Sweet Curse

Sweet Curse
Dewi Cinta



Semenjak Lisa berteman dengan Cinta, Lisa tak lagi bisa bercengkrama dengan Wendy dan Zoya seperti sebelumnya.


Cinta mendominasi setiap waktu luangnya, bahkan dia juga meminta Lisa untuk bertukar tempat duduk.


Merasa tak ada yang salah dengan hal itu, Lisa mengikuti kemauan Cinta dengan pindah di bangku paling depan. Sehingga sekarang dia bertukar tempat duduk dengan One. Awalnya One terlihat keberatan, tapi setelah tahu itu permintaan dari Cinta, dia mulai mengangkat tas dan pindah tanpa ada perlawanan.


Lisa cukup merasa bersalah pada One. Dia tak akan mau pindah jika One merasa keberatan, tapi akhirnya One bersikeras untuk pindah dan Lisa hanya menurut.


"Kamu pindah ke depan?" Tanya Juna saat memberikan lembar soal padanya.


"Seperti yang kamu lihat." Jawab Lisa sambil memberikan sisa soal ke bangku belakang.


"Pilihan yang tepat." Ucap Juna sebelum kembali ke bangku depan. Dia mengambil tas miliknya dan memilih duduk di sebelah Lisa.


Lisa cukup terkejut mendapati hal itu. Sebenarnya dia hampir lupa menanyakan hal ini. Siswa di kelas ini tampak begitu menyukai bangku paling depan, tapi entah kenapa bangku yang satu ini selalu dibiarkan kosong.


Lisa pikir itu bangku yang dikeramatkan atau sejenisnya. Tapi sepertinya bukan saat Juna duduk di bangku itu dengan tenang.


"Kenapa kamu duduk di sini?" Tanya Lisa penasaran.


"Apa masalahnya? Ini memang bangkuku. Lagipula aku juga murid disini."


Benar juga. Mau bagaimanapun, Juna tetap saja siswa seperti yang lain. Terkadang Lisa lupa dan berpikir Juna itu seorang guru.


Tunggu dulu, tapi kenapa dari awal Juna tidak duduk di bangkunya sendiri? Atau sekarang Juna sedang mendekatinya? Bukannya dia sendiri yang bilang bahwa untuk berteman dengannya saja tidak mungkin. Atau yang dia maksud dengan tak mungkin berteman itu karena Juna menyukainya?


Lisa menatap Juna tajam. Sebelah tangannya menutup mulut tak percaya memikirkan hal ini. Bagaimana bisa pangeran es ini takluk padanya.


"Apa yang kamu lihat? Kerjakan soalmu." Ucap Juna tak menatap Lisa sama sekali. Wajahnya terlihat fokus dengan soal di depannya.


Entah bagaimana Juna tahu bahwa Lisa sedang mengamatinya. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang membenci obrolan kecil mereka.


#


Kelas selesai, untuk hari ini katanya kelas selesai lebih awal karena biasanya akan ada jam tambahan. Satu info baru yang Lisa ketahui. Kelas ini tidak selesai bersamaan dengan kelas lainnya.


Rasanya aneh, mereka murid yang paling pintar tapi juga murid yang lebih banyak belajar dari yang lainnya. Berbicara soal perbedaan, sebenarnya tidak hanya penghuninya yang elit, bahkan kelas ini sangat luar biasa berbeda.


Dibandingkan dengan kelas, tempat ini lebih seperti perpustakaan dengan rak-rak buku tinggi di setiap dinding. Ruangan full AC dan juga ada layar proyektor besar.


Kursinya juga bukan bangku kecil melainkan kursi nyaman dan meja besar yang seperti terdapat dalam meja kerja sebuah kantor.


Rasanya seperti mereka dilatih untuk terbiasa menjadi petinggi perusahaan sejak dini.


"Kamu tidak lupa bahwa hari ini ada latihan, kan?" Tanya Juna tiba-tiba yang berhasil membuat Lisa sedikit merasa terkejut.


"Tentu saja. Walaupun aku ceroboh, tapi aku tidak sampai separah itu." Balas Lisa ketus.


"Benar juga, aku dengar kalian berada di klub yang sama. Pasti sangat menyenangkan." Ucap Cinta menimbrung pembicaraan keduanya.


"Lumayan menyenangkan, Cinta mau coba ikut?" Tanya Lisa. Tapi tampaknya mata Cinta sedang tak fokus dan telinganya tak mendengar ucapan Lisa.


Dia sedang melihat Juna yang keluar kelas begitu saja setelah merapikan barangnya.


"Cinta?"


"Ah, maaf. Tadi kamu bilang apa?"


"Kamu mau ikut klub taekwondo?"


"Sebenarnya aku sedikit tertarik. Sayangnya tubuhku tak begitu kuat untuk melakukan hal beraslt seperti bela diri."


"Kalau begitu kamu bisa datang melihat kami latihan."


"Apa boleh?" Tanya Cinta antusias.


"Tentu saja. Mereka semua yang berada di klub sangat baik. Aku pikir mereka bahkan sangat senang kamu berada disana."


"Kalau begitu ayo kita pergi ke klub." Ucap Cinta menggandeng tangan Lisa pergi.


#


Lisa memperkenalkan Cinta pada Yessi. Seperti dugaan Lisa, Cinta diterima disana dengan sangat baik. Apalagi para laki-laki. Bagaimana tidak? Kecantikan Cinta sudah sangat terkenal seantero sekolah. Wajah kecil dan kulitnya putih bak dewi dari langit.


Mereka sampai berulang-ulang berterimakasih karena Lisa membaya Cinta kesana. Mereka terlalu lebay. Lisa hanya bisa memutar bola matanya melihat tingkah norak para anggota laki-laki.


"Sepertinya kalian sudah berteman baik?" Tanya Juna saat mereka berada di ruang loker.


"Jangan terlalu percaya padanya." Ucap Juna sebelum mengunci lokernya sendiri dan pergi dari ruangan itu.


#


Setelah mendapatkan latihan gila dari Juna. Kini Lisa harus menyusahkan Jeslyn untuk menempelkan koyok dan sedikit memijat tubuh malangnya.


Sekarang saja sudah selinu ini, Lisa tak bisa membayangkan bagaimana keadaan tubuhnya besok saat bangun tidur. Mungkin dia akan berakhir seperti orang tua jompo.


"Bagaimana keadaanmu di kelas khusus? Apa kamu sudah berteman dengan mereka." Tanya Jeslyn sambil memijat kaki Lisa.


"Emm.. aku berteman dengan Cinta ."


"Dewi Cinta? Kamu serius?" Mulut Jeslyn menganga tak percaya.


Siapa siswa yang tak mengenal Cinta? Sebelum Lisa, dialah yang selalu berada diposisi kedua dalam rangking. Wajahnya yang cantik dan polos, membuatnya menjadi pujaan semua siswa laki-laki.


Bahkan menurut rumor kecantikan Cinta bukan hanya memikat laki-laki, bahkan beberapa siswi dari luar sekolah ada yang menyatakan cinta padanya. Dunia memang sudah gila.


"Awalnya aku juga tak percaya. Tapi dia sendiri yang mendatangiku dan meminta untuk menjadi temannya."


"Aku pikir kamu hanya akan berakhir dengan Wendy dan Zoya."


"Perjalanan kami ke kantin waktu itu adalah pertama dan terakhir kami mengobrol hari ini. Mungkin kami bisa mengobrol besok."


"Tapi.. aku masih nggak percaya kamu bisa berteman dengan Cinta." Ucap Jennie sambil berbaring dan menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba saja ada sebuah ide muncul dibenaknya.


"Kamu nggak ada inisiatif untuk ngenalin aku sama Cinta?"


"Kamu mau kenalan sama dia? Boleh. Tapi nanti aku tanya dia dulu."


"Yes!" Ucap Jeslyn kegirangan. Lisa melirik Jeslyn curiga.


"Apa?! Aku cuma ingin kenalan. Koneksi, koneksi.. kamu jangan mikir yang aneh-aneh deh."


Lisa tersenyum simpul menggoda Jeslyn. "Padahal aku belum ngomong apa-apa loh." Setelah itu Lisa tertawa terbahak-bahak mendapati Jeslyn murka dan menghujaninya dengan tumpukan boneka di kasur yang sudah dia rawat seperti anak sendiri.


"Adu.. duh.. sakit.." rintih Lisa saat kakinya yang masih linu menatap meja nakas.


"Kualat! Makanya jangan suka iseng sama anak dukun."


"Iya deh iya.. ampun." Sekarang Lisa hanya bisa merintih sambil terus memohon ampun. Bahkan diujung matanya sudah berair saking sakitnya.


"Apa sesakit itu?" Tanya Jeslyn berakhir tak tega melihat Lisa merintih kesakitan.


Lisa mengangguk kecil. Jeslyn kembali mendekati dan memijit pada bagian yang sakit. Jeslyn terus memijit sampai Lisa merasa cukup baikan.


"Kamu harus minta pertanggungjawaban dari Juna besok."


"Maunya begitu. Oh iya, ngomong-ngomong soal Juna, sebenarnya dia memperingatkanku untuk tidak dekat-dekat dengan Cinta."


"Kenapa?"


"Dia hanya bilang kalau Cinta tak sepolos kelihatannya. Dan juga.. em, aku tak tahu boleh mengatakan ini atau tidak."


"Apa? Apa?" Jeslyn mulai antusias. Dia paling suka mendengarkan gosip terupdate seperti ini.


"Tapi janji jangan kamu sebarkan ke yang lain."


"Iya, iya. Cepat ngomong apa?"


"Em.. sebenarnya kata Zoya dan Wendy, Cinta itu suka sama Juna."


Mata antusias Jeslyn langsung meredup. "Oh.. itu."


"Loh, udah tahu?" Tanya Lisa kaget.


"Kamu benar-benar ya. Manusia itu juga perlu menatap sekitar. Jangan hanya menatap lurus ke depan. Hampir semua orang sudah tahu hal ini. Mungkin cuma kamu yang belum tahu."


"Bagaimana kalian bisa tahu?"


"Bukannya sudah kelihatan jelas. Cinta tak pernah membantah selalu tersipu malu saat dijodoh-jodohkan dengan Juna."


Lisa termenung meratapi hidupnya. Sebenarnya dia hidup dimana sih? Kenapa selalu saja dia yang terakhir tahu tentang semuanya.


#