
Kamar Juna nampak kacau dari luar. Semuanya terlihat berantakan dari luar karena pintu kamar Juna terbuka lebar.
Di dalam Juna terlihat tengah berkelahi dengan seorang anak kecil yang memiliki sayap lebar di punggungnya.
Lisa yang merasa khawatir langsung masuk ke dalam kamar mencoba membantu. Saat Lisa masuk anak itu menatap Lisa murka. Bocah itu langsung menyerangnya. Beruntung Juna berhasil menangkis serangan si bocah.
Lisa mengenali wajah itu. Bocah itu adalah adik Juna yang duduk di sebelah ibunya saat makan malam dulu.
Berkat Lisa yang tiba-tiba masuk membuat perhatian si bocah teralihkan kepada dua orang. Hal itu membuat Juna lebih mudah memojokkan adiknya karena perhatiannya terbagi.
Merasa terpojok akhirnya bocah itu memutuskan untuk menghentikan balas dendamnya.
"Lihat saja. Aku akan membalaskan dendam papa dan mama!" Teriaknya sambil memecah kaca jendela kamar dan terbang untuk melarikan diri.
"Kamu nggak pa-pa?" Tanya Juna khawatir dengan keadaan Lisa.
Lisa mengangguk kecil. "Aku baik-baik saja."
"Apa-apaan makhluk itu?" Tanya Jeslyn yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya.
Sepertinya dia tak melihat wajah bocah itu tadi. Jadi dia tak mengenali anak yang dia sebut makhluk.
"Dia mau balas dendam padaku." Jelas Juna.
"Kenapa begitu? Apa salahmu padanya?" Tanya Jeslyn geram.
Mulai terdengar suara gaduh diluar. Sepertinya beberapa orang yang pingsan sudah mulai sadar.
"Akan aku ceritakan besok. Sebaiknya kalian pergi dulu sebelum kalian mendapat hukuman karena masuk ke asrama putra."
"Benar juga." Ucap Jeslyn mulai panik. "Bagaimana ini?"
Lisa menatap jendela kamar Juna yang berlubang akibat perbuatan adiknya.
"Jangan konyol!" Ucap Jeslyn seperti tahu apa isi kepala Lisa. "Kita nggak mungkin baik-baik saja setelah lompat dari sana."
"Tenang. Aku pernah lompat dari tempat yang lebih tinggi dari ini." Ucap Lisa yakin.
"Itu kamu, aku nggak mungkin."
"Kamu tinggal naik ke punggungku. Aku akan menggendongmu sambil lompat."
"Kamu gila ya?!" Ucap Jeslyn semakin histeris.
"Gawat!" Ucap mereka bertiga bersamaan.
"Ayo cepat." Lirih Lisa berjongkok di depan Jeslyn agar temannya itu naik ke punggungnya. Walaupun ragu akhirnya Jeslyn naik juga ke punggung Lisa.
"Tutup matamu." Ucap Lisa sebelum melompat. Hanya Lisa tak tahu. Bahkan sebelum disuruh Jeslyn sudah menutup rapat matanya.
Akhirnya Lisa melompat turun dari jendela kamar Juna. Tepat sebelum kepala asrama datang untuk mengecek.
Mereka berdua berlari dan tentu saja memanjat dinding sebagai jalan keluar. Mereka tak ingin ambil resiko untuk melewati gerbang seperti kala mereka masuk.
#
Setelah kejadian semalam, Juna tak mengetahui dimana keberadaan adiknya. Dia sudah mencoba mencari informasi mengenai keadaan rumah. Tapi sepertinya rumahnya dalam keadaan berantakan.
Juna juga sudah mengurus tentang kepergian ayah dan ibunya. Dia tak ingin orang-orang berpikir macam-macam dan mencari alasan selogis mungkin dengan mengatakan bahwa ibunya sakit dan harus segera dibawa keluar negeri untuk berobat.
Setelah ini dia akan membuat skenario tentang kecelakaan agar orang-orang tak curiga bagaimana mereka meninggal. Bahkan Juna juga sudah menyiapkan surat kematian keduanya.
Sepertinya dia hanya perlu mencari keberadaan sang adik sebelum apa yang adiknya lakukan lebih buruk dari apa yang dia buat semalam.
Juna tak tahu bahwa adiknya akan berbuat sejauh itu. Dia juga tak tahu bahwa adiknya bahkan memiliki kekuatan yang dapat memojokkannya.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Lisa yang melihat Juna seperti banyak pikiran. Dia memberikan minuman kaleng pada Juna dan juga sebuah roti.
"Aku hanya sedang memikirkan dimana adikku sekarang berada."
Lisa mengangguk mengerti. "Apa sebaiknya kita mengatakan tentang adikmu pada Bibi Lilith?"
"Aku juga berpikir hal yang sama. Setelah mengurus semuanya aku akan pergi menemui Bibi untuk menceritakan tentang hal ini. Kamu mau ikut?"
Lisa mengangguk semangat. "Tentu saja. Bagaimana mungkin aku nggak ikut."
Juna tersenyum senang. Entah seberapa berat jalan kedepannya, sekarang dia tak sendiri lagi. Ada Lisa yang akan berjalan bersamanya.
"Apa?" Tanya Lisa karena Juna terus memperhatikannya.
Juna menggeleng kecil. "Makan rotimu."
"Kamu juga. Sebentar lagi istirahat hampir berakhir."
#