Sweet Curse

Sweet Curse
Dia Datang Lagi



Hari H pertandingan sudah di depan mata. Sebelum pergi ke kamarnya sendiri, Juna sempatkan mengantar Lisa ke tempatnya. Bagaimanapun juga Lisa perempuan, setidaknya Juna tahu dimana Lisa berada jika saja terjadi sesuatu.


Apalagi akhir-akhir ini banyak hal yang terjadi dan selalu Lisa yang menjadi sasarannya. Sebenarnya Juna merasa tempat ini sangat tidak aman bagi Lisa.


Mau bagaimana lagi, Lisa sudah bersikeras untuk ikut. Juna hanya bisa menjaganya sebaik mungkin.


Juna meletakkan tas tenteng Lisa sebelumnya dia bawakan, sedangkan Lisa sendiri menarik koper bawaannya yang lain. Awalnya Lisa menolak niat baik Juna. Melihat Juna juga sudah memiliki tasnya sendiri ditangannya.


"Kalau ada apa-apa hubungi aku." Ucap Juna pergi bahkan sebelum Lisa membuka pintu kamar miliknya.


Ya, niat Juna dari awal memang hanya ingin tahu dimana letak kamar Lisa. Sebenarnya dia tahu berapa nomer kamar Lisa. Tapi akan lebih baik jika dia sudah pernah kesini. Jika diperlukan, dia tak perlu mencari tahu dimana nomer kamar itu berada.


"Terimakasih." Ucap Lisa setengah berteriak karena Juna sudah hampir mencapai pintu lift. Juna hanya membalas Lisa dengan lambaian tangan tanpa menoleh kebelakang.


Lisa membuka pintu kamarnya yang bak hotel berbintang. Inilah yang selama ini dia tunggu selama ini. Dia sudah mendengar tentang kamar peserta lomba dari Yessi. Kapan lagi dia bisa menginap di tempat sebagus ini.


Tanpa merapikan barangnya terlebih dahulu. Pertama kali hal yang wajib Lisa coba adalah kamar tidurnya. Rasanya seperti tidur di kapas. Berapa budget lomba ini sampai setiap peserta bisa mendapatkan kamar mewah?


#


Sebelum acara inti atau pertandingan sesungguhnya dimulai. Mereka mengadakan penjamuan untuk para peserta.


Ada rasa mengganjal saat Juna tak melihat Lisa dimanapun. Bahkan pesan yang dia kirim tak kunjung mendapat balasan. Dia berusaha bertanya pada beberapa peserta putri yang lain, tapi tak ada yang melihat keberadaan Lisa.


Tak ada cara lain. Juna harus melihat keadaan Lisa sendiri. Setelah meminta izin kepada penanggung jawab pertandingan putri, Juna langsung menuju kamar Lisa.


Tok.. tok.. tok..


"Lisa, kamu di dalam?"


"Lisa? Apa kamu mendengarku?" Ulangnya karena Juna tak kunjung mendapat jawaban dari Lisa.


Mencoba menggerakkan knop pintu dan ternyata pintu itu tak terkunci. Juna berlari ke dalam dan mendapati Lisa tengah mencekik dirinya sendiri dengan posisi berdiri.


"Lisa! Apa yang kamu lakukan?!" Bersamaan Juna masuk, cekikan di leher Lisa juga ikut terlepas.


Juna memeriksa keadaan Lisa yang tengah mengambil nafas dengan susah payah. Tangan yang masih gemetaran perlahan meraih tangan Juna. Juna menggenggam tangan Lisa erat.


"Tunggu disini. Aku akan melapor ke penanggung jawab untuk dipanggilkan ambulans."


Tangan Lisa menahan Juna untuk pergi. Dahi Juna mengerut menatap Lisa bingung. Lisa menggeleng kecil dan matanya berkaca-kaca seperti hampir menangis.


"Oke, oke aku mengerti. Aku tidak akan kemana-mana. Tenang saja, kamu aman sekarang."


Juna meraih Lisa dalam dekapannya. Seketika isak tangis Lisa terdengar lirih.


"Jangan menangis. Kamu akan membuat tenggorokanmu semakin sakit. Mau aku ambilkan kompres?"


Lisa menggeleng pelan. Pelukan tangannya ditubuh Juna semakin erat. Pertanda bahwa Juna tak boleh kemana-mana. Tenggorokannya masih sangat sakit untuk berbicara. Tubuhnya juga terasa lemas.


Setelah Lisa cukup tenang, Juna membaringkan Lisa ke tempat tidur. Tak lupa dia menelepon pengawas acara untuk dipanggilkan ambulans. Juna juga memutuskan untuk mengundurkan diri dari pertandingan ini.


Juna memeriksa leher Lisa yang masih memerah dan membekas struktur tangannya sendiri. Pasti itu sangat menyakitkan.


#


Sebenarnya Juna sudah bisa masuk ke sekolah seperti biasa karena telah mengundurkan diri. Jadi hak dispensasinya juga berakhir. Berbeda dengan Lisa yang masih harus dirawat di rumah sakit.


Walaupun begitu Juna memilih untuk absen beberapa hari. Dia ikut membantu kedua orang tua Lisa untuk menjaganya di rumah sakit.


"Lisa tidak pernah bercerita tentangmu. Apa kamu bisa menceritakan dirimu sendikit?" Tanya ibu Lisa pada Juna.


"Saya teman klub Lisa di taekwondo. Kebetulan saya juga ikut pertandingan ini."


Ibu Lisa mengangguk. Tidak ada pertanyaan lain tentang apa yang terjadi pada Lisa karena kemarin Lisa sudah bercerita sendiri kepada ibunya menggunakan bahasa isyarat. Lisa masih belum bisa berbicara normal seperti biasa. Walaupun hari ini sudah lebih baik daripada kemarin.


"Sebaiknya paman dan bibi beristirahat sebentar. Aku akan menggantikan untuk menjaga Lisa." Tawar Juna, karena dirinya memang sudah pulang semalam. Dia tak menginap seperti kedua orang tua Lisa.


"Baik kalau begitu. Tolong jaga Lisa sebentar, kami akan keluar untuk mencari makan." Ucap ibu Lisa sambil memegang bahu Juna. Membuatnya mengangguk mengerti. Diluar sana Juna masih sempat mendengar keduanya memuji Juna sebagai anak yang baik.


"Kamu ingin air?" Tanya Juna saat perlahan Lisa mulai membuka matanya. Lisa mengangguk kecil menanggapi Juna.


Mengamil gelas di samping tempat tidur. Juna juga membantu mengatur posisi yang tepat agar air yang Lisa minum tidak tumpah.


#


"Lisaaaaaaa...." Pekikan suara Jeslyn terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka. Di sebelah Jeslyn juga sudah ada Yessi dan Solwa yang ikut datang menjenguk.


Jeslyn refleks menutup rapat mulutnya saat melihat Juna juga ada disana. Dia bertatapan sebentar dengan dua orang lainnya sebelum memberi hormat kepada kedua orang tua Lisa.


Kedua orang tua Lisa keluar untuk memberi ruang bagi teman-teman Lisa mengobrol. Walaupun begitu Jeslyn masih merasa sungkan karena keberadaan Juna.


"Sepertinya aku harus pergi juga. Nggak pa-pa, kan?" Tanya Juna pada Lisa. Lisa mengangguk kecil.


"Jangan buat dia berbicara terlalu sering." Ucap Juna sebelum akhirnya keluar.


"Bagaimana bisa Juna ada disini?" Jeslyn langsung membuka mulutnya lebar tepat setelah Juna menutup pintu. Rasanya dia tak bisa menahan pertanyaan yang bergelut di otaknya lebih lama lagi.


Lisa hanya menjawab pertanyaan Jenslyn dengan menggeleng kecil.


"Benar. Aku lupa kalau kamu belum boleh banyak bicara. Kamu berhutang banyak cerita kepadaku setelah keluar dari rumah sakit. Dan juga tentang chat Juna, bagaimana bisa kamu nggak cerita padaku sama sekali?"


Lisa langsung melirik tajam ke arah Yessi. Sedangkan pelakunya hanya membuang muka, menghindari tatapan mata Lisa. Namun akhirnya dia kembali menatap Lisa dengan senyum canggung.


"Sorry kelepasan." Sesal Yessi.


Lisa hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Setelah itu ketiganya hanya berceloteh sendiri sedangkan Lisa hanya bisa mengangguk dan menggeleng menanggapi ucapan dan pertanyaan mereka.


Walaupun ketiganya tak begitu mengerti apa maksud dari anggukan atau gelengan kepala Lisa. Tapi mereka masih saja terus berceloteh panjang.


#