Sweet Curse

Sweet Curse
Apa Kita Teman?



Kabar tentang dikeluarkannya Fino sudah tersebar seantero sekolah bahkan dihari pertama Fino di DO.


Tentu banyak siswa yang menyetujui hal itu. Terjadinya penyerangan sesama siswa di sekolah membuat yang lain jadi merasa trauma.


Apalagi mereka sudah memiliki beban lain yang harus dipikirkan. Mereka tak akan sanggup belajar dengan perasaan was-was.


Setelah kejadian itu, tidak hanya Fino bahkan nama Lisa juga ikut terkenal. Entah terkenal sebagai korban Fino, atau gadis yang ditolong Juna, bahkan dia juga mendapat julukan Cinderella kelas khusus.


Tak sedetik mulut mereka terus membicarakan nama Lisa. Begitupun saat ini, kantin yang awalnya selalu menjadi tempat favoritnya, kini harus berbalik menjadi tempat yang paling dia benci.


Bagaimana tidak? Kantin merupakan tempat paling strategis bagi mereka bertukar informasi mengenai Lisa. Belum lagi saat Lisa lewat, dia hampir seperti radar yang selalu menjadi pusat perhatian.


Hari ini Cinta tidak masuk karena sakit, jadi Lisa bisa pergi ke kantin bersama Zoya dan Wendy. Beruntung keduanya tidak menghindari Lisa atau ikut bergunjing bersama yang lainnya.


"Mau makan di tempat lain?" Tanya Wendy menawarkan. Dia tahu Lisa tak merasa nyaman untuk makan di kantin.


Lisa menyadari niat baik Wendy, tapi dia tak enak hati harus membuat kedua temannya ikut kerepotan karenanya.


"Tidak perlu sungkan. Aku sebenarnya juga ingin makan di tempat lain. Di kantin rasanya begitu menyesakan." Tambah Zoya.


Akhirnya mereka memutuskan untuk makan di tempat lain. Zoya yang pertama mengusulkan untuk makan di atas atap. Katanya dia sudah lama ingin mencoba hal ini. Tapi karena dia diwajibkan menjadi siswa teladan seperti yang lain, jadi dia tak berani mencobanya.


"Ternyata angin disini benar-benar menyegarkan. Aku pikir di atas akan terasa panas." Zoya melebarkan tangannya. Merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.


"Aku sebenarnya sangat kesal dengan para manusia sok tau itu. Kenapa mereka suka sekali membicarakan urusan orang lain." Celetuk Zoya yang kemudian ikut bergabung bersama Wendy dan Lisa duduk.


"Dan juga kamu!" Zoya menunjuk ke arah Lisa kesal. "Bisa-bisanya kamu hanya diam saja."


"Lalu aku harus bagaimana? Toh mereka juga bukan sedang berkata buruk. Mereka hanya sedang membicarakan hal yang baru saja terjadi. Mereka akan diam dengan sendirinya."


"Woah... Apa kamu menghadiri kelas etika atau sejenisnya?" Tanya Zoya tak percaya mendengar jawaban anggun dari Lisa.


"Apa itu?" Tanya Lisa bingung.


"Lupakan. Kita tak harus membahasnya." Ucap Zoya menyerah.


Mereka melanjutkan makan dengan diam. Tidak ada lagi yang membahas tentang Fino, Juna atau yang lainnya.


Mereka hanya membahas tentang diri mereka masing-masing. Hal itu membuat Lisa cukup lega.


#


Lisa mengajak Wendy dan Zoya untuk mampir ke kamar asramanya. Karena terakhir Lisa ingat, Wendy sangat ingin tahu bagaimana rasanya berada di asrama.


Baru mereka bergurau ria, Juna sudah menghadang mereka. "Kamu pasti lupa hari ini ada latihan."


Lisa mengernyitkan dahi bingung. Mencoba sedikit mengingat-ingat. Namun dia tak mengingat apapun tentang adanya jadwal latihan.


"Apa benar ada?"


Juna sudah menyilangkan kedua tangannya kesal. Melihat Jungkook yang tampak marah, Wendy dan Zoya saling bertukar kode.


"Sudah. Sebaiknya lain kali saja kita pergi ke asramu." Ucap Wendy, begitupun Zoya. Mereka akhirnya berpamitan untuk pulang dan meninggalkan Lisa dan Juna.


"Tapi aku benar-benar nggak ingat kita ada jadwal latihan."


"Aku baru saja membuatnya." Balas Juna santai sambil berlalu di depan Lisa. Membuat Lisa menatapnya jengkel.


"Apa maksudmu? Apa sebenarnya hari ini memang nggak ada latihan? Benar, kan? Bukan aku yang melupakannya?"


"Apa hal itu penting? Percepat langkahmu. Kita akan segera berlatih. Ada banyak yang belum aku ajarkan padamu."


#


Yessi menghentikan langkahnya saat tiba-tiba saja melihat Juna dan Lisa masuk ke dalam lapangan tempat latihan.


"Yessi, kamu kenapa berhenti?" Tanya Solwa penasaran.


Yerin hanya tersenyum jahil ke arah Solwa. Melihat Yessi tersenyum seperti itu selalu berhasil membuat Solwa ketakutan.


"Jangan seperti itu! Kamu menakutiku."


"Haha... Maaf-maaf. Aku hanya baru saja melihat hal yang menyenangkan."


"Apa itu?"


Yessi melenggang pergi. Membiarkan Solwa yang terus merengek padanya.


#


Memelintir, mengunci dan melumpuhkan lawan. Entah kenapa Lisa tak mengingat semua teknik yang diajarkan Juna ada di taekwondo.


"Apa kamu mengerti?" Tanya Juna disaat Lisa masih sibuk dengan pikirannya.


Apa yang dikatakan Juna tadi? Lisa benar-benar tidak tahu. Bodohnya dia yang melamun saat Juna tengah mengajar.


"Aku merasa semua gerakan ini tidak ada di taekwondo." Ucap Lisa akhirnya. Karena dia cukup penasaran. Atau memang dirinya yang kurang belajar atau bagaimana.


"Memang tidak. Jika kamu melakukannya dalam pertandingan, maka mereka akan mengeliminasimu."


Lisa melirik Juna tajam. Lalu kenapa dia harus repot-repot dan bersusah payah untuk menghafal dan belajar semua ini?


"Lalu kenapa kamu harus melatihku semua ini jika mereka tak berguna di pertandingan?"


"Semuanya memang tak berguna di pertandingan, tapi semua teknik ini berguna untuk kelangsungan hidupmu. Jadi ingat dan pelajari baik-baik." Ucap Juna pergi mengambil tasnya dan berjalan keluar lapangan.


Melihat Juna sudah msu pergi, Lisa berlari menahannya. "Kenapa kamu mengajariku beladiri diluar taekwondo?" Walaupun Lisa sudah tahu, tapi entah kenapa dia ingin memastikannya lagi.


Dia tak mau salah mengira niat baik Juna. Karena laki-laki itu selalu saja bisa membuat orang lain salah paham.


Juna menatap Lisa seperti orang bodoh. Sepertinya penilaian Juna terhadap Lisa terlalu tinggi. Mungkin dia tak sepintar kelihatannya.


"Apa kamu selalu meminta penjelasan untuk semua hal? Kenapa kamu nggak coba mikir pakai otakmu sendiri."


Lisa mendesis kesal. Baru beberapa saat yang lalu dia berpikir Juna bisa bertingkah baik, tapi penilaiannya tak jadi berubah karena mulut menyebalkannya.


"Aku hanya bertanya. Apa sesusah itu untuk menjawab?"


"Tentu saja karena kamu butuh beladiri. Puas sekarang."


"Kamu khawatir padaku?"


Juna melotot ke arah Lisa, namun Lisa buru-buru menahan kedua tangannya untuk membentuk pertahanan.


"Sabar, sabar... Kalau begitu terimakasih. Tapi kenapa kamu melatihku beladiri? Bukannya kamu bilang nggak mau jadi temanku?"


"Apa aku harus menjadi temanmu dulu baru bisa melatihmu? Aku bahkan sudah menjadi pelatih taekwondomu sebelum kita berteman."


"Tapi ini berbeda. Kalau taekwondo kan karena untuk kepentingan sekolah, tapi kalau sekarang kamu tengah membantuku."


"Terserah apa yang kamu pikirkan. Aku hanya merasa perlu melakukan hal ini. Terserah kamu ingin mempelajarinya atau tidak bukan urusanku."


"Tentu saja aku akan mempelajarinya, tapi otakku sedikit bermasalah untuk dipakai menghafal. Jadi.. bisa kamu mengajarkannya lagi?" Tanya Lisa hati-hati.


"Boleh." Juna kembali berjalan pergi.


Beberapa detik Lisa sempat mematung karena terkejut. Dia tak menyangka Juna akan mengiyakan permintaannya semudah itu.


"Jangan pergi dulu. Kenapa kamu suka sekali terburu-buru sih?" Lisa berlari kecil mengejar Juna di belakang.


"Apalagi?"


"Kalau begitu apa kita sudah berteman?"


"Tidak."


Lisa memberengut sedih. "Kenapa?"


"Aku bilang tidak ya tidak."


"Kenapa kamu begitu keras kepala?"


"Dan kenapa kamu begitu gigih?"


Juna meninggalkan Lisa jauh. Tentu karena langkah kaki mereka yang terpaut cukup jauh membuat Lisa sedikit kesusahan mengejarnya.


#