
Sesampainya di kamar Jeslyn langsung memeluk Lisa sambil menangis keras. Lisa yang terkejut hanya bisa menenangkan Jeslyn dengan mengusap punggungnya. Lisa tahu Jeslyn sangat ketakutan, tapi dia tak menyangka bahwa teman sekamarnya itu sampai menangis.
Beruntung Juna tak langsung memaksa Jeslyn untuk bercerita hari ini. Sepertinya dia sadar bagaimana kondisi Jeslyn sekarang.
"Lisa... Me-mereka.. hiks.. mereka semua bukan manusia, hiks..." Lirih Jeslyn sambil sedikit terbata karena isak tangisnya.
"Siapa yang kamu maksud mereka? Apa maksudnya keluarga Juna?"
Jeslyn mengangguk kecil. Tangannya gemetaran dan tubuhnya menggigil. "Kenapa badanmu menggigil seperti ini? Apa yang kamu butuhkan? Katakan apa yang bisa aku bantu?" Lisa panik melihat kondisi Jeslyn yang semakin parah. Seharusnya dia tak menuruti Juna untuk mengajak Jeslyn makan malam di rumahnya.
"A-ambil ponselku. Aku ingin menelepon ibuku."
Buru-buru Lisa mengambil ponsel Jeslyn, tak lupa dia juga langsung mencari kontak Ibu Jeslyn untuk ditelepon.
Setelah mendapatkan beberapa bacaan doa lewat telepon dari ibunya, kondisi Jeslyn lebih membaik. Lisa jadi merasa lega.
Kini Jeslyn bisa duduk dan berbicara dengan normal lagi. Walaupun di wajahnya masih tergambar ketakutan. Setidaknya dia lebih membaik dari sebelumnya.
"Jadi mereka bukan manusia? Tapi kenapa kita bisa melihatnya?" Tanya Lisa bingung.
"Tapi mereka bukan hantu. Aku sedikit menanyakan tentang hal ini pada ibuku tadi. Mereka seperti iblis yang ingin menjadi dewa dengan cara licik."
"Lalu bagaimana dengan Juna? Bukankah Juna manusia?"
"Itu yang aku bingungkan. Bagaimana bisa hanya Juna sendiri yang manusia, tapi seluruh keluarganya bukan. Atau jangan-jangan Juna anak angkat?"
"Nggak mungkin Juna anak angkat. Kamu ingat energi besar Juna? Aku pikir dia mendapatkan energi itu dari ayahnya ."
"Benar juga." Akhirnya Jeslyn tahu bagaimana manusia biasa seperti Juna mendapatkan energi sebesar itu.
"Pokoknya kita harus mengatakan hal ini dulu pada Juna."
"Apa kamu yakin? Kepala sekolah sudah memperingatkan kita untuk tak mengatakan apapun. Juga kalau Juna mendengar hal ini apa nanti dia nggak akan terkejut?"
"Aku mengira Juna sudah curiga tentang keluarganya. Karena itu dia nggak ingin pulang ke rumah lagi."
"Kalau begitu kamu saja yang cerita. Aku takut."
Lisa mengangguk setuju. Bagaimanapun Juna harus tahu yang sebenarnya. Walaupun dia mungkin terpukul dengan kenyataannya.
#
"Bagaimana dengan kondisi Jeslyn?" Tanya Juna.
Masih pagi sekali untuk memulai kelas, tapi Juna sudah membawa Lisa ke tempat persembunyiannya. Padahal belum juga matahari pagi naik, tapi Juna sudah mengirimnya pesan untuk bertemu.
"Dia sudah mendingan setelah dibacakan doa oleh ibunya."
Juna mengangguk mengerti. Dia bersyukur tak ada hal serius yang terjadi pada Jeslyn.
"Lalu apa yang kamu dengar darinya?"
"Bagaimana kamu bisa tahu ada sesuatu? Apa kamu sebenarnya sudah tahu?"
"Aku hanya merasa ada yang ganjal dengan ayahku, tapi aku belum tahu apa itu."
"Aku akan cerita, tapi janji padaku kalau kamu akan baik-baik saja setelah mendengarnya."
Juna mengangguk yakin. Dia sudah menunggu cukup lama untuk semua ini. Tak ada waktu bersedih baginya, sekalipun kenyataanya pahit. Dia hanya ingin tahu kebenarannya.
"Jeslyn bilang seluruh keluargamu bukan manusia. Mereka iblis yang ingin menjadi dewa."
Juna hanya mengangguk mengerti. Ternyata begitu. Jadi selama ini dia selalu dikelilingi oleh iblis. Reaksi biasa Juna jadi membuat Lisa semakin khawatir.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Juna mengangguk kecil. "Aku baik-baik saja." Tangan Juna menggenggam erat saat mengatakan hal itu.
"Tentu saja membalas dendam. Iblis itu telah membunuh ibuku dan menganti jiwanya dengan iblis sama sepertinya."
"Apa maksudmu?"
"Apa kamu merasa ada yang aneh dengan ibuku?"
Lisa berpikir sejenak. Sebenarnya Lisa merasa bahwa Ibu Juna masih sangat muda padahal sudah memiliki anak sebesar Juna. Tapi Lisa pikir semua itu tak lebih dari bantuan dari perawatan wajahnya. Lagipula sekarang sudah jaman modern.
" Sebenarnya ini nggak terlalu aneh. Tapi aku rasa ibumu terlihat masih sangat muda."
"Benar. Awalnya ibuku nggak terlihat semuda itu. Semua itu berubah saat aku masuk SMP. Saat itu aku juga bermimpi didatangi sekumpulan ular dan ibuku berada di tengah-tenganya. Dia mengatakan bahwa yang aku lihat sekarang bukanlah dia yang sebenarnya. Ayahku telah membunuh ibuku dan menggantikannya dengan iblis wanita itu."
"..."
"Bahkan saat di dalam mimpi dia masih meminta maaf kepadaku karena telah memilih ayah yang salah. Padahal semua ini bukan salahnya."
"Tunggu dulu. Kamu bilang ular?"
Juna mengangguk mengiyakan. "Apa kamu tahu sesuatu?"
"Sebenarnya dewa yang memberiku energi ini juga berwujud ular. Ular kecil berwarna hitam. Ada sepasang telinga kecil di atas kepalanya."
"Ular di mimpiku juga berwarna hitam, tapi aku nggak ingat apa mereka memiliki telinga."
"Apa menurutmu dewa yang memberikanku energi adalah ibumu?"
"Mana mungkin. Ibuku hanya manusia biasa. Kalau dia dewa, nggak mungkin dia kalah melawan ayahku."
Benar juga. Kenapa Lisa tak memikirkan hal itu. Tunggu dulu, dia jadi ingat dengan novel yang pernah dia baca di kelas.
"Ayo ikut aku." Lisa menarik Juna keluar. Juna hanya bisa menurut karena sepertinya Lisa tahu sesuatu.
#
Disinilah mereka. Berada di kelas yang dulu mereka tempati tahun kemarin. Beruntung belum ada yang datang, jadi mereka bisa mencari novel itu lebih leluasa.
"Apa yang kamu cari?" Tanya Juna bingung.
"Bantu aku cari sebuah novel."
"Novel apa? Di rak ini hanya berisi buku-buku pelajaran. Bagaimana bisa ada novel."
"Ada. Percaya padaku, aku pernah membacanya."
Walaupun masih tak percaya, pada akhirnya Juna membantu Lisa mencari novel yang bahkan dia tak tahu judul dan juga bagaimana covernya.
"Ketemu!" Ucap Lisa semangat sambil menunjukkan sebuah buku tebal pada Juna.
"Kamu harus baca ini. Karena aku nggak berani baca itu lagi." Ucap Lisa sambil memberikan buku itu pada Juna.
"Kenapa?"
"Terakhir kali aku membacanya dewa jahat berwujud burung mendatangiku. Ingat saat aku berteriak dan pingsan pertama kali di kelas? Itu karena aku membaca buku ini."
Juna menerima buka dari Lisa. Buku tebal bergambar dengan nuansa dongeng yang melekat. Juna tak tahu apa bisa membaca buku seperti ini. Tapi jika ini ada hubungannya dengan ayah dan ibunya, maka dia harus membacanya.
"Saat pertandingan kamu juga pingsan. Apa itu semua juga karena dewa burung ini?"
Lisa mengangguk. "Dia mencekik dan menyerap sebagian energiku. Beruntung kamu datang disaat yang tepat. Dia selalu pergi saat kamu ada di sekitarku. Bahkan mungkin karena aku semakin sering bersamamu dia nggak pernah datang padaku lagi."
"Bukankah itu aneh? Kenapa bisa begitu?"
Lisa mengangkat bahunya tak mengerti. "Aku nggak tahu, tapi aku senang dia nggak muncul lagi. Dan juga aku harap buku ini bisa membantumu."
#