Sweet Curse

Sweet Curse
Apa Salahku?



Karena Juna sudah berada di jauh depannya. Sekuat tenaga Lisa berlari agar bisa mengejar Juna kembali.


Merasa apa yang dilakukan Lisa begitu merepotkan, Juna berbalik meminta Lisa untuk berhenti mengikutinya.


"Awas!!"


Lisa merasakan tubuhnya ditarik ke depan oleh Juna. Dia tak tahu kenapa Juna begitu histeris, sampai dia mendengar sebuah pot jatuh.


Lisa berbalik ke arah tempat dia berada sebelumnya. Sebuah pot bunga jatuh pas di tempat sebelumnya dia berdiri.


"Kamu nggak pa-pa?" Tanya Juna memastikan. Lisa menggeleng kecil masih sedikit syok.


Juna berlari untuk mengejar pelaku, diikuti oleh Lisa dibelakangnya. Namun sepertinya mereka terlambat. Pelaku itu sudah kabur lebih dulu.


Sepertinya dia orang yang pandai memanjat karena jalan ke atas hanya ada satu tangga.


Juna menatap sekeliling, mencari jika ada CCTV yang bisa dia periksa. Sayangnya tidak ada CCTV sama sekali disana.


Juna sempatkan memeriksa dibagian yang mungkin bisa digunakan untuk bersembunyi, tapi nyatanya tidak ada.


Karena tangga menuju ke atas hanya satu dan mereka tak berpapasan, kemungkinan pelakunya lompat melalui atap samping.


"Sepertinya pelaku sangat mengerti tata letak sekolah." Nilai Juna.


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Dia sudah merencanakan semuanya dan tahu area mana saja yang tidak ada CCTV-nya."


"Lihat! Sepertinya dia turun lompat dari sini." Tambah Juna.


"Kenapa semua orang ingin mencelakaiku? Sebenarnya apa salahku?" Tanya Lisa dengan wajah murung.


Bagaimana tidak. Dia merasa tidak memiliki salah pada siapapun, tapi kenapa harus diperlakukan seperti ini oleh orang-orang.


Juna berbalik menghadap Lisa. Dia lupa tentang bagaimana kondisi mental Lisa saat ini. Bagaimanapun juga dia hampir terbunuh dua kali disaat yang berdekatan.


"Tenang saja. Aku akan melindungimu." Juna memegang kedua bahu Lisa menguatkannya.


"Apa aku benar-benar nggak bisa pindah ke kelas biasa lagi?"


"Kamu yakin? Sepertinya mengembalikanmu ke kelas umum bukan kunci dari permasalahannya."


"Lalu apa?"


"Akan akau cari tahu. Sebelum itu, apa kamu bisa bertahan sedikit lebih lama lagi?"


Lisa tampak ragu untuk menyanggupi permintaan Juna, tapi melihat bagaimana laki-laki itu begitu yakin dengan perkataannya. Akhirnya dia mengangguk lemah.


"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu?" Sebenarnya Lisa sudah lama menahan pertanyaan ini dari lama.


"Apa?"


"Kenapa kamu bisa terluka malam itu?"


"Bisa kamu menahan pertanyaan itu lebih lama lagi. Akan aku ceritakan jika semuanya sudah selesai."


"Apa itu sangat berbahaya?"


"Mungkin. Aku juga belum bisa memastikannya."


"Kamu harus berjanji benar-benar menceritakannya nanti." Lisa menjulurkan jari kelingkingnya pada Juna.


"Apa?" Tanya Juna heran.


"Janji. Kamu harus pegang janjimu."


"Iya aku janji."


"Tidak bisa. Kamu harus melakukan ini." Lisa menautkan jari kelingking keduanya.


Juna hanya diam melihat tangannya ditarik paksa dan diperlakukan seenaknya oleh Lisa.


"Puas sekarang?" Tanya Juna yang melihat Lisa tersenyum sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Lucu rasanya mengingat bagaimana wanita ini hampir mati beberapa saat lalu dan sekarang dia bisa tertawa riang.


#


Baru kemarin Lisa mendapat pelatihan khusus dari Juna. Tapi sekarang dia harus berlatih taekwondo lagi. Kapan badannya bisa terbiasa dengan semua latihan fisik ini?


"Begitulah. Ini karena pertandingan sudah mulai dekat. Belum lagi kejadian kemarin."


"Benar juga. Kamu nggak pa-pa?"


Lisa mengangguk kecil sambil membuat sign OK dengan jarinya.


Yessi mengangguk mengerti. Lagipula Lisa memang tak pernah terlihat lemah. Dia selalu ceria dalam kondisi apapun.


"Ngomong-ngomong aku melihatmu dan Juna di sini kemarin. Hayoo... Apa yang coba kalian lakukan?" Goda Yessi sambil menyenggol bahu Lisa pelan.


Lisa menyikut lengan Yessi kesal. "Dia melatihku bela diri."


"Taekwondo?"


"Bukan. Bela diri yang lain. Ingat kan aku kemarin diserang. Juna mencoba memberiku dasar-dasar bela diri untuk bertahan dan menghalau serangan. Jadi kalau sewaktu-waktu hal seperti itu terulang, aku bisa mengatasinya sendiri."


Akhirnya Yessi ingat. Dia merubah posisi duduknya menghadap Lisa. "Benar juga. Kejadian itu benar-benar heboh. Tapi lebih mengejutkannya Juna yang tiba-tiba menjadi pahlawan. Dan tunggu... Cepat katakan ada hubungan apa antara kalian berdua."


"Hubungan apa? Kita nggak memiliki hubungan apapun."


"Lalu kenapa Juna sampai melatihmu bela diri?"


"Ya karena dia khawatir kalau hal itu terjadi lagi. Bukannya nanti dia juga yang repot."


Yeasi menggeleng. "Tidak mungkin. Juna bukan tipe orang yang mau membuang waktunya demi orang lain."


"Lalu menurut Kakak apa? Aku benar-benar nggak memiliki hubungan apapun dengannya. Bahkan untuk berteman saja dia nggak mau!" Ucap Lisa mencibil kesal saat mengingat Juna menolak permintaan pertemanannya mentah-mentah.


"Tentu saja. Karena dia ingin hubungan kalian lebih dari sekedar teman."


Mata Lisa menyipit tajam, melirik ke arah kakak kelasnya. Tidak Jeslyn, tidak Yessi, semua sama saja. Selalu mengatakan hal yang seolah-olah Juna menyukainya.


Padahal kan dia yang tahu bagaimana Juna memperlakukan dirinya seperti apa.


Tidak mungkin manusia kulkas itu menyukainya. Dan juga, kenapa mereka semua berlagak seolah-olah mengenal bagaimana Juna yang sebenarnya.


Juna biasanya beginilah, Juna biasanya begitulah. Dia tidak pernah seperti ini, dia jarang melakukan itu. Dasar para manusia sok tahu.


"Kak Yerin berpikir berlebihan. Juna nggak akan pernah suka sama aku. Dia punya alasan lain ngelakuin ini, tapi yang jelas bukan karena menyukaiku."


Yessi menggerakkan jari telunjuknya kekanan dan kekiri, menunjukkan bahwa ucapan Lisa salah.


"Bagaimana kalau kita taruhan?"


"Tidak. Aku tidak ingin melakukannya."


"Benar juga, taruhan bukan hal yang baik. Kalau begitu kita lihat saja nanti. Kalau benar akhirnya kalian pacaran, aku akan mengucapkan selamat pakai toa disaat upacara."


Lisa menatap Yessi aneh. Walaupun Lisa dan Juna mustahil untuk jadian, bukan berarti Yessi bisa mengucapkan hal gila seperti itu dengan mudah. "Bukannya Kakak sendiri yang akan malu nanti?"


"No, aku akan baik-baik saja."


"Siapa yang dan mau melakukan apa dengan toa?" Tanya Juna yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Kamu mendengarnya?" Tanya Yessi terkejut.


"Kalau aku mendengarnya, aku nggak harus repot-repot bertanya."


"Lalu kenapa kamu harus repot-repot bertanya. Ini kan bukan urusanmu."


"Tapi sayangnya aku mendengar namaku disebut dalam rencana gilamu itu."


"Berarti kamu mendengarnya." Ucap Yessi menjentikkan jari.


Merasa sudah cukup beristirahat, Yessi berdiri untuk berganti pakaian. Lagipula dia tak ingin menjadi obat nyamuk diantara Juna dan Lisa.


"Aku mau ganti baju dulu. Kalian nikmati saja waktu berdua kalian."


"Dia gila." Ucap Juna. Kemudian dia juga pergi ke ruang ganti laki-laki.


"Kita sudah selesai?" Tanya Lisa girang saat Juna mulai menjauh darinya.


"Iya."


"Yes!" Lisa langsung berdiri dan berlari ke ruang ganti menyusul Yessi.


#