Sweet Curse

Sweet Curse
Liburan Semester



Susah payah Juna menahan agar tak menunjukkan rasa bahagianya. Padahal dia sudah tahu bahwa akan dimarahi. Juna bahkan bisa melihat otot-otot wajah kepala sekolah mulai kaku menahan amarahnya. Bagaimana ini? Dia tidak tahan untuk tidak tersenyum.


Menarik nafas panjang. Kepala sekolah mengetuk permukaan meja beberapa kali dengan jari telunjuknya. Dia tahu putranya sedang menguji kesabarannya. Seharusnya dia tak kentara memperlihatkan ketidaksukaannya pada Lisa. Jadi semua ini tidak harus terjadi.


"Jadi kamu memilih untuk tak mendengar kata-kataku? Bukankah sudah sangat jelas bagaimana ayah melarangmu untuk menjalin hubungan dengan gadis itu."


"Saya sudah mencoba, tapi sayangnya saya hanya remaja pada umumnya." Balas Juna dengan senyum tipis. Membuat kepala sekolah semakin marah akan semua ini.


"Bagaimana bisa kamu mengencani temanmu sendiri?"


"Sebenarnya saya yang pertama mendekatinya. Sejak awal saya tidak bermaksud untuk berteman dengan Lisa."


Kepala sekolah mengangguk mengerti. Amarah bukanlah kunci untuk menghadapi putranya. Jika dia marah sama saja dengan mengakui upaya yang dilakukan Juna. "Kalau begitu lakukan sesukamu."


Senyum tertahan Jungkook menghilang. Hanya begitu saja? Ternyata ayahnya bisa menahan amarah sampai ditahap ini. Sepertinya dia perlu melakukan hal yang lebih dibenci ayahnya.


"Kalau begitu saya akan pergi sekarang."


"Juga selamat atas kerja kerasmu. Aku dengar semua siswa tak ada yang tinggal kelas tahun ini. Tentu sebagai kepala sekolah, ayah harus berterima kasih padamu yang telah bekerja keras."


Juna menggenggam tangannya erat. Sepertinya semua sudah ketahuan. Parahnya semua usahanya tak berdampak banyak. Ayahnya tak terdengar keberatan sama sekali tentang hal ini. Juna kembali melangkah pergi dengan amarah.


Juna tidak akan menyerah semudah itu. Dia tidak akan membiarkan ayahnya hidup tenang setelah apa yang telah ayahnya lakukan pada ibunya, pada istrinya sendiri.


#


"Ayo makan siang bersama." Ajak Juna pada Lisa saat Wendy dan Zoya hampir membawanya ke kantin untuk makan siang.


Mereka bertiga saling menatap mendengar ajakan Juna. Walaupun keduanya sudah resmi pacaran, tapi rasanya masih aneh melihat sikap manis Juna padanya.


"Kalau begitu kita duluan." Ucap Wendy menarik Zoya pergi. Tak ingin menjadi saksi bisu kemanisan hubungan mereka.


"Aku nggak tahu kalau kamu makan siang juga." Ucap Lisa heran. Pasalnya dia sama sekali tak pernah melihat Juna berada di kantin.


Sebelum mid semester kemarin adalah pertama dan terakhir Lisa melihat Juna berada disana. Membuat Lisa hampir lupa kalau Juna juga manusia seperti yang lain. Dia juga butuh makan dan minum.


"Tentu saja, aku juga butuh makan siang. Mana mungkin aku bisa melewatkan hal penting seperti itu."


"Habisnya aku nggak pernah lihat kamu makan di kantin."


"Aku nggak makan di kantin."


"Lalu?"


"Ikut aku."


Lisa mengekor di belakang Juna. Entah mau dibawa kemana lagi dia kali ini.


#


Rasanya seperti sedang berkencan dengan seorang buronan. Siapa sangka Juna memiliki tempat persembunyian lain di atap sekolah.


Banyak pertanyaan yang menyelimutinya. Bagaimana bisa Juna menyembunyikan tempat ini? Padahal tak sedikit siswa yang makan di atap. Bahkan sekarang ada sepasang siswa yang duduk berdua disana. Tempat yang sama saat Lisa menghabiskan jam makan siangnya bersama Wendy dan Zoya dulu.


Tunggu. Kalau begitu apa saat mereka istirahat disana Juna ada di dalam sini dan mengawasinya? Mendengar semua yang mereka bicarakan saat itu?


"Apa setiap jam makan siang kamu selalu disini?" Tanya Lisa khawatir. Walaupun dia tak ingat apa saja yang mereka bicarakan di atap, tapi sepertinya ada bagian yang menyebut tentang Juna juga.


Lisa menghampiri Juna yang masih sibuk membuat mie instan untuk mereka. "Kadang." Jawab Juna singkat.


"Mana aku tahu. Aku nggak pernah tertarik dengan apa yang terjadi diluar saat ada disini."


Lisa mengangguk mengerti. Sepertinya selain istirahat makan siang, Juna juga mengerjakan pekerjaannya disini.


"Ayo kita makan."


Lisa duduk dilantai dimana Juna meletakkan mangkok mienya di atas meja pendek. Walaupun hanya mie instan dan telur, tapi rasanya benar-benar luar biasa. Juna membuatnya seperti makanan terlezat yang pernah Lisa makan.


"Bagaimana kamu membuat ini?" Tanyanya tak percaya.


"Panaskan air sampai mendidih, masukan mie, telur, apalagi yang bisa dilakukan untuk memasak mie? Bukannya semuanya sama saja?"


Lisa tersenyum kecut. Percuma bertanya pada Juna. Jawabannya selalu menyebalkan. Walaupun begitu tetap saja laki-laki ini benar-benar luar biasa. "Kamu tahu kan kalau kamu itu benar-benar luar biasa."


"Aku tahu. Berhenti bicara dan cepat makan sebelum dingin."


Lisa mengangguk mengerti dan kembali menyantap makanannya. Sebagai rasa terimakasih, Lisa inisiatif untuk mencuci piring dan lainnya. Juna tak keberatan sama sekali dengan niat baiknya.


"Jadi.. liburan semester nanti kamu mau kemana?" Tanya Lisa setelah selesai dengan pekerjaannya. Ikut duduk disebelah Juna yang sibuk dengan tab di tangannya.


"Mungkin aku akan tetap disini." Jawab Juna tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kamu nggak pulang?"


Juna menggeleng. Lisa tahu hubungan Juna dan kepala sekolah memang tak akur, tapi siapa sangka sampai separah ini?


"Bagaimana kalau kamu pergi ke rumahku?"


Juna menghentikan pekerjaannya dan menatap Lisa heran. "Kenapa?"


"Jangan salah paham dulu. Sebenarnya ibuku mengundangmu untuk makan malam di rumah sebagai tanda terimakasih karena telah menolongku saat pertandingan kemarin. Itu kalau kamu nggak keberatan. Kalau misal orang tuamu nggak ngizinin, bahkan ibu bilang akan meminta izin langsung kepada orang tuamu."


"Dimana rumahmu?"


"Sebenarnya cukup jauh dari sini. Tapi aku jamin kamu bakal betah disana. Udaranya sejuk karena masih sedikit pedesaan. Lumayan bisa untuk refreshing."


Juna menimang sejenak. Sifat introvert-nya ingin menolak ajakan itu. Walau begitu tidak baik menolak niat baik orang lain. Apalagi orang tua Lisa sendiri yang meminta. Sepertinya tidak masalah jika dia datang berkunjung sebentar.


"Boleh." Balasnya sebelum kembali sibuk dengan tab ditangannya.


Lisa mengangguk mengerti. "Terimakasih. Kalau begitu aku akan memberi tahu ibuku." Dia mengetik pesan untuk melapor pada ibunya tentang hal ini. Tentu saja ibunya senang bukan main saat mendengarnya. Ibu Lisa bahkan mengatakan akan masak besar-besaran untuk menyambut Juna.


"Apa ibumu tahu kalau kita pacaran?"


"Aku nggak ngomong masalah ini pada ibuku. Kamu tenang saja."


"Beritahu saja nggak pa-pa."


"Kamu yakin?"


Juna mengangguk kecil. "Aku nggak maksa. Beritahu saja kalau kamu ingin memberitahunya."


Lisa melikri Juna kesal. Selalu saja dia memakai kalimat seperti itu. Bilang saja kalau dia ingin Lisa memberi tahu ibunya. "Kalau begitu aku nggak akan ngasih tahu ibuku. Aku nggak ingin berbohong padanya. Nggak pa-pa, kan?"


Juna mengangguk mengerti. "Terserah padamu."


#