Sweet Curse

Sweet Curse
Calon Menantu



Meskipun tidur cukup larut, beruntung Lisa masih bisa bangun pagi dan membantu ibunya untuk memasak di dapur. Selama memasak entah kenapa Lisa merasa ibunya bertingkah aneh.


Tak hanya sekali, tapi sudah berkali-kali ibunya diam-diam melirik ke arahnya. Walaupun secara diam-diam, nyatanya lirikan mata itu tampak jelas di mata Lisa.


"Kenapa Ibu terus melihatku seperti itu?" Tanya Lisa penasaran. Rasanya tak nyaman terus diperhatikan diam-diam seperti ini. Rasanya seperti diintai. Meskipun oleh ibumu sendiri.


"Jadi ada hubungan apa kamu sama Juna? Apa kalian pacaran?" Tanya ibu Lisa sambil tersenyum sumringah.


Tentu saja Lisa terkejut mendengarnya. Bagaimana ibunya bisa tahu? Apa Jeslyn yang memberitahunya? Sebenarnya dia tak ingin berbohong pada ibunya. Apalagi ibunya terlihat sangat bahagia dengan hal ini.


"E... Emm... Sebenarnya, kita memang pacaran." Aku Lisa.


Ibu Lisa bertepuk tangan gembira mendengar kabar bahagia ini. "Kenapa nggak ngomong dari awal? Seharusnya kamu perkenalkan dia sebagai pacarmu saat makan malam kemarin. Ayah dan ibu nggak mungkin keberatan."


Lisa hanya tersenyum kikuk mendengarnya. Mau bagaimana lagi? Kan sebenarnya dia tidak ada niatan untuk memperkenalkan Juna sebagai pacar.


CEKLEK


Ibu Lisa menengok ke arah pintu kamar Juna yang dibuka dari dalam. Juna keluar tentu saja dengan muka bantal yang masih terlihat tampan.


"Ya ampun, calon menantu ibu kenapa pagi-pagi sudah bangun?" Juna yang masih setengah sadar, matanya kini dibuat terbuka lebar. Apa dia tidak salah dengar? Siapa yang ibu Lisa maksud sebagai calon menantu?


Juna mengerjab beberapa kali. Menatap kearah Lisa untuk mencari penjelasan. Bukannya menjelaskan Lisa hanya membuang wajahnya menatap ke arah lain. Jangankan Juna, Lisa saja juga dibuat terkejut dengan perkataan ibunya.


"Nggak perlu sungkan. Ibu sudah tahu semuanya dari Lisa. Apa kamu butuh sesuatu?" Tanya ibu Lisa ramah sambil mengelus kedua bahu lebar Juna.


Juna tersenyum kikuk. Sepertinya ibu Lisa tahu tentang mereka berdua yang tengah berpacaran. "Saya hanya akan jalan-jalan keluar sebentar."


"Benar. Udara pagi disini benar-benar bagus. Kamu pandai beradaptasi. Kalau begitu biar Lisa menemanimu berkeliling di desa. Lisa... Ke sini sayang."


"Tidak perlu, Bibi. Saya tidak berniat pergi terlalu jauh."


"Ah jangan sungkan."


"Iya? Kenapa ibu memanggilku?"


"Sudah kamu nggak perlu bantu ibu di dapur. Temani saja Juna jalan-jalan. Kemarin kalian belum sempat berkeliling desa, kan?"


Keduanya saling menatap. Memberikan kode masing-masing lewat mata. Entah apa kode yang sengaja diberikan tersampaikan dengan baik atau tidak.


"Sudah sana." Ibu Lisa mendorong pelan tubuh putrinya.


Akhirnya Lisa hanya bisa pasrah dan mengajak Juna untuk berkeliling. Padahal dia ingin sekali merusuhi ibunya di dapur. Sudah lama dia tidak melakukan rutinitas itu.


"Maaf ya, ibuku sudah tahu tentang kita." Ucap Lisa memecah keheningan di sepanjang jalan.


"Iya, aku tahu." Juna tersenyum tipis.


"Kenapa? Apanya yang lucu?" Tanya Lisa curiga.


"Ibumu sedikit aneh. Biasanya orang tua akan protektif pada pacar anaknya, tapi coba apa yang telah ibumu lakukan. Orang tua mana yang bahkan menyuruh anaknya untuk pergi berduaan dengan pacarnya." Senyum Juna semakin melebar di akhir penjelasannya.


"Itu karena ibuku menyukaimu." Jelas Lisa. "Ibu nggak bersikap seperti ini pada semua pacarku. Tentu saja ada yang sampai diusir dan nggak pernah datang lagi."


"Serius? Jadi kalau begitu aku direstui?" Ada nada bangga di dalam kalimat Juna.


"Sebenarnya aku sedikit khawatir tentang ini."


"Kenapa?"


"Bukannya kamu melihat sendiri bagaimana ibuku sangat menyukaimu? Dia bahkan memanggilmu calon menantu. Apa-apaan itu? Kita bahkan nggak benar-benar pacaran." Lisa menghembuskan nafas panjang, "sebenarnya aku ingin jujur, tapi aku nggak mau ibuku kecewa, tapi apa menurutmu ibu akan lebih kecewa jika tahu kita berbohong?"


Lisa menatap Juna dengan wajah sendu. Juna tahu maksud Lisa. Dia pun sama, juga tidak ingin membohongi orang sebaik ibu Lisa. Beliau orang pertama yang bersikap hangat padanya selain ibu kandungnya sendiri.


"Kalau begitu, mau coba pacaran beneran?"


Terdiam. Entah kenapa Lisa merasa ada yang salah dengan pendengarannya. Bicara apa Juna barusan?


"Hah?!!"


Sepertinya Juna masih mengigau atau sejenisnya. Tentu saja. Pasti nyawanya masih banyak yang tertinggal di rumah sampai bisa bicara ngelantur seperti sekarang.


Seakan menunggu jawaban dari Lisa, Juna terdiam. Mereka berdua menghentikan langkah sampai ada sebuah pengendara sepeda yang meneriaki mereka untuk minggir.


"Aku nggak akan meminta jawabanmu sekarang. Kamu bisa memikirkannya dulu."


"Hah...?" Mulut Lisa masih saja terbuka lebar. Dia masih berdiam diri, mematung. Bahkan setelah Juna cukup jauh berjalan meninggalkannya di depan.


#


Ibu Lisa melihat anaknya bertingkah aneh. Lisa terus saja tak fokus setelah pulang berkeliling desa tadi pagii. Sekarang juga dia hanya mengaduk-aduk nasi di piringnya tanpa segera menyuap ke dalam mulutnya.


"Jangan main-main dengan makanan. Cepat buka mulutmu." Ibu Lisa menyendokan nasi dan lauk masuk ke dalam mulut Lisa.


"Sudah besar masih saja minta disuapi. Nggak malu apa sama Juna?"


Mendengar nama Juna disebut membuat Lisa kembali terdiam. Padahal sebelumnya dia sudah mulai sadar. Lisa melirik sedikit ke arah Juna. Lihat wajah itu. Bagaimana bisa dia setenang itu setelah mengatakan semuanya.


Dengan santainya Juna menikmati hidangan lezat ibunya. Bahkan dengan mulutnya yang tiba-tiba saja berubah manis menyanjung enaknya sarapan hari ini. Lisa menggebrak meja pelan. Membuat ketiga orang yang juga berada di meja tekesiap.


Masa bodoh dengan pertanyaan Juna. Dia akan sarapan. Lisa menyendok suapan besar ke dapam mulutnya. Tak perduli dengan sang ibu yang menceramahi cara makannya di depan Juna. Sebenarnya siapa yang anak kandungnya? Kenapa ibunya selalu berpihak pada Juna?


Lisa melirik Juna dengan sebal. Lebih menyebalkannya lagi Juna membalas lirikannya dengan tersenyum lebar. Apa ini? Kenapa wajah gunung esnya berubah menjadi taman bunga matahari dalam sekejap. Sialan!


#


Juna menikmati pemandangan pagi ini. Bukan pemandangan gunung maupun sawah. Tapi menikmati lucunya wajah Lisa saat mendengar perkataannya. Dia sungguh-sungguh dengan ucapannya pada Lisa.


Masalahnya Juna tidak menduga Lisa akan bereaksi selucu ini. Bahkan tingkahnya semakin lama semakin menjadi aneh.


Apa dia kepikiran sampai seperti itu? Apa pertanyaannya sesulit itu untuk dijawab? Padahal Juna sama sekali tak keberatan jika Lisa tak menyetujuinya.


Mereka masih bisa melanjutkan kebohongan ini jika Lisa mau. Atau menghentikan semuanya jika Lisa keberatan.


Walaupun sebenarnya Juna tak ingin Lisa menghentikan semuanya. Tapi semuanya begitu lucu. Belum lagi saat Lisa dimarahi oleh ibunya. Cara makannya benar-benar luar biasa buruk. Tapi itu sangat lucu. Semua tingkah Lisa hari ini benar-benar menggemaskan di mata Juna.


#