
"Lisa, kamu dipanggil Pak Yanto di ruang guru." Ucap Mawar yang baru saja kembali dari sana.
"Iya, terimakasih." Lisa berdiri. Langkahnya begitu berat saat ini. Lisa memiliki firasat bahwa ini bukanlah hal yang baik. Lisa pikir semuanya akan menjadi mudah saat dia mendapat nilai bagus, tapi ternyata semua tak berjalan seperti yang dia pikirkan.
"Bapak memanggil saya?" Tanya Lisa pada Pak Yanto saat berada di kantor guru.
Tampak Pak Yanto melepas kacamata dan memijat pangkal hidungnya sebentar. Di mejanya sudah ada hasil dari nilai ujian mid semester milik Lisa.
Sepertinya tidak hanya siswa, bahkan guru juga tengah meragukan hasil nilainya. Tentu saja, siapapun pasti akan merasa heran dan tak percaya. Melihat siswa yang bahkan tak pernah berada diposisi 100 besar tiba-tiba naik pesat seperti sekarang.
Bagaimana ini? Apa yang harus Lisa katakan? Bagaimana jika dia tidak bisa membuktikan kalau dia tidak curang? Apa dia akan dikeluarkan dari sekolah ini?
"Sebenarnya Bapak tak ingin melakukan hal ini. Tapi semua guru terus saja mendesak Bapak. Mereka mengatakan untuk menilai ulang hasil ujianmu. Kamu akan diberikan soal baru dan nilai ujian kedua ini yang akan digunakan."
Sebenarnya Lisa bisa saja menyanggupinya. Toh berapa banyaknya soal yang diberikan kepadanya, Lisa hanya akan selalu mendapat nilai sempurna.
Masalahnya adalah sekarang dia merasa sedikit sakit hati karena dituduh berbuat curang. Dia baru tahu mendapatkan nilai sempurna bagi siswa dengan otak rata-rata terlihat seperti sedang melakukan sebuah kejahatan.
Lisa hanya terus menundukkan kepala dan menatap ujung kakinya. Rasanya dia ingin menangis sekarang. Bagaimana juga dituduh melakukan hal yang tidak dia lakukan itu sangat menyebalkan.
"Bukankah itu terlalu berlebihan, Pak?" Tanya Juna yang ternyata menguping pembicaraan mereka dari meja guru lain.
Sepertinya dia juga tengah ada keperluan di ruang guru. Tentu saja, ruang guru sudah seperti kelasnya sendiri. Bahkan Juna terlihat lebih sering pergi ke ruang guru daripada masuk ke kelasnya.
Pak Yanto menatap Juna tak mengerti. Biasanya dia yang paling kritis tentang nilai, tapi kini tiba-tiba saja berpendapat lain.
"Maaf, sebenarnya saya yang mengajarinya belajar. Jadi saya merasa sedikit kecewa saat melihat orang yang mendapatkan nilai bagus dengan usahanya sendiri harus diperlakukan seperti ini."
"Kamu benar-benar mengajarinya secara pribadi?" Pak Yanto mendengar hal yang tak bisa dipercayainya lagi.
Masalahnya Juna hampir tak pernah menyentuh murid lain yang diluar ranahnya. Ini seperti dia tidak mau berurusan dengan siswa lain selain di kelas khusus maupun di OSIS.
"Kami satu klub di taekwondo dan Lisa memintaku untuk mengajarinya belajar. Sebenarnya dia cukup pintar, hanya kurang mendapat bimbingan yang tepat."
Mendengar pernyataan Juna membuat beberapa guru di ruang kantor riuh. Mereka merubah pemikiran mereka berbalik 180 derajat.
"Akan sangat disayangkan jika semua siswa yang belajar dengan saya harus mendapatkan perlakuan seperti ini saat mendapatkan nilai sempurna. Bukankah ini sedikit tidak manusiawi?"
Merasa mendapat tekanan dari Juna, Pak Yanto pun bertanya beberapa pendapat dari guru lain. Apa mereka akan melanjutkan ujian ulang untuk Lisa atau membiarkan nilai yang ada. Namun akhirnya semua sepakat bahwa mereka tak jadi melakukan ujian ulang pada Lisa.
Para guru disana berakhir dengan meminta maaf pada Lisa dan menyemangatinya untuk terus bekerja lebih keras.
Mendengar hal itu berhasil mengembalikan senyum Lisa. Dia terus-menerus membungkuk berterima kasih sebelum berpamitan dari ruang guru. Lisa juga sempat berucap terimakasih pada Juna.
#
Semua murid di kelas langsung kembali ke bangku mereka masing-masing saat Pak Yanto memasuki kelas.
"Lisa."
"Iya, Pak?"
"Karena kamu masuk 10 besar, sekarang kamu dipindahkan ke kelas khusus."
Semua teman sekelas Lisa sontak bersorak dan bertepuk tangan mendengar hal itu. Beberapa teman dikiri dan kanannya juga bergantian memberinya selamat.
Bukannya senang, Lisa malah merasa bingung. Seharusnya pemindahan kelas itu terjadi saat kenaikan kelas, tapi inikan masih mid semester.
"Tapi Pak, ini kan masih tengah semester. Kenapa tidak seperti biasanya, pindah kelas saat kenaikan kelas?"
Lisa menganga tak percaya. Siapa sangka bahwa kepala sekolah sampai turun tangan secara langsung tentang hal ini.
"Kamu bisa mengemasi barang-barangmu untuk pindah sekarang."
Lisa memasukkan buku-bukunya lagi ke dalam tas dan juga mulai mengosongkan loker miliknya. Dia melambaikan tangan kecil pada Jeslyn sebelum akhirnya pergi menuju kelas khusus.
Sesampainya di kelas khusus, Lisa terasa sangat berat untuk menginjakkan kaki disana. Dia tak ingin menjadi bagian dari kelas suram itu.
"Kamu sudah disini?" Tanya Juna yang membuyarkan lamunannya. Lisa cukup terkesan Juna bisa tahu keberadaannya dalam jarak yang cukup jauh.
Karena sudah ketahuan, perlahan Lisa masuk ke dalam kelas yang hanya berisikan 10 orang itu. Tunggu dulu? Tapi kenapa sekarang hanya ada 9 orang. Dimana satunya lagi? Apa mungkin salah seorangnya tengah absen?
"Kemarilah. Perkenalkan dirimu." Pinta Juna agar Lisa berdiri di sebelahnya.
"Namaku Lisa, kedepannya aku akan menjadi teman sekelas kalian. Mohon bantuannya."
Kebanyakan dari mereka menatap Lisa acuh seperti tak perduli, tapi beberapa ada juga yang tersenyum sambil melambai kecil ke arahnya. Kelas ini terdiri dari 6 siswa dan 4 siswi termasuk Lisa.
"Kamu sudah bisa duduk."
Lisa mengangguk dan memilih untuk duduk di sebelah siswi yang tersenyum ke arahnya tadi.
"Karena semuanya sudah lengkap, sebaiknya kita mulai kelasnya."
Juna membagikan beberapa lembar kertas kepada siswa yang duduk di bangku paling depan, kemudian mereka mengoper ke bangku belakangnya. Apa ini? Apa ini sebuah tes? Bukankah mereka baru saja menyelesaikan ujian mid semester? Kenapa mereka sudah berlatih soal lagi?
"Jangan terkejut. Kelas ini hanya akan berlalu seperti ini. Kita hanya akan mengerjakan soal-soal saja tanpa ada pembahasan. Kamu hanya perlu bertanya langsung pada Juna jika ada soal yang nggak kamu mengerti. Ngomong-ngomong namaku Wendy, salam kenal."
"Terimakasih penjelasannya. Kamu sangat membantu."
"Sama-sama. Dengan senang hati, jangan sungkan jika butuh bantuanku." Ucap Wendy tersenyum ramah. Berkat Wendy, Lisa sedikit merubah penilaiannya tentang kelas ini. Sepertinya kelas ini tidak terlalu buruk.
Mereka mulai mengerjakan lembar matematika yang telah dibagikan. Seperti biasa Lisa lagi-lagi menyelesaikannya dengan mudah. Walaupun dia ingin berpura-pura untuk sedikit berusaha, nyatanya dia seperti tak bisa menahan diri untuk menyelesaikan semuanya.
Lisa meletakkan alat tulisnya, kemudian mengamati beberapa teman sekelasnya. Mereka terlihat sangat serius. Bahkan mereka begitu mandiri dan tak ada yang melirik satu sama lain. Sepertinya dalam waktu seperti inilah kelas khusus ini kembali suram.
Melihat Lisa yang mulai mencoret-coret lembar soalnya dengan bosan, Juna akhirnya bersuara.
"Jika ada yang tak dimengerti silahkan bertanya dan bagi yang sudah menyelesaikan soal bisa mengumpulkannya ke depan."
Mendengar hal itu Lisa berdiri dan membawa lembar jawabannya ke depan. Membuat beberapa siswa menengok kebelakang saking terkejutnya.
Soal yang mereka kerjakan saat ini merupakan soal yang disusun oleh Juna sendiri dan soal itu sangat luar biasa sulit. Bagaimana bisa Lisa menyelesaikannya secepat ini?
Juna mulai memeriksa jawaban milik Lisa. Dia tersenyum kecil saat semua jawabannya benar. "Lisa mendapat nilai sempurna. Beri tepuk tangan untuknya."
Semua orang disana menghentikan kegiatan mereka sejenak untuk bertepuk tangan, kemudian kembali menjadi serius lagi.
"Ingin mencoba soal yang lain?" Tanya Juna.
Lisa hanya mengangkat bahu tak yakin. Lagipula dia tak tahu harus melakukan apa disini. Toh dia juga tak mungkin diperbolehkan keluar untuk jajan di kantin.
"Boleh."
#