Sweet Curse

Sweet Curse
Makan Malam



Benar apa kata Juna. Kepala sekolah tak berkomentar banyak tentang Lisa yang mengajak Jeslyn bersamanya. Beliau hanya tersenyum seperti biasa.


Disini yang terlihat aneh bukannya kepala sekolah melainkan Jeslyn. Entah kenapa sedari tadi Jeslyn terus saja diam.


Sesekali Lisa sudah berusaha mengajaknya bicara atau sekedar menanyakan apa dia baik-baik saja. Bukannya menjawab, Jeslyn hanya menggeleng saja.


Aneh. Jeslyn seperti sedang ketakutan sekarang. Lisa menggenggam tangan Jeslyn yang tengah duduk bersamanya di kursi belakang.


Wajah pucat Jeslyn tersenyum tipis merasakan genggaman Lisa.


"Tenang, ada aku disini. Semua akan baik-baik saja." Bisik Lisa lirih. Jeslyn mengangguk kecil, percaya pada ucapan Lisa.


Sedangkan Juna juga beberapa kali melirik kursi belakang melalui kaca spion. Dia tak bodoh sampai tak sadar apa yang sedang terjadi pada Jeslyn.


Tentu sumbernya adalah ayahnya. Siapa lagi. Juna melirik beliau yang fokus di belakang kemudi.


Juna menduga ayahnya juga sadar dengan apa yang terjadi oada Jeslyn. Sepertinya dia sengaja membuat Jeslyn ketakutan seperti sekarang.


Walaupun tak kelihatan kentara, tapi Juna yakin ayahnya tak suka melihat Jeslyn ada disini.


Sampai sekarang Juna masih belum tahu sebenarnya apa yang sedang disembunyikan ayahnya.


Namun setelah malam ini sepertinya semua akan terbongkar. Jeslyn pasti dapat melihat semuanya.


Mereka sampai di rumah Juna. Seperti kata orang-orang. Rumah ini nampak bak istana di tengah kota.


Bahkan dari gerbang menuju pintu rumah saja berjarak cukup jauh. Di depan rumah juga masih terpakir beberapa mobil mewah keluaran terbaru.


Siapa sangka bahwa pemilik rumah ini adalah seorang kepala sekolah. Pasti jika orang awam melihatnya, mereka akan mengira bahwa pemiliknya adalah seorang pengusaha sukses.


Lisa melirik Jeslyn yang masih menggenggam tangannya erat. Padahal tadi siang dia yangg paling semangat untuk melihat rumah Juna.


Sedangkan sekarang, jangankan bersemangat. Dia seperti ingin segera pulang.


"Kalian sudah datang. Ayo masuk." Sapa seorang wanita cantik nan anggun. Siapa sangka bahwa ibu Juna masih semuda ini.


Di sebelahnya ada seorang anak perempuan sekitaran umur 3 tahun. Lisa cukup terkejut bahwa kabar tentang Juna yang memiliki adik perempuan bukan sekedar rumor. Dia benar-benar memiliki adik perempuan yang usianya cukup jauh di bawahnya.


Lisa menganga saat mendapati meja panjang dengan lilin-lilin di atasnya. Siapa mereka yang harus dijamu seperti ini? Tidakkah ini berlebihan?


Meja makan mereka seperti apa yang Lisa bayangkan berada di kerajaan selama ini. Dia tak menyangka bahwa di kehidupan nyata ada yang melakukan hal yang sama. Bedanya mereka tak memiliki banyak pelayanan seperti di kerajaan sungguhan.


"Apa ini terlalu berlebihan? Maaf. Aku sangat senang saat mendengar Juna membawa temannya ke rumah." Ucap Ibu Juna tersenyum malu.


"Tidak apa-apa. Lagipula Juna juga sudah lama tidak pulang ke rumah. Iya, kan?" Tanya kepala sekolah kepada putranya.


Juna tak menjawab dan hanya duduk diam di sebelah Lisa. Di kursi utama ada ayah Juna. Sedangkan ibu dan adik Juna berada di meja sebelah kiri. Mereka bertiga berada di seberang ibu Juna.


Setelah kepala sekolah mempersilahkan untuk makan, mereka memulai acara makan ini.


Suasananya sangat hening. Bahkan Lisa sampai tak berani membuat bunyi sendok.


Mereka semua makan dalam diam. Tak ada yang memulai percakapan. Bahkan suara mengecap pun seperti dilarang.


Lisa melirik Jeslyn yang bahkan belum berhasil menyuap makanannya sama sekali.


Pantas saja Juna tidak ingin pulang ke rumah. Walaupun Lisa tahu pasti bukan ini masalah utamanya.


"Jadi, bagaimana dengan liburanmu? Ibu dengar kamu berlibur ke rumah Lisa." Ucap Ibu Juna membuka percakapan setelah acara makan malam mereka selesai dan piring kotor sudah dibawa pergi.


"Jangan bertingkah seolah-olah kamu ibuku." Ucap Juna ketus.


Ibu Juna hanya tersenyum pahit mendengar ucapan jahat itu keluar dari mulut putranya sendiri.


Sekarang Lisa hanya berdiam diri. Dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga ini. Dia hanya ingin segera pulang. Suasananya sangat tidak nyaman.


"Bagaimana dengan Lisa? Aku ingin tahu tentangmu lebih jauh. Bisa dibilang kamu teman pertama yang dibawa Juna ke rumah."


Lisa melirik ke arah Juna sebentar. Juna terlihat acuh. Wajah masamnya sedari tadi tak kunjung mereda.


"Kami berada di klub taekwondo yang sama di sekolah dan sekarang kami juga teman sekelas."


"Tentu aku tahu semua itu. Maksudku yang lainnya. Seperti asal dan lainnya."


"Kenapa Anda bertanya? Apa Anda tak melihat dia keberatan untuk bercerita?" Ucap Juna akhirnya.


"Ibu hanya bertanya. Maaf kalau Bibi menyinggungmu." Sesal Ibu Juna pada Lisa.


"Tidak masalah." Hanya itu jawaban yang terlintas dalam pikirannya.


"Kalau begitu, temanmu yang ini?" Tanya Ibu Juna beralih ke arah Jeslyn.


Jeslyn semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Lisa. Membuat Lisa refleks menengok ke arah Jeslyn.


"Ah maaf, namanya Jeslyn. Dia sedang tidak enak badan saat perjalanan tadi. Mungkin mabuk darat." Bohong Lisa karena sepertinya Jeslyn sama sekali tak ingin berbicara dengan siapapun saat ini.


"Oh begitu. Kenapa tidak bilang dari tadi." Ibu Juna langsung memanggil asisten rumah tangganya untuk mengambilkan sesuatu.


ART Juna meletakkan semangkuk cairan berwarna cokelat pekat dan berbau seperti obat herbal.


"Itu obat khusus keluarga kami. Kamu akan merasa lebih baik setelah meminumnya."


Lisa bingung sekarang. Tidak mungkin dia memaksa Jeslyn untuk meminumnya. Dia kan tidak benar-benar sakit.


"Dia sudah minum obat saat perjalanan kesini. Perutnya akan meledak jika ditambah itu."


"Ibu tidak tahu." Ibu Juna memerintahkan ART-nya untuk mengambil obat herbal itu kembali.


"Sepertinya makan malam ini tidak berjalan cukup baik. Maafkan aku yang membuat suasana jadi tak nyaman." Sesal Ibu Juna pada Lisa dan Jeslyn.


Lisa menggeleng cepat. Tak lupa menggerakkan kedua tangannya yang berarti 'tidak'.


"Tidak sama sekali. Makanannya sangat enak. Kami sangat menikmatinya."


"Benarkah. Senang mendengarnya. Bibi memasaknya sendiri. Khusus untuk hari ini."


Lisa tersenyum canggung. Sebenarnya Ibu Juna cukup ramah. Tapi Lisa merasa tak nyaman dengannya, entah apa alasannya.


"Makan malam ini sudah selesai. Kita akan kembali ke asrama." Ucap Juna sambil berdiri dari kursinya.


"Apa ayah mengajarkanmu bertingkah tidak sopan seperti sekarang?"


Dengan wajah menahan amarah Juna kembali duduk di tempatnya.


"Ayah, ini sudah malam. Benar kata Juna, sebaiknya mereka segera kembali." Tukas Ibu Juna.


"Supir akan mengantar kalian. Hati-hati di jalan. Dan.. jangan mengatakan hal-hal yang tak perlu." Ucap kepala sekolah yang entah hanya perasaan Lisa atau kalimat itu memang ditunjukkan untuk Jeslyn.


Karena beliau seakan menatap tajam ke arah Jeslyn walaupun hanya sebentar.


Meskipun begitu Lisa dan Jeslyn merasa lega karena sudah bisa pulang. Pada akhirnya mereka semua berpamitan dan di antar oleh supir keluarga Juna.


#