
"Hai.. kamu baik-baik saja?" Tanya Cinta yang berdiri di ambang pintu UKS.
"Kamu datang? Aku baik-baik saja." Ucap Lisa sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Aku juga membawakanmu roti. Aku akan menggantikan kalian disini. Kalian juga harus istirahat makan siang." Ucap Cinta menatap Wendy dan Zoya secara bergantian.
Keduanya menatap Lisa meminta persetujuan. Tentu saja Lisa mengangguk kecil dan membiarkan keduanya pergi. Bahkan sebenarnya dia juga ingin pergi ke kantin, tapi dokter di UKS melarangnya pergi dulu. Katanya dia lebih aman disini. Kalau sudah begitu Lisa hanya bisa menurut.
Dengan senang hati Lisa menerima roti melon dan susu kotak rasa pisang yang dibawakan Cinta untuknya. Dia menyantap dengan lahap semuanya setelah mengucapkan terimakasih.
"Kamu sepertinya orang yang penting ya bagi Juna." Ucap Cinta tiba-tiba yang hampir membuat Lisa tersedak.
Lisa menatap Cinta bingung. Apa maksud dari perkataannya barusan. "Apa maksudmu? Dia hanya membantuku dari serangan Fino."
"Aku melihat semuanya. Mata Juna selalu mengawasimu. Mana mungkin kamu bisa diselamatkan secepat itu kalau Juna tak selalu menatapmu."
Sepertinya Lisa cukup mengerti apa maksud Cinta. Apa mungkin maksudnya dia tengah cemburu? "Tentu saja dia terus mengawasiku. Sebenarnya pagi tadi aku mengucapkan kata-kata buruk tentangnya. Jadi sepertinya dia sangat marah sampai terus menatapku tajam." Walaupun Lisa tak tahu apa benar Juna menatapnya, yang dia harus lakukan sekarang adalah membuat Cinta tak berprasangka buruk tentangnya.
"Tapi itu bukan tatapan marah."
Entah apa arti pandangan Juna. Mana mungkin manusia es seperti Juna menyukainya. Bagaimana lagi dia harus menerangkan hal ini pada Cinta.
"Kalau begitu aku akan bertanya pada Juna nanti kenapa dia terus menatapku."
"Jangan! Jangan tanya."
Aduh. Lalu Lisa harus berbuat apa? Sebenarnya apa yang Cinta mau? "Lalu kamu mau aku berbuat apa?"
Cinta cukup terkejut mendengar pertanyaan dari Lisa. Dia tak berpikir Lisa tipe orang yang langsung bertanya ke inti seperti sekarang.
"Aku sebenarnya suka sama Juna dan aku akan mengejarnya." Lisa mengangguk mengerti. Cinta tak terkejut bahwa Lisa mengetahui hal ini. Dia memang tak pernah menyembunyikan hal ini kepada siapapun.
"Apa kamu juga suka sama Juna? Karena aku nggak mau suka dengan orang yang disukai sahabatku juga."
Mata Lisa membulat sempurna. Dia dibuat terkejut oleh perkataan Cinta. Siapa sangka Cinta akan menganggapnya sebagai sahabat.
"Mana mungkin aku menyukai Juna. Dia sudah seperti gunung es berjalan. Aku nggak akan sanggup menahan dinginnya." Lisa mengusap kedua tangannya memperagakan seperti orang kedinginan. "Aku hanya akan berteman dengannya."
"Kamu yakin?"
"Heemm." Lisa mengangguk yakin. Walaupun kata Jeslyn, Juna adalah jodohnya, namun pada kenyataannya, dia dan Juna tidak pernah akur.
Memang Juna sudah beberapa kali telah menolongnya dan Lisa sangat bersyukur akan hal itu. Namun tetap saja kalau mereka melangkah ke tahap yang lebih serius sepertinya tidak akan berhasil.
"Lisa!" Teriak Jeslyn bahkan sebelum wajahnya terlihat di pintu UKS. Sepertinya dia sudah berteriak dari ujung lorong saat berlari kesana.
"Lisa, kamu nggak kenapa-napa, kan? Kamu serius diserang pakai pisau?! Siapa? Siapa orang yang berani ngelakuin itu? Cepat katakan siapa orangnya?!! Oh benar, katanya Juna yang nolong kamu, apa itu benar?" Tanya Jeslyn membabi buta tanpa menjeda semua kalimatnya. Dia pikir dia rapper atau bagaimana?
"Aku baik-baik saja. Dan aku nggak tahu mana pertanyaan yang harus aku jawab. Bahkan aku nggak inget apa saja yang kamu tanyakan." Balas Lisa pusing.
"Benar Juna yang menolongmu? Apa aku bilang, kalian pasti ditakdirkan berjodoh. Aku berani bertaruh pasti dia keren banget pas nendang penjahat itu. Udah mirip pangeran berkuda putih banget si Jungkook..."
"Ehemm..." Lisa langsung mengkode Jeslyn untuk diam. Dia juga melirikan matanya ke arah Cinta, semoga saja Jeslyn paham dengan kodenya.
Seketika Jeslyn langsung menutup mulut. Dia melirik Cinta yang kini tengah tersenyum ke arah Jeslyn. Walaupun begitu entah kenapa senyum Cinta terasa menakutkan bagi Jeslyn. Kini giliran Jeslyn yang mengkode Lisa untuk mengenalkan dirinya, sehingga suasananya tidak begitu canggung.
"Cinta, kenalkan ini teman sekelasku dulu sekaligus teman sekamarku, Jeslyn."
"Jeslyn." Ucap Jeslyn sambil mengulurkan tangannya, namun tak disambut baik oleh Cinta. Gadis itu hanya berbalik ke arah Lisa dan tersenyum manis padanya.
"Lisa aku sebaiknya kembali ke kelas dan memberi waktu kalian untuk mengobrol. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan untuk memanggilku." Ucap Cinta kemudian berdiri meninggalkan UKS tanpa menyapa Jeslyn sama sekali.
"Apa dia marah padaku?" Tanya Jeslyn ketakutan melihat bagaimana Cinta memperlakukannya.
"Sepertinya begitu."
"Gagal sudah dapat koneksi pewaris kaya raya. Terserahlah... Toh yang lain masih banyak." Lisa hanya menggeleng kecil. Bisa-bisanya dia masih memikirkan koneksi.
"Jadi, siapa orang yang menyerangmu?"
"Aku terkejut beritanya tersebar begitu cepat. Namanya Fino, dia murid kelas khusus sebelum kugantikan."
"Astaga! Fino yang itu?"
"Kamu kenal?"
Jeslyn mengangguk kecil. "Aku denger dia tidak punya teman di kelasnya karena sedikit angkuh perkara nilai. Jadi teman-teman dikelasnya juga tak ingin berteman dengannya. Bahkan beberapa ada yang membully dan mengatakan dia anak buangan karena sudah diusir dari kelas khusus."
"Serius?! Separah itu?"
"Mungkin dia pikir dia dipindahkan ke kelas umum karena aku. Tahu begitu aku tetap di kelas biasa saja. Aku jadi merasa bersalah"
"Terus kalau kamu mendapat nilai bagus dan dia diturunkan itu salahmu? Mana bisa begitu. Salah sendiri dia angkuh di kelas barunya. Dia yang membuat dirinya sendiri dikucilkan! Bagaimana bisa dia menyalahkanmu!! Kamu tak ada kewajiban untuk merasa bersalah. Itu semuanya salahnya sendiri. " Ucap Jeslyn kesal. Bahkan dia juga sempat meninggikan suaranya.
"Tapi kamu tahu sendiri kan bagaimana aku bisa mendapatkan nilai bagus."
Jeslyn mendekat ke arah Lisa. Kedua tangan dia letakkan di masing-masing pipi Lisa agar wajah itu bisa melihat wajahnya dengan seksama. "Dengar, sudah berapa kali aku bilang semua ini bukan salahmu. Jangan pernah mengalahkan dirimu sendiri tentang otak encermu. Jadi ceritakan padaku bagaimana aksi Juno tadi?"
"Dia menendangnya sampai membentur dinding. Aku bahkan tak terlalu ingat apa yang terjadi. Semuanya terlihat begitu cepat."
"Wahhhh... Pasti keren banget. Apa ada yang sempat merekamnya?"
"Mana mungkin. Aku yang menjadi korban saja nggak sempat melihatnya. Mana ada yang sempat menduga bahwa hal ini akan terjadi."
"Benar juga, tapi aku sangat berharap ada anak yang entah dari mana berhasil mengabadikan momen bersejarah ini. Woaahhhh... Sumpah, sumpah, sumpah... Pokoknya harus aku cari sampai ketemu."
"Semangat aja deh. Ngomong-ngomong kamu nggak balik ke kelas?"
"Jam berapa sekarang?" Jeslyn menarik tangan Lisa untuk melihat pukul berapa saat ini.
"Astaga! Aku balik kelas dulu. Dah sayang... Nanti selesai kelas kita lanjut cerita lagi."
Jeslyn buru-buru keluar dari UKS, namun dia masih bisa melihat siapa orang yang berdiri di dekat pintu. "Oh, hai..." Sapa Jeslyn sebelum akhirnya kembali berlari pergi.
Karena penasaran siapa yang Jeslyn sapa, Lisa memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Namun seseorang lebih dulu muncul di ambang pintu.
"Apa kalian selalu mengobrol seperti itu? Aku bahkan bisa mendengar suara kalian mengobrol dari ujung lorong."
"Apa benar sekeras itu?" Tanya Lisa tak percaya. Dia jadi tak enak jika sepertinya obrolan mereka mengganggu orang lain.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja. Aku bahkan sudah bisa kembali ke kelas. Bagaimana denganmu?"
"Apa yang perlu dikhawatirkan tentangku? Aku bahkan orang yang sudah menendangnya."
"Apa kamu mendapat hukuman?"
"Tidak."
"Lalu bagaimana dengan Fino?"
"Kamu mengenalnya?" Tanya Juna heran.
"Aku mendengar namanya dari sana sini."
"Dia dikeluarkan."
"Apa? Semudah itu?"
Mata Juna menyipit, menatap Lisa curiga. "Kenapa kamu mengkhawatirkannya?"
"Aku hanya kasihan padanya."
"Jika kamu lupa, dia bahkan hampir membunuhmu."
"Benar, tapi kan... Yah, pokoknya aku hanya merasa kasihan."
"Tidak ada yang perlu kamu kasihani. Kasihanilah dirimu sendiri."
"Benar juga. Bagaimana jika kamu mengembalikanku ke kelas umum?"
"Kenapa harus begitu?"
"Demi kebaikan bersama. Lagipula sepertinya nggak hanya Fino yang nggak suka aku berada di kelas ini."
"Kamu tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatir." Juna menepuk bahu Lisa pelan, kemudian berbalik ke arah lain.
Apa ini? Apa yang barusan Lisa dengar? Apa Juna baru saja mengatakan hal manis padanya? Jangan bilang sebelum kesini kepalanya terbentur sesuatu atau semacamnya.
"Katamu ingin kembali ke kelas?" Ucap Juna yang mendahului Lisa di depan.
"Oh, iya." Lisa akhirnya mengekor di belakang Juna. Mereka sampai di kelas tepat setelah bel masuk berbunyi.
#