, aku tidak akan membuatmu menunggu terlalu lama."
Lilith menghirup udara untuk memfokuskan konsentrasinya. Dia menyerap dan mengumpulkan energi alam sekitar sambil mengucapkan sebuah mantra.
Melihat besarnya energi yang dikumpulkan oleh Lilith, berhasil membuat Lilian palsu mundur ketakutan. Tapi sebelum dia berhasil kabur, Lilith berhasil menahan dan mengikatnya dengan akar pohon.
"Jangan kemana-mana. Jadilah anak manis yang diam menunggu."
Lilian palsu hanya bisa berteriak meminta Erka untuk menolongnya. Masalahnya disana Erka juga tampak tengah terpojok.
Hingga akhirnya bola itu memukul jauh Lilian palsu dan juga beberapa prajuritnya yang ada dibelakang.
Dalam sekejap Lilian palsu telah kalah dan duel itu dimenangkan oleh Lilith.
"Aku sengaja membuatnya tidak terlalu besar karena aku tak ingin melukai tubuh kakakku. Seharusnya kau beruntung akan hal itu."
Lilith menarik atas kepala Lilian palsu. Mencoba mengeluarkan sosok asli yang berada di dalam tubuh kakaknya.
Setelah berhasil mengeluarkan sosik iblis itu. Lilith langsung merapalkan mantra agar iblis wanita ini lenyap.
Namun sangat disayangkan tiba-tiba Erka menarik jauh istri iblisnya. Membuat mantra Lilith meleset.
"Woah... Jadi iblis juga bisa perduli bpada istrinya juga." Lilith tersenyum simpul pada Erka. Bagaimana bisa kakaknya dulu mencintai iblis seperti Erka?!
"Apa yang kamu lakukan! Akulah lawanmu." Juna kembali memberikan serangan.
Karena kedua tangannya masih menahan tubuh sang istri, Erka tak sempat mengelak. Serangan Juna tepat mengenai istri dan dirinya sendiri.
Keduanya terpukul mundur cukup jauh. Bahkan luka Erka terlihat cukup parah.
Melihat pemimpin mereka terkapar. Semua prajurit yang bertarung menghentikan serangan dari kedua belah pihak.
"Aku kalah?" Tanya Erka tak percaya. Padahal dia sudah merencanakan hal ini lama sekali. Dia sangat yakin bahwa semuanya telah sempurna.
"Ya, ayah sudah kalah sekarang. Apa ini pertama kalinya ayah kalah?"
"Sepertinya begitu."
Juna sangat mengerti bagaimana sifat ayahnya yang tak ingin pernah kalah. Sepertinya kesalahan besarnya bukanlah tanpa persiapan, melainkan mengajarkan sifat-sifatnya sendiri kepada Juna.
Sepertinya Erka tak pernah mengira bahwa ada saatnya Juna akan menjadi lawannya.
Leos dan Lilith mendekat ke arah mereka. Lilith menarik iblis wanita itu. Walaupun Erka terlihat tak rela, tapi dia sudah tak bisa berbuat apa-apa kagi.
"Kakek akan menyegelnya. Dia harus merenungkan semua dosa-dosanya di dalam kendi ini."
"Apa ayah yakin? Kenapa kita tidak memusnahkan dia sekalian. Bagaimana jika dia bisa keluar dan suatu saat nanti berulah lagi."
"Lilith, dengar. Bagaimanapun juga dia adalah ayah dari Juna dan juga kakak iparmu. Kendi ini akan menahan kekuatannya. Jikapun dia berhasil keluar. Dia hanya akan seperti kapas yang ringan."
"Baik kalau itu keputusan ayah. Aku hanya tak ingin membiarkan iblis wanita ini hidup."
Leos mengangguk mengerti. Tepat saat Leos menyegel Erka, Lilith juga memusnahkan si iblis wanita. Hal itu membuat semua prajurit mereka berlarian keluar gerbang.
Melihat hal ini, Lilith dengan dibantu Lisa kembali memantrai gerbang dan menutup gerbang itu kembali.
#
Setelah perang selesai. Mereka mengadakan pemakaman untuk Lilian. Dan menyatukan raganya yang telah kembali.
Awalnya Juna sempat berharap mungkin, walaupun hanya kecil, dia berharap bahwa ibunya bisa dihidupkan kembali.
Sayangnya jiwa dan raga Lilith sudah terpisah cukup lama. Jikapun tidak tubuh ini sudah sempurna tak ada yang bisa mereka lakukan.
Pada akhirnya mereka semua mengikhlaskan dan mulai mengadakan pemakaman yang sebenarnya.
Lilith menangis kencang saat tubuh itu mulai terkubur. Dia memeluk erat ayahnya dan menangis dalam pelukannya.
Sedangkan Lisa yang melihat Juna tampak sedih hanya bisa menggenggam tangannya. Berharap dapat memberinya kekuatan walaupun sedikit.
Merasa tangannya digenggam, Juna tersenyum tipis ke arah Lisa. Mengatakan pada Lisa bahwa dia baik-baik saja.
Lisa tahu itu bohong. Walaupun begitu dia mengangguk mengerti.
#