
"Kakek?!" Juna tak percaya saat mendengar bahwa guru yang lebih baik dari Bibinya adalah kakeknya sendiri.
"Jangan salah. Dulu sewaktu muda kakekmu merupakan dewa terkuat di alam ini. Kamu sangat beruntung bisa dilatih olehnya secara langsung."
Bagaimana Juna bisa percaya? Mungkin di jamannya dulu kakek bisa saja dewa paling kuat, tapi sekarang beliau sudah sangat tua. Seluruh rambutnya sudah memutih dan bahkan untuk berjalan saja kakek harus dibantu dengan tongkat. Bagaimana mungkin Juna tega membiarkan orang yang sudah berumur melatihnya bertarung?
"Tapi apa nanti tidak terlalu melelahkan untuk kakek jika beliau harus melatihku diumurnya yang sekarang?"
"Jangan khawatir. Kamu temui saja kakek besok di lapangan depan dan kamu nilai sendiri bagaimana baiknya kakekmu bertarung."
Walaupun begitu Juna masih merasa tak enak harus membuat kakeknya mengajarinya berlatih diusianya yang sekarang.
"Apa kita tidak bisa menunggu sampai Bibi Lilith pulih?"
Lilith menggeleng pelan. Senyum diwajahnya juga ikut menghilang. "Sebentar lagi terjadi gerhana bulan. Saat itu terjadi kekuatan para iblis akan bertambah berkali lipat dari biasanya. Itu akan menjadi waktu yang tepat untuk ayahmu menyerang kita. Kita tidak punya pilihan lain selain melatihmu lebih cepat."
"Baik. Aku mengerti. Kalau begitu aku akan berlatih sebaik mungkin dengan kakek."
#
Disinilah Juna. Berdiri dihadapan sang kakek di tengah arena berlatih. Entah apa yang membuat kakek senang, tapi sedari tadi kakek terus tersenyum. Membuat rasa bersalah Juna pun lenyap berubah menjadi kebingungan.
"Apakah kita sudah bisa memulai latihannya, Kek?" Tanya Juna akhirnya karena sepertinya sang kakek hanya terus tersenyum senang dengan dunianya sendiri.
"Oh benar, maafkan Kakek. Kakek begitu senang sampai melupakan tujuan awal kita."
"Apa sebegitu menyenangkannya berlatih?"
"Sudah lama kakek ingin melatih anak laki-laki, tapi siapa sangka yang kakek punya adalah dua anak perempuan."
"Kakek yang melatih ibu dan bibi?"
"Tentu saja. Siapa lagi yang akan melatih mereka kalau bukan kakekmu ini."
"Apa bedanya melatih laki-laki dan perempuan, Kek?"
"Tentu saja berbeda. Perempuan memiliki batasan tertentu yang bisa diterima oleh tubuh mereka. Karena pada dasarnya tubuh seorang perempuan tidak untuk bertarung. Berbeda dengan laki-laki. Tubuh laki-laki dianugerahi sang pencipta untuk menjaga orang-orang yang mereka sayangi. Karena itu laki-laki bisa menerima semua jurus selama mereka masih bisa mempelajarinya."
"Kakek senang karena hal itu?"
"Tentu saja. Karena Kakek tidak harus menahannya lagi. Juga akhirnya Kakek bisa menemukan orang yang tepat untuk menurunkan semua kemampuan Kakek."
"Kedengarannya menyenangkan." Ucap Juna mulai bersemangat.
"Tentu saja menyenangkan. Kakek akan mengajari semua yang Kakek bisa."
Kakek membuang tongkat dan mulai melakukan peregangan pada tubuhnya yang sudah bungkuk. Juna tersenyum senang melihat kuda-kuda sang kakek yang terlihat hebat.
Juna menertawai dirinya sendiri. Sepertinya kemarin Juna mengkhawatirkan hal yang tidak perlu. Dasar bodoh.
#
"Kamu masih disini?" Tanya Lilith pada Lisa yang masih menjaganya.
"Tentu saja. Tidak ada yang bisa aku lakukan disini selain menjaga Bibi."
"Kamu tidak ingin berlatih dengan Juna?"
Lisa menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Aku tidak ingin mengganggunya berlatih."
Tersenyum. Lilith mulai sedikit meregangkan tubuhnya, membuat Lisa panik karena tiba-tiba saja Lilith berdiri dari tempat tidurnya.
"Apa yang Bibi lakukan? Bibi masih harus beristirahat."
"Apa kamu tidak dengar kata tabib tadi? Lukanya sembuh dengan cepat."
"Benar, tapi bukan berarti Bibi sudah sembuh total. Bibi masih harus beristirahat."
"Apa bedanya? Lagipula terus-menerus berbaring di ranjang tidak akan mempercepat penyembuhan lukanya. Yang ada hanya akan membuat otot tubuhku semakin kaku."
"Baik kalau Bibi memaksa, tapi Bibi mau kemana? Aku akan pergi bersama Bibi."
"Apa? Bibi jangan bercanda."
#
Namun disinilah Lisa berdiri sekarang. Disebuah ruangan yang penuh dengan senjata yang tidak pernah Lisa lihat bentuknya selama ini.
"Ini?"
"Ini gudang senjata kami. Kami menyimpan senjata perang dan juga beberapa pusaka di dalam sini."
Lisa masih menatap takjub ruangan penuh senjata ini. Tidak heran untuk masuk kesini membutuhkan mantra sihir. Bisa gawat kalau tempat ini sampai dimasuki musuh.
"Pilih senjata yang kamu mau."
Lisa terkejut. Menatap Lilith tak percaya. "Apa tidak apa-apa? Bukankah ini senjata untuk para prajurit?"
"Tentu saja tidak apa-apa. Kamu juga bagian dari kami sekarang. Jangan sungkan untuk memilih senjata yang tepat untukmu."
Ada pedang besar yang memiliki banyak cabang. Tali yang ujungnya memiliki pisau kecil. Tombak dengan tiga mata pisau. Hanya panah yang familiar dimatanya.
"Aku memilih ini." Lisa mengambil busur beserta anak panahnya.
"Pilihan yang bagus." Lilith tersenyum senang.
Senjata yang dipilih Lisa merupakan senjata kakaknya selama masih berada disini. Siapa sangka kemiripan mereka tidak hanya dalam sikap. Bahkan mereka juga mirip untuk hal ini.
"Baik. Kita akan mulai berlatih sekarang."
"Tunggu dulu. Apa luka Bibi benar tidak akan apa-apa?"
"Jangan khawatir. Aku sudah sepenuhnya sembuh. Jika kamu masih khawatir. Aku tidak akan banyak bergerak untuk hari ini."
Lisa mengangguk setuju dan begitulah latihan memanah dan juga belajar mantra mereka dimulai.
#
"Kamu kemana saja? Apa kamu pergi bersama Bibi? Aku mencari kalian tadi diruang rawat." Tanya Juna saat melihat Lisa baru kembali ke kamarnya begitu larut.
"Ehm, aku pergi dengan Bibi Lilith. Bagaimana dengan latihanmu?"
"Menyenangkan. Siapa sangka mengalahkan kakek bukan perkara yang mudah. Beliau lawan yang tangguh. Aku terlalu cepat menilai."
"Kalau begitu bagus."
"Bagaimana dengan luka Bibi Lilith?"
"Tabib mengatakan lukanya hampir pulih, lebih cepat dari perkiraan."
Juna mengangguk sambil tersenyum. "Itu bagus. Kalau begitu cepat istirahat. Pasti kamu lelah."
"Kamu juga."
Setelah itu keduanya saling menutup pintu kamar. Bukan tanpa alasan Lisa tak menceritakan tentang latihannya dengan Lilith. Semua ini tak lepas dari permintaan Lilith. Dia tak ingin ponakannya itu khawatir dengan kondisinya.
Lilith bersikeras mengatakan bahwa dia sudah sembuh. Bahkan siap untuk bertarung kapanpun musuh datang.
#
Hari-hari Juna dan Lisa diisi oleh latihan yang terus-menerus. Tak hanya Leos, Lilith juga melatih Lisa semua mantra yang dia kuasai.
Mungkin karena kekuatan energi Lisa yang lebih besar. Tidak hanya cepat saat mempelajarinya, bahkan Lisa dapat membuat mantra itu bekerja dua kali lebih baik dari yang Lilith ajarkan.
Lilith sangat senang mengajari Lisa berlatih. Rasanya seperti dia sendang berlatih bersama kakaknya seperti dulu.
Sudah sangat lama. Bohong jika Lilith tak merindukan masa-masa itu. Apalagi kakaknya harus pergi dengan cara yang menyakitkan.
Lilith berjanji pada dirinya dan juga pada kakaknya bahwa dia akan mengambil kembali raga sang kakak. Dengan begitu dia tidak akan malu untuk menemui kakaknya kelak di akhirat.
#