
Ternyata yang dimaksud Lisa lumayan jauh adalah benar-benar jauh. Mereka bahkan harus naik kereta dan juga bus selama perjalanan. Belum selesai mereka juga harus naik kendaraan roda dua karena jarang ada mobil atau angkutan umum roda empat yang melewati jalan menuju desa Lisa
Melihat wajah lelah Juna membuat Lisa jadi tak enak. Seharusnya dia memberikan detail lengkap bagaimana perjalanan menuju rumahnya. Saat Lisa berniat meminta maaf, raut wajah Juna berubah saat melihat pemandangan desa.
Sepertinya Juna mulai menikmati suasananya. Lisa kagum Juna dapat beradaptasi dengan sangat cepat.
"Akhirnya sampai." Ucap Lisa lega.
"Kalian sudah sampai? Bagaimana perjalanannya? Apakah lancar?" Tanya ibu Lisa keluar menyambut Juna dan anaknya.
"Lancar, Bu."
Ibu Lisa memeluk Juna dan Lisa bergantian. Juna sempat terkejut mendapatkan perlakuan hangat seperti ini. Karena dia tidak pernah dipeluk orang lain sebelumnya.
"Ayo masuk. Pas ibu juga baru selesai masak makan siang. Ayo sekalian kita makan siang." Ucap ibu Lisa ramah pada Juna
Juna menyalami ibu dan ayah Lisa sebelum akhirnya mereka ditarik ke meja makan. Hidangan yang cukup lengkap hanya untuk makan siang. Juna sampai bingung dan memilih. Pada akhirnya dia memilih yang mudah untuk di jangkau dari tempatnya.
Mengerti seperti Juna cukup malu, ibu Lisa mengambilkan lauk yang tak bisa Juna jangkau dan meletakkan di dalam mangkuk milik Juna.
"Kamu harus mencoba semua masakan Bibi." Ucap ibu Lisa tersenyum ramah saat Juna terkesiap dengan perlakuannya.
Membalas dengan anggukan kecil dan senyuman ramah, dengan senang hati Juna memakan lauk yang diberikan kepadanya.
"Terimakasih ya Juna sudah sempatkan untuk main ke rumah Lisa yang sederhana ini."
"Seharusnya saya yang berterimakasih karena harus merepotkan paman dan bibi."
"Repot apa, kita malah sennag kamu main kesini."
Juna tersenyum ramah. Lisa sempat terkejut melihat bagaimana lembutnya Juna saat bersikap sopan begini pada orang dewasa. Benar-benar berbeda saat berada di sekolah.
"Bibi senang sekali Lisa memiliki teman laki-laki sebaik dan setampan kamu. Dari dulu Bibi ingin sekali punya anak laki-laki, tapi belum rejeki."
Lisa tersenyum kecut mendengar pernyataan ibunya. Itulah sebabnya dia berakhir seperti sekarang. Karena tidak bisa mendapatkan anak laki-laki, sedari kecil ibunya selalu mendidiknya layaknya anak laki-laki. Jadilah Lisa bersikap sedikit tomboy.
Sudah begitu saat besar dia dituntut untuk menjadi feminim layaknya perempuan pada umumnya. Mana bisa.
"Oh iya, kamu bisa meletakan barang-barangmu nanti di kamar depan itu."
Juna menatap Lisa bingung. Dia pikir mereka tidak akan menginap. Kenapa Juna harus repot-repot diberikan kamar? Lisa sendiri lupa tak memberitahukan bahwa ibunya juga memintanya menginap.
Sebenarnya bukan lupa, hanya saja Lisa berpikir Juna mungkin akan pulang lebih dulu darinya. Siapa sangka ibunya juga memintanya untuk tinggal.
Melihat Juna yang nampak terkejut ibu Lisa mulai menjelaskan. "Perjalanan kesini cukup jauh. Sebaiknya kalian menginap beberapa hari. Jangan sampai liburannya membuat kalian lelah."
"Tapi saya tidak membawa baju cukup untuk menginap." Jawab Juna keberatan.
"Gampang itu. Ayah Lisa punya banyak baju. Kamu bisa ambil manapun yang kamu mau. Iya kan Ayah?"
Ayah Lisa mengangguk kecil. Sepertinya ayah Lisa tipe orangtua yang tidak banyak bicara yang selalu mengikuti apa kata istrinya.
"Lihat. Jangan sungkan-sungkan. Anggap saja rumah sendiri."
Juna membalasnya dengan senyum kikuk. Mau bagaimana lagi sudah terlanjur. Kalau pun dia terus menolak malah kelihatan tidak sopan. Akhirnya Juna mengangguk setuju. Membuat ibu Lisa bersorak senang.
#
"Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Lisa berdiri diambang pintu kamar.
"Tidak. Aku bisa sendiri."
Lisa meletakkan selimut dan beberapa baju ganti di atas tempat tidur Juna. "Ini baju gantinya. Kalau butuh apa-apa panggil saja aku." Juna mengangguk kecil.
"Bukannya pergi, Lisa malah duduk di tepian tempat tidur. Menatap Juna yang masih sibuk dengan entah apa.
"Maaf ya, ibuku selalu suka berbuat seenaknya. Pasti kamu jadi nggak nyaman karena ini."
"Jangan khawatir. Aku nggak keberatan sama sekali."
Lisa tersenyum senang mendengar jawaban dari Juna.
"Dimana kita bis mendapatkan peralatan mandi?" Lisa tersenyum mendengar pertanyaan Juna. Akhirnya ada yang bisa dia bantu.
#
Mereka berjalan kaki menuju toko kelontong yang tak jauh dari rumah Lisa. Sebenarnya Lisa menawarkan apa yang dia punya di rumah, tapi Juna bersikeras untuk membelinya sendiri. Katanya dia memakai sabun dan pasta gigi dengan merk yang berbeda. Dasar Mr. Perfect.
Juna menatap bingung toko di depannya. Toko kecil dengan satu etalase kaca di depan pintu tokonya. Walaupun memang ada produk yang dia pakai terpajang disana, tapi Juna tak paham bagaimana cara mengambilnya.
Bagaimana cara kita masuk ke dalam?" Tanya Juna bingung.
"Apa maksudmu masuk?" Tanya Lisa heran.
Lisa memencet bel di dekat pintu toko sampai seseorang muncul dari dalam.
"Iya. Butuh apa?"
Lisa mempersilahkan Juna untuk menyebutkan apa saja yang ingin dibelinya. Setelah Juna menyebutkan semua keperluannya, maka penjaga toko itu dengan cekatan mengambilkan semua produk dan menghitung jumlah total bahkan tanpa menggunakan kalkulator.
Semua itu cukup mengagumkan di mata Juna. Baru pertama kali dia melihat cara belanja seperti ini. Dilayani dari awal sampai akhir. Tidak seperti di supermarket yang dia harus mengambil barang-barang sendiri di display dan mengantri panjang pada kasir.
Bahkan sampai perjalanan pulang dia masih merasa kagum. Padahal itu hanya sebuah toko kecil.
"Apa kamu sebegitu senangnya bisa membeli pasta gigi dan sabun?" Tanya Lisa tak mengerti saat melihat wajah Jungkook terus tersenyum sambil menatap kantong keresek di tangannya.
"Bukannya tadi inovasi yang bagus. Kita bahkan tak harus mengambil barang-barang sendiri dan mengantri panjang di kasir."
"Maksudmu toko tadi?"
Juna mengangguk.
"Ini kan hanya desa kecil. Siapa yang mau buka supermarket besar. Lagian kalau sampai dibuat seperti supermarket bisa habis barang-barang mereka diambil tanpa membayar."
Benar juga. Bagaimana mungkin desa kecil seperti ini memiliki CCTV untuk keamanan dalam usaha mereka.
Juna melihat beberapa anak kecil tengah bermain di sungai. Mereka tampak asyik dengan dunia mereka sendiri tanpa perduli sekitar ataupun orang lain yang lewat. Juna terus menatap sampai dia melihat ada orang dewasa yang juga mandi disana.
Tunggu dulu! Jangan bilang kalau mereka semua akan mandi di sungai. Juna tidak akan bisa untuk yang satu ini.
"Apa kita juga akan mandi disana?" Tanya Juna penasaran menunjuk ke arah anak-anak itu berada.
"Mana mungkin! Tentu saja kita akan mandi di rumah. Biarpun desa ini kecil, kita masih punya kamar mandi dan nggak harus mandi di sungai. Mereka hanya sedang bermain-main. Mungkin sebentar lagi ibu mereka akan menarik mereka keluar dari sana. Tapi kalau kamu mau coba mandi di sungai juga nggak pa-pa."
Juna melirik Lisa tajam. Sedangkan yang dilirik hanya bisa tertawa terbahak-bahak.
#