Sweet Curse

Sweet Curse
Teman?



Setelah menemukan seragam yang dirasa pas untuk Lisa, Yessi malah tak melihat Lisa dimanapun. Tidak hanya Lisa, tapi ternyata Juna juga tidak ada. Saat Yessi akan bertanya pada Juju, dia lebih dulu melihat Juna keluar dari ruang loker dengan tampang marah.


Tak berselang lama Lisa juga keluar dari sana dengan wajah pucat. Ada apa ini? Kenapa mereka keluar dari ruangan yang sama?


Yessi langsung menghampiri Lisa untuk memberikan seragamnya. Lisa tampak terkejut dengan kehadiran Yessi di depannya. Karena sekarang dia belum bisa fokus dan masih ketakutan karena Juna.


"Tenang saja, aku tidak akan memberi tahu siapapun."


Lisa tak mengerti dengan perkataan Yessi, walaupun begitu dia menerima seragam itu sambil mengucapkan terimakasih.


"Jadi.. apa kalian sepasang kekasih?" Tanya Yessi penasaran.


"Apa maksud Kakak?"


"Kalian.. kamu dan Juna?"


Lisa langsung menggeleng cepat. "Tidak. Mana mungkin kami pacaran."


"Atau jangan-jangan kalian bahkan sudah jadi mantan?" Lisa menggeleng lagi.


"Ah.. aku tahu. Kamu pasti sedang mengejarnya?!"


Lisa tak begitu paham dengan pertanyaan-pertanyaan Yessi. Apa maksudnya mengejar? Apa itu arti kata kiasan masa kini. Kenapa semua orang selalu memakai kata yang sulit dimengerti?


Tapi jika dipikir-pikir lagi, apa yang dilakukannya sekarang memang seperti sedang mengejar Juna. Akhirnya Lisa mengangguk mengiyakan.


Yessi menutup mulut tak percaya. Setelah sekian lama, akhirnya ada wanita yang berani mengejar Juna. Pantas saja Juna bersikeras tidak menerima Lisa tadi.


Sebenarnya Jungkook itu cukup populer di sekolah karena dia tampan. Walaupun begitu, dia membuat semua siswi di sekolah ini tak ada yang berani untuk datang mendekatinya. Entah bagaimana dia melakukannya. Dia seperti dinding beton yang tidak bisa ditembus oleh siapapun.


Akhirnya ada juga sosok yang datang untuk menembus dinding itu. Membuat Yessi jadi terharu dan langsung memegang kedua tangan Lisa. "Kamu yang semangat ya. Kalau butuh sesuatu jangan sungkan untuk meminta bantuanku. Aku akan dengan senang hati membantumu. Dan juga untuk hari ini latihan kita sampai disini dulu, kamu sudah boleh pulang." Ucap Yessi tersenyum lebar pada Lisa.


"Baik, Kak. Terimakasih."


"Iya sama-sama. Semoga berhasil."


Yessi membuat postur menggenggam kedua tangannya untuk menyemangati Lisa. Parahnya Lisa masih belum begitu paham dan hanya membalas Yessi dengan senyuman kikuk.


#


Brak..


Lisa membuka pintu kamarnya kasar yang membuat Jeslyn yang berbaring santai langsung terlonjak saking terkejutnya.


"Jeslyn, kamu harus tahu apa yang baru saja aku lakukan." Ucap Lisa menggebu-gebu.


"Apa?" Tanya Jeslyn sambil mengganti posisi tubuhnya menjadi duduk.


"Aku baru saja menendang orang dan orang itu sampai terlempar beberapa meter. Bagaimana itu mungkin?"


"Oh itu. Itu kan juga karena energimu yang membuat kekuatan fisikmu meningkat drastis. Sebenarnya tidak hanya itu, bahkan otakmu juga terpengaruh."


Mendengar penjelasan dari Jeslyn membuat Lisa langsung bangkit dan mencari buku soal di lemari belajarnya. Dia langsung membuka acak halaman yang belum dikerjakan. Hebatnya tidak sampai setengah jam Lisa berhasil menyelesaikan 40 soal pilihan ganda. Lebih hebatnya saat dia mengoreksi dengan kunci jawaban semuanya benar.


Lisa menatap Jeslyn tak percaya. "Bagaimana ini mungkin? Dan kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?"


"Benarkah? Apa sebelumnya aku belum memberi tahumu?" Jeslyn berusaha mengingat-ingat.


"Bahkan mengungkit saja tidak. Kamu hanya terus mengatakan soal hantu-hantu menyebalkan."


"Maaf kalau begitu, aku pikir aku sudah mengatakan semuanya kepadamu. Lalu bagaimana dengan klub taekwondo? Apa semuanya berjalan lancar?"


"Aku berhasil menjadi anggota, bahkan Juna sendiri yang akan mengajariku taekwondo. Parahnya aku sudah harus bertanding setelah mid semester. Apa menurutmu aku bisa menang?" Tanya Lisa khawatir.


Jeslyn menatap wajah murung Lisa bingung. "Bukannya tugas utamamu hanya mendekati Juna. Kamu tidak perlu bekerja begitu keras sampai harus memenangkan pertandingan ini. Jangan terlalu dipikirkan."


"Benar juga. Tapi sepertinya itu sangat sulit."


"..."


"Kamu tahu, aku tadi berbicara langsung pada Juna. Aku bilang kalau ingin berteman dengannya, tapi dia bilang itu tidak akan berhasil dan menyuruhku untuk menyerah."


"Woah.. kamu berani mengajaknya mengobrol? Serius?"


"Bukan aku, tapi dia. Dia yang menarikku untuk bicara."


"Lalu?" Jeslyn membenarkan posisi duduknya, merasa antusias.


"Itu dia!" Jeslyn menjentikkan jarinya seperti mendapat sebuah ide briliant.


"Apanya?"


"Kamu bisa menggunakan itu untuk mengancam Juna."


"Kamu gila! Bagaimana bisa aku mengancam Juna. Yang ada Juna duluan yang akan mengulitiku sebelum aku berhasil mengancamnya. Aku takut itu tidak akan berhasil."


"Jangan pesimis begitu. Apa salahnya mencoba?"


"Akan aku pikirkan nanti."


Lisa hanya kembali murung dan berbaring di atas tempat tidurnya. Sedangkan Jeslyn memilih menyibukkan diri membuka paket dari ibunya


#


Saat jam pertama dimulai, siswa tiba-tiba saja heboh saat para anggota OSIS masuk ke dalam kelas mereka. Hari ini OSIS akan melakukan sidak pada seluruh kelas agar siswa lebih disiplin.


Mereka meminta agar semua siswa mundur ke belakang kelas. Anggota OSIS dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama bertugas menggeledah tas para siswa, sedangkan kelompok kedua memeriksa para siswa satu persatu.


Awalnya Jeslyn merasa semua akan baik-baik saja, hingga dia memainkan sesuatu yang terpasang dipergelangan tangannya. Mati dia! Ternyata Jeslyn lupa melepas gelang jimatnya.


Saking ketakutannya Jeslyn karena tak ingin mendapatkan poin minus, refleks dia melepas gelangnya lalu mengoper gelang itu pada Lisa. Lisa menatap Jeslyn bingung, sampai dia tak sadar sudah ada anggota OSIS yang berada di depannya.


Perlahan anggota OSIS itu memeriksa seluruh badan Lisa. "Tunjukkan tanganmu."


Lisa melirik Jeslyn sekilas. Tampak Jeslyn menggeleng kecil, namun Lisa tak tahu harus berbuat apa. Dengan polosnya dia menunjukkan tangan dengan gelang Jeslyn yang berada digenggamannya.


"Buka genggamanmu."


Lisa melirik Jeslyn sedikit meminta maaf hingga akhirnya memberikan gelang itu pada anggota OSIS di depannya. Tentu saja dengan senang hati gelang itu disita. Siswi anggota OSIS melihat name tag Lisa dan mencatat kelas serta nama lengkapnya.


"Kamu bisa mengambilnya kembali di ruang OSIS." Ucap siswi itu meletakkan gelang Jeslyn di wadah barang sitaan.


#


Tok.. Tok..


"Masuk."


Juna menghembuskan nafas panjang saat melihat siapa orang yang datang ke ruang OSIS. Awalnya Juna pikir tidak akan ada yang datang seperti sebelum-sebelumnya karena mereka tak ingin mendapatkan poin minus.


"Kamu lagi?" Tanya Juna jengah.


"Maaf, tapi aku benar-benar hanya ingin mengambil barangku yang disita."


"Ambil lalu keluar."


Lisa menatap Juna bingung. Apa maksudnya? Karena ini pertama kalinya dia mengambil barang sitaan di ruang OSIS. Apa Juna tidak akan memberinya poin? Tapi kata teman-temannya mereka pasti akan mendapat poin minus jika menginginkan barangnya kembali.


"Kenapa hanya berdiri disana? Tidak jadi mengambil barangmu?" Tanya Juna.


"Apa aku nggak dapat poin minus?"


"Kamu ingin aku memberimu poin minus?"


"Oh enggak. Tentu saja tidak, kalau begitu permisi." Perlahan Lisa mengambil gelang Jeslyn yang berada dalam kotak di atas meja Juna.


Kemudian dia mundur beberapa langkah sampai depan pintu. "Kalau begitu terimakasih."


"Tunggu dulu."


Lisa spontan berhenti. Ada apa? Apa Juna sekarang berubah pikiran?


"Jangan katakan hal ini pada siapapun."


Lisa berbalik ke arah Jungkook. Membuat isyarat seolah mengunci mulutnya. "Tentu saja nggak mungkin. Bahkan aku sangat berhutang budi padamu."


"Baik, sekarang kamu boleh pergi."


Setelah keluar dari ruang OSIS, Lisa jadi terheran. Kenapa tiba-tiba Juna baik padanya? Masa bodoh. Yang penting sekarang dia terbebas dari poin minus.


Lisa jadi punya ide. Dia akan berpura-pura mendapatkan poin minus dan mengaku telah dimarahi oleh Juna. Dengan begitu Lisa bisa meminta kompensasi pada Jeslyn. Siapa suruh dia memberikan gelang itu padanya.


#