Sweet Curse

Sweet Curse
Penyusup



Hari sudah siang. Bahkan matahari mulai begitu tinggi. Lisa mengerjabkan matanya mendengar sayup-sayup orang mengobrol memulai aktivitas mereka.


"Jam berapa sekarang?" Lisa melirik meja nakas, tapi dia lupa bahwa tempat ini bukanlah kamarnya. Sekarang dia tidak sedang berada di asrama.


"Benar. Aku sedang di dunia lain. Mana ponselku?"


Lisa meraih ponselnya. Beruntung ponsel itu masih menyala walaupun tak dapat digunakan untuk mengirim pesan. Sudah jam 9 pagi.


"Astaga! Apa aku kesiangan?!" Menendang selimut. Lisa langsung merapikan rambut cuci muka dan bergegas keluar kamar.


Nampaknya dia tidak sendirian. Tepat bersamaan Juna juga baru keluar kamar dengan buru-buru dan dalam keadaan yang sama dengannya.


"Kamu kesiangan juga?" Tanya Lisa berharap.


Melihat Juna mengangguk kecil membuat perasaan Lisa jadi lega. Setidaknya dia tak jadi tamu tak berakhlak sendirian.


"Aku hampir saja mau marah karena kamu nggak bangunin aku. Ternyata kamu sendiri juga kesiangan." Ucap Lisa asal.


"Kenapa kamu yang kesiangan jadi aku yang disalahin?"


"Tetep aja kan harusnya kita bareng-bareng ke meja makan."


"Kamu sudah kesiangan tapi masih mikirin makanan? Benar-benar luar biasa."


"Bukan begitu maksudku."


"Lalu apa? Kamu sendiri yang bilang."


"Kalian sudah bangun?" Tanya Lilith ramah sambil tersenyum. Membuat keduanya tersenyum canggung karena tak sadar sudah berada di ruangan yang berbeda.


Apalagi disana juga ada kakek. Pasti mereka mendengar semua perdebatan keduanya tadi.


"Kalian datang disaat yang tepat. Ayo sarapan." Lilith mempersilahkan keduanya duduk di meja makan.


Lisa dan Juna saling bertatapan. Disini sarapan sesiang ini? Bukannya sebentar lagi sudah waktunya makan siang? Mungkin sekarang sudah hampir jam 10. Keduanya bahkan tak berharap bisa sarapan hari ini. Tapi siapa sangka sarapan disini dilakukan begitu siang.


#


Lilith membawa Juna dan juga Lisa ke tempat pemakaman Lilian. Walaupun raga Lilian masih berada di dunia ini, tapi Lilith membangun tempat pemakaman untuk jiwa Lilian.


Ketiganya berdoa di makam Lilian dan juga Nenek Juna. Setelah itu Lilian kembali mengajak mereka untuk berkeliling.


Benar kata Lilith. Saat siang bahkan lebih banyak hewan eksotis berwarna-warni indah berjalan kesana-kemari dengan percaya diri.


Bahkan mereka tak merasakan takut saat Lisa mendekat untuk sekedar mengelus dan memberi mereka makan. Seakan mereka terlalu percaya pada makhluk lain, seperti tak pernah diburu oleh siapapun.


"Apa penduduk disini tidak pernah memburu mereka?" Tanya Lisa heran dengan tingkah laku para hewan yang tenang.


"Kamu benar. Kita semua disini vegetarian." Jawab Lilith tenang. Sedangkan Lisa dan Juna dibuat terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa ular vegetarian?


"Bagaimana bisa?" Tanya Juna tak mengerti.


"Kenapa juga harus tidak bisa?"


"Bukannya.. u-ular makan daging?" Tanya Lisa memberanikan diri.


"Pasti kalian salah sangka karena wujudku. Kita ini adalah dewa, bukan siluman ular. Kita para dewa dapat memilih bentuk hewan yang ingin dijadikan perwujudan. Jadi kami sepakat untuk memakai wujud ular sebagai identitas. Pada dasarnya kita bisa berubah wujud dalam bentuk apapun."


Lisa dan Juna mengangguk mengerti. Lilith benar, mereka memang mengira bahwa Lilith dan yang lainnya memang siluman ular, tapi ternyata mereka salah.


"Bibi senang kamu datang kesini. Jika saja kamu tidak datang, mungkin Bibi yang akan mendatangimu secara langsung."


"Bibi bisa datang menemuiku kapanpun Bibi mau."


"Tidak semudah itu. Ayahmu bukan tandingan Bibi. Bibi tidak akan bisa melawannya. Tapi sekarang kamu sudah dewasa. Energimu sudah terbentuk dengan sempurna. Kamu bisa melindungi keluarga kita seperti ibumu dulu."


"Tunggu dulu. Apa maksud Bibi? Aku melindungi siapa?"


"Tentu saja keluarga kita."


"Apa yang Bibi maksud dengan keluarga kita adalah semua orang yang berada disini?"


"Tentu saja. Kamu adalah penerus pimpinan kita."


"Tidak. Aku tidak bisa. Aku datang kesini bukan untuk itu. Lagipula kalian semua sudah cukup kuat. Aku bahkan tak tahu bagaimana cara untuk melindungi kalian dan dari apa aku harus melindungi kalian."


"Tentu saja dari para iblis yang tak pernah menyerah ingin mendapatkan sedikit energi dari para dewa, termasuk ayahmu."


"Tapi bagaimana caranya aku bisa melindungi kalian semua?"


"Bibi bisa melatihmu. Tentu saja jika kamu bersedia."


Ditengah pembicaraan mereka, tiba-tiba saja seorang pria dengan baju penjaga tengah tergopoh-gopoh berlari menghampiri mereka. "Putri..."


"Seseorang tengah mencoba membuka gerbang dimensi kita."


"Ayah?" Refleks Juna ucapkan. Lilith mengangguk.


"Ayo kita kesana sekarang."


#


Juna menatap takjub gerbang dan juga para penjaga yang tengah berjuang untuk menghadang pengusup untuk tak masuk lebih dalam.


Lilith langsung mengucapkan beberapa mantra sihir dan memukul mundur beberapa orang bayaran yang masuk lebih dulu. Tidak hanya itu, Lilith juga menutup kembali gerbang. Sayangnya sebelum gerbang benar-benar tertutup Ayah Juna lebih dulu melukai Lilith dari luar gerbang.


Walaupun mereka menang, tapi Lilith telah dibuat terpental jauh dengan luka di dada yang cukup parah.


"Bibi Lilith!"


"Putri Lilith!"


Semua orang yang berada disana berteriak panik mendatangi tempat Lilith terpental.


"Aku akan menggendongnya. Katakan dimana kita harus membawanya?" Tanya Juna mengangkat tubuh Lilith. Dengan sigap seorang penjaga menunjukkan tempat tabib pada Juna.


"Bibi tenang saja. Pasti dokter itu akan menyembuhkan Bibi." Ucap Juna menenangkan Lilith yang berada di gendongannya.


"Aku tahu." Ucap Lilith tersenyum sebelum akhirnya menutup mata.


#


"Tenang saja. Putri akan baik-baik saja. Walaupun cukup lebar, kita beruntung lukanya tidak begitu dalam." Ucap tabib setelah mengobati luka Lilith.


"Saya akan mengecek kondisi Putri 2 hari sekali untuk berjaga-jaga dan melihat perkembangan penyembuhan lukanya."


"Baik, tabib. Terimakasih banyak."


"Sama-sama. Keselamatan putri sudah menjadi tanggung jawab saya."


Juna dan Lisa duduk di dekat tempat tidur. Berjaga jika saat siuman Lilith membutuhkan sesuatu.


Lilith membuka matanya perlahan. Juna yang melihat itu langsung sigap berdiri. "Bibi sudah sadar? Apa Bibi membutuhkan sesuatu?"


"Kenapa wajahmu begitu serius? Apa kamu tidak mendengar apa kata tabib tadi? Aku baik-baik saja."


"Bibi sudah sadar dari tadi?"


"Belum, tapi Bibi bisa mendengar percakapan kalian."


"Bibi ingin minum?" Tawar Lisa.


"Boleh."


Juna membantu Lilith untuk bersandar pada tempat tidur agar Lilith bisa minum dengan mudah.


"Maaf aku tidak bisa membantu Bibi tadi."


"Jangan menyalahkan diri sendiri dengan sesuatu yang bukan perbuatanmu. Jika ada orang yang harus disalahkan, tentu saja ini salah Erka, ayahmu."


"..."


"Yang jadi pertanyaan bagaimana Erka bisa masuk? Seharusnya dia tidak bisa melewati gerbang dengan mudah."


"Sepertinya ayah sudah mendapatkan caranya."


"Apa mungkin ini karena sebagian energiku diambil saat itu?" Tanya Lisa khawatir.


"Energimu pernah diambil?" Lisa mengangguk kecil.


"Pantas saja. Pasti dia menyimpan energi kakak untuk membuka gerbang dimensi."


"Maaf. Saya tidak bisa menjaga energi ini dengan baik."


"Ini bukan salahmu."


"Apa Bibi memiliki guru lain yang bisa melatihku?"


Lilith tersenyum senang. "Apa kamu sudah memutuskan?"


Juna mengangguk mantap. Dia tak ingin ada korban lain dari perbuatan ayahnya.


#