Sweet Curse

Sweet Curse
Nilai Sempurna



Juna menggeleng, merasa bodoh dengan apa yang dilakukan barusan. Walaupun dia tahu bahwa gelang itu bukan milik Lisa, tapi bagaimanapun dia sendiri datang untuk mengakui gelang itu untuknya. Seharusnya dia tak melakukan hal bodoh itu dan membiarkan Lisa dihukum sesuai peraturan yang berlaku.


"Aghh.. ada apa denganku." Juna mengacak kesal rambutnya hingga berantakan.


Bahkan dia sampai tak menyadari bahwa sudah ada dua orang anggota OSIS yang masuk dan melihat apa yang baru saja dia lakukan.


Keduanya saling menatap dan kemudian mengangguk kecil untuk bergerak mundur kembali keluar ruangan. Sepertinya Juna sedang sangat kelelahan, karena mereka tak pernah melihatnya sekacau itu. Sebaiknya mereka pergi dan tidak menggangu Juna yang sedang bekerja.


#


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga minggu depan mereka sudah harus menghadapi mid semester. Berbeda dari mid semester kemarin, kali ini bahkan Lisa tak tahu harus berbuat apa.


Tentu saja dia belajar seperti biasa, tapi rasanya jadi membosankan karena dia bisa menebak semua jawaban dengan benar. Dalam suasana khidmat karena semua orang mempersiapkan diri untuk mid, Lisa jadi tak memiliki seorangpun untuk diajak jalan-jalan. Dia bahkan tak tahu harus merasa senang atau sedih akan hal ini.


Lisa menutup buku latihannya. Menatap Jeslyn yang berada di meja lain yang berjarak tak jauh dari mejanya. Walaupun Jeslyn tak bilang, tapi sudah ada aura larangan untuk tidak mengganggu di sekeliling Jeslyn.


Lisa hanya bisa mengembuskan nafas panjang. Dengan hati-hati dia berjalan pelan keluar dari kamar agar tak mengganggu Jeslyn. Sepertinya dia akan pergi ke kantin saja.


Sudah Lisa duga bahwa kantin sekarang telah kehilangan pamornya. Jika sudah musim ujian, para siswa hanya akan memenuhi perpustakaan. Ini bukan hal yang mengejutkannya lagi. Mengingat bagaimana sekolah ini merupakan sekolah terbaik. Tentu saja mendapatkan nilai bagus juga sangat sulit. Karena mereka memiliki standar yang cukup tinggi.


Lisa memesan makanan seperti biasa. Saat akan menyantap makanannya, Lisa melihat hal yang membuatnya terkejut. Dia melihat Juna juga tengah berada di kantin.


Apa murid pintar seperti Juna selalu merasakan hal yang sama seperti dirinya sekarang? Merasa bosan dengan semua soal bahkan tanpa mencoba. Bukankah hidup rasanya tak adil?


Tak sadar entah berapa lama Lisa menatap Juna hingga akhirnya laki-laki itu sadar sedang ditatap olehnya. Kaget karena mata mereka saling bertemu, Lisa hanya bisa tersenyum dan bersikap senatural mungkin. Lisa juga sempatkan untuk melambaikan tangan pada Juna, tapi seperti biasa Juna tak akan balik menyapa atau berbasa-basi. Dia hanya pergi begitu saja.


Lisa tahu bahwa hal ini akan terjadi, tapi rasanya kesal juga diabaikan seperti itu. Bisa-bisanya ada manusia begitu dingin dan sombong seperti ini. Lisa mengepalkan tangannya dan memukul angin yang ditunjukkan untuk Juna.


#


Setelah seminggu berlalu, begitupun mid semester usai. Semua siswa baru bisa mendapatkan nyawa mereka kembali yang sebelumnya seperti sedang mereka berikan pada dewa. Sekarang mereka tampak lebih ceria dan saling memeriksa jawaban masing-masing.


"Lisa bagaimana? Kamu lancar ujiannya?" Tanya Jihan, tapi Lisa hanya tersenyum kecil menanggapinya.


"Jangan tanya dia, dia pasti menjawab semuanya dengan mudah." Balas Jeslyn yang membuat temannya yang lain bingung. Lisa saja tak pernah masuk 10 besar di kelasnya, bagaimana mungkin Jeslyn bisa seyakin itu?


"Kamu menandai jawabanmu dilembar soal?" Tanya Jeslyn kemudian. Lisa mengangguk mengiyakan lalu memberikan lembar soalnya pada Jeslyn.


Lagi-lagi siswa yang lain merasa heran karena Jeslyn lebih memilih memeriksa jawabannya dengan milik Lisa dan bukan dengan Mawar yang merupakan juara umum di kelas mereka.


"Ah.. matematika aku salah 5, bahasa 6, kimia 8, fisika hancur... Ah, masa bodoh." Jeslyn tak lanjutkan ucapannya dan memasukkan semua soal miliknya ke dalam tas.


"Ayo kita ke kantin saja. Otakku bisa terbakar jika terus membaca semua soal-soal itu." Ajak Jeslyn dan senang hati disetujui oleh Lisa.


"Bagaimana rasanya jadi pintar?" Tanya Jeslyn penasaran sambil menyendok makanannya.


"Tidak buruk, tapi sedikit membosankan. Sebenarnya aku juga merasa sedikit nggak adil."


Lisa mengangguk kecil. "Benar, aku bahkan sebelumnya juga pernah berpikir seperti itu."


"Tentu saja, semua orang juga seperti itu. Akupun sama, tapi kenyataannya para dewa tak ada yang memihak padaku."


"Tapi.. apa kamu nggak pernah minta bantuan teman-teman hantumu untuk mencontek?"


"Pertama, aku tidak berteman dengan hantu. Kedua, aku nggak ingin berbuat curang. Dan ketiga, tidak ada yang gratis. Jika mereka mau membantu, pasti mereka juga akan meminta imbalan."


"Repot juga ya."


"Sangat."


"..."


"Aku tak mengira ujian di sekolah ini begitu serius."


"Tentu saja. Karena mereka tak ingin dikeluarkan dari sekolah ini."


"Jadi hal itu benar? Jika ada anak yang nggak lulus akan dikeluarkan?"


Lisa mengangguk, kemudian menyendok makanan masuk ke dalam mulutnya.


"Kenapa sekolah ini begitu ketat? Dan kenapa juga masih banyak yang ingin masuk ke sini? Hah... Jika bukan karena permintaan almarhum ayahku, aku juga tidak akan mau bersekolah disini."


"Sebagian siswa disini bersekolah juga karena kemauan orang tuanya. Mau bagaimana lagi? Semua lulusan sekolah ini berhasil masuk top 3 universitas terbaik. Siapa yang tidak tertarik?"


Jeslyn mengangguk mengerti. Sebenarnya dia sudah mendengar tentang hal ini, tapi dia pikir semua orang tengah membodohinya. Nyatanya hal itu benar terjadi. Lagipula jika mereka dikeluarkan dari sekolah ini, bukan berarti mereka akan gagal, kan? Jennie hanya tak habis pikir.


Lebih menyebalkannya lagi atmosfer ini membuat Jeslyn terbawa suasana. Dia yang sebelumnya selalu santai berakhir dengan mengurung diri di kamar dengan tumpukan buku-buku soal latihan.


#


Semua murid sudah berkumpul di papan pengumuman sejak pagi tadi. Mereka beramai-ramai berkumpul untuk mencari dimana rangking nama mereka berada.


Lisa yang penasaran dengan hasil otaknya sekarang ikut berdesakan mencari namanya. Ada kebiasaan lama yang Lisa lakukan, yaitu mencari namanya dari rangking bawah agar lebih cepat. Dia lupa bahwa sekarang dia punya otak super yang tak harus membuatnya berada di tempat ratusan lagi.


"Lisa lihat! Total nilaimu sama dengan milik Juna!" Ucap Jeslyn histeris setelah menemukan nama Lisa berada di posisi kedua, berada tepat di bawah nama Juna.


Mereka memang memiliki jumlah nilai total yang sama. Mungkin karena abjad nama Juna lebih dulu dari nama Lisa, jadi Juna yang berada di posisi pertama. Pada dasarnya keduanya adalah rangking satu.


Bukannya maju untuk melihat, Lisa malah mundur kebelakang saat semua mata menatapnya penuh intimidasi. Mereka seakan tak percaya ada siswa yang mengimbangi nilai Juna. Bahkan mereka tak begitu mengenal Lisa sebelumnya.


Lisa semakin menjauh dari papan pengumuman saat semua siswa mulai bergunjing tepat di depan matanya. Bahkan dia menghiraukan panggilan Jeslyn.


#