Sweet Curse

Sweet Curse
Ceritakan Semuanya



Sudah seminggu lamanya Lisa dirawat di rumah sakit. Kini sekarang dia sudah bisa masuk sekolah seperti biasa.


Baru hari pertama masuk, Lisa sudah dipanggil ke ruang kepala sekolah. Seumur-umur selama Lisa bersekolah. Tidak sekalipun dia pernah dipanggil ke ruang kepala sekolah.


Entah sudah berapa lama Lisa berdiri di depan pintu. Berulang kali dia ingin mengetuk, tapi tak jadi karena takut. Alhasil dia hanya bisa mondar-mandir di depan pintu.


CEKLEK


Lisa bergerak mundur saat pintu itu terbuka dari dalam. Lebih terkejut lagi saat Lisa tahu siapa yang membuka pintu ruangan kepala sekolah.


"Kamu mau masuk atau tidak? Apa kamu tidak lelah mondar-mandir di depan pintu?" Tanya Juna pada Lisa yang masih syok.


"Bagaimana kamu bisa tahu aku ada di depan pintu? Dan apa yang kamu lakukan di dalam?"


"Bayanganmu di bawah pintu benar-benar mengangganggu. Cepat masuk."


Dengan perasaan jengkel akhirnya Lisa masuk. Sebelum mereka berdua terbawa suasana dan berdebat di tempat yang salah.


"Apa kamu takut untuk masuk ke dalam?" Tanya kepala sekolah saat Lisa sudah berada di dalam.


"Bukan begitu. Anda jangan salah paham." Lisa menggerakkan tangannya pertanda tidak. "Saya hanya bingung."


"Jangan takut. Aku memanggil kalian bukan untuk memarahi atau menghukum. Sebenarnya sangat disayangkan harus ada kejadian seperti minggu lalu. Walaupun Juna sudah menceritakan garis besarnya, tapi tetap saja kamu harus mengatakannya secara langsung."


Lisa melirik ke arah Juna. Dia tak tahu sejauh mana Juna bercerita, jadi dia tak tahu bagaimana harus memulainya.


"Sudah saya katakan kalau kondisi kesehatannya saat cukup buruk. Sepertinya tidak ada hal lain yang perlu di jelaskan." Balas Juna.


"Saya minta maaf karena kelalaian saya membuat Juna dan sekolah jadi repot. Seharusnya saya tahu kondisi tubuh saya sendiri sebelum setuju ikut pertandingan." Tambah Lisa.


"Baik. Laporan kalian saya terima. Kalian sudah boleh pergi sekarang."


Sudah? Hanya begini? Ternyata rasa takutnya tak sebanding dengan apa yang terjadi. Ternyata semuanya selesai semudah itu?


"Kalau begitu kami undur diri." Juna menggandeng tangan Lisa untuk keluar dari ruangan kepala sekolah.


Lisa tambah melongo saat dengan mudahnya Juna menarik tangannya di depan kepala sekolah. Di depan ayahnya sendiri. Mau ditaruh mana muka Lisa nanti? Apa Juna sudah gila?


"Apa yang kamu lakukan?!" Lisa menghempaskan tangannya.


"Menarikmu keluar dari sana."


"Bagaimana kalau nanti ayahmu salah paham denganku?"


"Biarkan saja."


"Biarkan pantatmu! Kalau mau cari masalah lakukan saja sendiri. Jangan bawa-bawa aku."


"Kenapa semua orang selalu bersikap seolah-olah pacaran itu hal tak wajar terjadi di sekolah ini? Kamu sendiri pasti sudah punya pacar kan saat sekolah disini."


"Memang iya aku pernah punya pacar, tapi aku nggak pernah pacaran di depan orang tua kami seperti tadi."


"Jadi, apa kita pacaran?"


Tentu saja tidak!"


"Ya sudah. Mudahkan. Jika kepala sekolah bertanya bilang saja yang sebenarnya."


Lisa menghembuskan nafas panjang. Kenapa mengobrol dengan Juna sering kali membuatnya darah tinggi.


Sabar Lisa, sabar. Kalau kamu memaksa berdebat dengan Juna, maka semuanya akan sia-sia. Semua ini tidak akan pernah berakhir.


"Tapi ngomong-ngomong apa kamu bisa berpacaran? Maksudku kata Wendy anak kaya raya seperti kalian sangat sulit untuk berpacaran."


"Tentu saja aku bisa. Siapa yang bisa melarangku? Tidak ada yang bisa melarangku bahkan ayahku sendiri."


"Jadi.. apa kamu pernah pacaran sebelumnya?"


"Kenapa kamu bertanya?" Jawab Juna tak suka.


"Aku sarankan padamu dengan sungguh-sungguh, kamu harus mencoba pacaran sesegera mungkin."


Juna hanya menatap Lisa sambil mengernyitkan dahinya. Lisa mengusap dahi Juna yang berkerut.


"Tolong ya.. jangan sering-sering mengerutkan dahimu. Orang bisa salah paham kalau kamu sedang marah dan tidak akan ada yang berani datang mendekatimu."


"Aku memang sedang marah sekarang." Ucap Juna serius.


Mendengar hal itu Lisa langsung mundur beberapa langkah. Dia menyilangkan kedua tangannya. "Kamu marah. Kalau begitu maafkan aku. Sebaiknya aku harus segera pergi.. kelas akan segera dimulai." Lisa berlari kabur sebelum Juna mengamuk.


Juna tersenyum melihat kebodohan Lisa. Mereka kan berada di kelas yang sama. Apa gunanya dia kabur sekarang.


Benar. Juna baru ingat untuk menanyakan tentang kejadian yang sebenarnya saat pertandingan kemarin. Kenapa dia baru ingat disaat yang tidak tepat.


#


"Jadi.. sekarang cepat ceritakan semuanya." Jeslyn melipat kedua tangannya di depan dada. Menyidang Lisa tentang semua yang terjadi.


"Darimana aku seharusnya bercerita?"


"Tentang chat Juna."


"Oh benar. Ingat waktu aku sakit? Juna mengirimkanku makanan dan kami sempat chating-an. Sepertinya kamu sudah mendengar semuanya dari kak Yessi."


"Lalu apa yang terjadi di pertandingan taekwondo?"


"Itu, burung itu mendatangiku lagi. Kali ini bentuknya jauh lebih sempurna. Dia seperti hampir mengambil alih diriku dan menyerap semua energiku. Untung saja Juna datang tepat waktu sebelum aku benar-benar mati disana."


"Jadi sudah sampai ke tahap ini ya? Oh sebenarnya ada yang ingin aku katakan juga padamu. Terakhir kali aku melihat Juna, energinya sudah bukan lagi berwarna jingga. Dia berubah menjadi merah muda."


"Bagaimana bisa?" Tanya Lisa heran.


Jeslyn menggeleng. "Aku sendiri juga nggak tahu. Yang pasti energinya semakin tinggi."


"Apa mungkin itu terjadi karena Juna sering berada di dekatku?"


Jeslyn menggeleng lagi. "Mana mungkin. Energi spiritual bukan hal yang bisa ditransfer semudah itu."


"Lalu bagaimana dengan energiku? Apa warnanya juga berubah?"


"Tidak sama sekali. Sepertinya dewa yang kamu selamatkan memberikan hampir semua energi spiritualnya kepadamu."


"Apa itu akan baik-baik saja?"


"Tentu saja tidak. Tanpa energi spiritualnya, dia akan menjadi dewa yang lemah. Aku pikir mungkin burung itu bahkan sudah memangsanya. Benar-benar ular yang malang."


"Benar juga aku baru ingat. Sebenarnya ada sebuah novel di kelas khusus yang menceritakan tentang kisah cinta putri ular dan burung elang. Entah kenapa aku merasa latarnya seperti bukit di belakang sekolah."


"Bisa kamu membawanya besok. Aku ingin membacanya. Siapa tahu buku itu memiliki petunjuk."


"Tapi aku takut. Bagaimana kalau burung itu mendatangiku lagi. Pertama kali burung itu muncul adalah saat aku membaca sebagian novelnya."


"Kalau begitu kamu bisa meminta Juna membawanya."


"Mana mau dia."


"Ngomong-ngomong soal Juna, bagaimana dia bisa membolos untuk menjagamu?" Kali ini Jeslyn bertanya dengan nada menggoda Lisa seperti biasa.


"Itu karena saat Juna datang burung itu langsung pergi. Jadi aku ingat apa katamu tentang burung itu yang takut dengan Juna. Jadi selama penyembuhan, aku meminta Juna untuk tidak pergi."


"Dan dia setuju?"


Lisa mengangguk kecil. Jeslyn menganga tak percaya. Sepertinya benar apa kata Yessi. Semuanya hanya tinggal menunggu waktu.


#