
Ujian akhir semester sudah di depan mata. Setiap wali kelas sibuk mempersiapkan kelas mereka agar tak berada di rangking terakhir. Tak terkecuali kelas khusus.
Hari ini untuk pertama kalinya Lisa tahu siapa wali kelasnya. Awalnya dia pikir, selain menjadi salah satu siswa di kelas Juna juga merangkap sebagai wali kelas. Ternyata salah.
Pak Mirzan, nama wali kelas mereka tengah berdiri di depan kelas. Asing rasanya melihat tempat dimana Juna berdiri digantikan oleh sosok lain.
Tak banyak yang Pak Mirzan jelaskan di depan. Poinnya sama seperti semester sebelumnya. Tidak ada lagi jam malam di sekolah. Hal itu menjadi larangan setelah ada kejadian pencurian soal ujian di sekolah oleh siswa sekolah ini sendiri.
Setelah berucap beberapa kata pada akhirnya semua kembali diserahkan pada Juna. Pak Mirzan keluar dari kelas. "Jangan belajar terlalu giat." Ucapnya.
Lisa tak mengerti. Kenapa seorang wali kelas mengatakan hal seperti itu? Dari yang dia tahu, hampir semua wali kelas pasti selalu menyuruh anak didiknya untuk belajar.
Juna membagikan soal. LAGI. Bagaimana bisa dia menyusun soal-soal ini? Bahkan dia bukan seorang guru.
"Seperti biasa aku akan jarang berada di kelas. Jika membutuhkan sesuatu datang saja ke ruang OSIS." Ucapnya sebelum pergi meninggalkan kelas juga.
"Apa OSIS masih aktif saat mendekati ujian semester?" Tanya Lisa pada Cinta.
"Heem.." Cinta mengangguk kecil tanpa beralih pada soal di depannya.
Lisa hanya bisa maklum. Apa yang dia harapkan dari Cinta. Perempuan ini seperti maniak soal ujian. Dia selalu saja fokus mengerjakan dan tak bisa diganggu walaupun sekedar berbisik.
Tak memiliki pilihan lain, akhirnya Lisa mengerjakan soal di depannya. Tentu saja soal itu terselesaikan hanya dalam hitungan menit.
#
Tok.. tok..
"Masuk."
"Hai." Sapa Lisa saat Juna menatap ke arahnya.
"Ada yang kamu lakukan disini?"
"Aku sudah menyelesaikan soalku dan aku bosan. Kamu bilang aku bisa mendaftar di OSIS, apa aku boleh melihat-lihat cara OSIS bekerja."
"Tanyakan pada yang lain. Kalau mereka nggak keberatan, kamu bisa disini dengan syarat jangan ganggu mereka bekerja."
"Dimengerti. Kalau begitu terimakasih."
Juna mengangguk kecil lalu kembali mengerjakan pekerjaannya. Lisa menutup pintu ruangan Juna perlahan agar tak mengganggunya bekerja.
"Kata Juna aku boleh berada disini asal nggak ganggu kalian." Lapor Lisa pada Solwa. Karena Solwa yang meminta Lisa untuk meminta izin pada Juna terlebih dahulu.
Solwa mengangguk mengerti. Dia mempersilakan Lisa duduk di sebelahnya. "Jadikan dirimu senyaman mungkin."
"Terimakasih. Oh benar aku juga belum mengucapkan terimakasih karena Kak Solwa sudah menjengukku kemarin."
"Tidak masalah. Aku hanya mengantar Yessi dan juga ingin melihatmu."
"Kenapa begitu?" Tanya Lisa tak mengerti. Bukankah sebelumnya mereka bahkan tak saling mengenal.
"Tentang chat"
"Ohhhh..."
"Aku penasaran denganmu setelah mendengar cerita dari Yessi."
"Dasar Kak Yessi. Sudah dibilang jangan beri tahu siapa-siapa, tapi yang ada malah siapapun orang tahu."
Solwa tersenyum geli. "Ya memang begitulah Yessi."
"Kakak sedang ngerjain apa?" Lisa menjulurkan lehernya, mengintip apa yang sedang Solwa kerjakan di laptopnya.
"Oh ini, aku sedang buat jadwal jaga malam."
"Jaga malam? Di sekolah? Kenapa harus ada jaga malam? Bukannya sekolah kita sudah ada satpam. Lagipula ini kan sudah mau ujian semester, kenapa OSIS masih begitu sibuk?"
"Tapi bagaimana jika ada anggota OSIS yang kemudian malah jadi tersangka?"
"Bukannya itu lebih mudah. Kita jadi bisa mengerucutkan siapa pelakunya kan."
Lisa mengangguk mengerti. Ternyata jadi anggota OSIS berat juga. Padahal siswa biasa hanya akan fokus belajar saat semester akhir, tapi ini mereka harus memikirkan hal lain juga.
"Apa Kak Solwa nggak takut nilai Kakak turun setelah menjadi anggota OSIS?"
Solwa menggeleng. "Kamu nggak tahu ya kalau hanya siswa yang memiliki nilai tinggi yang diterima di OSIS. Jika nilai kita turun selama menjadi anggota, maka dengan terpaksa kita akan dicabut sebagai anggota OSIS."
Lisa menegapkan posisi duduknya. "Ternyata ada peraturan seperti itu? Tapi kata Juna semua siswa bisa jadi anggota OSIS?"
"Sebenarnya ini bukan peraturan resmi tertulis. Tapi coba kamu pikirkan jika nilaimu turun. Jelas kamu pasti lebih memilih meninggalkan OSIS daripada dikeluarkan dari sekolah ini, kan?"
Lisa mengangguk. Benar juga. Siapa orang bodoh yang mau mempertaruhkan masa depannya untuk OSIS.
"Lalu kenapa Kak Solwa ingin menjadi anggota OSIS? Apa untungnya bagi Kakak menjadi anggota OSIS."
"Tentu saja untuk melengkapi resume-ku. Kamu tahu OSIS kita sangat terkenal di luaran sana. Hal itu akan menjadi poin plus saat kita masuk ke perguruan tinggi nanti."
"Sampai seperti itu? Woahh.. berarti orang-orang di OSIS kita keren-keren ya."
Solwa tersenyum geli mendengar komentar Lisa. Sebenarnya rata-rata orang lain akan menunjukkan reaksi yang sama jika Solwa mengatakan dia seorang anggota OSIS di sekolahnya.
"Sampai kapan kamu mau disini?" Tanya Juna yang sudah berdiri di samping Lisa.
"Tapi katamu aku boleh ada disini?"
"Iya jika tidak menggangu. Tapi lihat, kamu sekarang sedang mengganggu Kak Solwa bekerja. Kembali ke kelas sana."
Lisa mencibilkan bibirnya kesal. Dia berdumel lirih sebelum akhirnya bangun dan kembali ke kelasnya. Solwa hanya bisa terkikik melihat Lisa seperti anak yang sedang dimarahi ayahnya.
#
"Lisa!! Bagaimana ini?!" Teriak Jeslyn histeris. Sampai Lisa menjatuhkan ponsel ke wajahnya saking terkejutnya.
"Kenapa?!"
"Ponselku ketinggalan di kelas. Bagaimana ini?"
"Ini kan sudah malam. Kita dilarang berkeliaran di area sekolah. Apa nggak bisa diambil besok?"
"Nggak bisa. Kamu kan tahu sendiri aku harus mendengar doa-doa dari ibuku. Nggak bisa kalau sampai bolong. Nanti aku bisa dikerumuni hantu-hantu jahat. Pleaseeee..." Mohon Jeslyn yang akhirnya di setujui dengan berat hati oleh Lisa.
"Yess! I love you."
"Ya udah ayo cepat. Nanti keburu OSIS datang patroli keliling."
"Ya udah ayo!"
Keduanya bergegas menuju kelas tentu dengan mengendap-endap. Lisa yang bertugas menjaga diluar kelas. Jaga-jaga kalau mereka akan ketahuan. Sedangkan Jeslyn masuk ke dalam kelas untuk mengambil ponselnya yang entah dimana.
Karena jam malam sudah tidak diberlakukan. Sekolah rasanya begitu gelap, sunyi dan menyeramkan. Lisa jadi berpikir mungkin ini tempat yang tepat bagi burung itu untuk muncul.
Benar saja. Tiba-tiba Lisa melihat ada bayangan melewati lorong yang bergerak cepat. Merasa ketakutan dan tak ingin kejadian yang sama terulang, Lisa berlari kecil meninggalkan Jenslyn.
"Jenslyn, maafkan aku." Lirihnya sambil berlari.
"Siapa itu?!" Tanya beberapa anak OSIS yang sepertinya melihat siluet Lisa berlari.
Astaga. Bagaimana ini? Setelah lepas dari bayangan tadi kenapa sekarang dia terjebak dalam masalah yang lain. Lisa mempercepat gerak kakinya yang ternyata sebuah pilihan yang buruk. Suara sepatunya semakin terdengar nyaring dan membuat anak-anak OSIS mendekat berdatangan ke arahnya.
"Hmmmmm...." Saat anggota OSIS mulai mendekat tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik dan membekap mulut Lisa. Lisa berusaha meronta dan melawan, tapi tidak berhasil.
#