
Pada akhirnya Juna menghabiskan sisa liburan semester di rumah orang tua Lisa. Padahal awalnya mereka hanya akan menginap untuk beberapa hari saja.
Ini semua karena ibu Lisa selalu menahan mereka untuk kembali. Tapi keduanya memang tak keberatan untuk tinggal. Lagipula disana cukup menyenangkan. Bahkan Juna merasa inilah liburan yang sesungguhnya. Dia merasa berada di rumah sekarang.
Selama berada disana sebenarnya Juna masih menunggu jawaban Lisa. Tapi sepertinya gadis ini lupa tentang pertanyaan Juna beberapa saat lalu. Haruskah dia mengingatkannya lagi?
Juna melihat Lisa memejamkan mata, walaupun dia tidak sedang tertidur. Sepertinya dia juga sudah terbiasa dengan pemandangan indah di jendela kereta.
"Apa kamu mengantuk?"
Membuka mata. Lisa menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Juna. "Kamu mengantuk?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu."
Lisa mengangguk kecil. "Iya. Tanyakan saja. Kenapa juga kamu tiba-tiba sungkan padaku."
"Jadi bagaimana?"
"Hm? Apanya yang bagaimana?"
"Pertanyaanku saat jalan-jalan berkeliling desa. Apa kamu sudah memikirkannya dengan baik?"
Benar. Lisa lupa tentang yang satu ini. Karena keasyikan di rumah, dia jadi luoa memikirkannya. Dia bahkan tak ingat sama sekali Juna pernah menanyakan hal itu.
"Kamu aneh. Kamu bahkan nggak suka padaku, kenapa mengajakku untuk berpacaran?"
"Apa berpacaran harus saling suka?"
Lisa menatap Juna aneh. Manusia macam apa ini yang menanyakan hal yang sudah jelas. "Tentu saja!"
"Lalu bagaimana kamu tahu kalau orang saling suka? Apa karena mereka mengatakan saling menyukai satu sama lain? Atau karena sikap mereka yang berbeda dari sikapnya kepada orang lain? Katakan padaku."
Mendengar pertanyaan Juna membuat Lisa jadi berpikir sejenak. Benar juga. Apa ya yang membuat dia yakin kalau dulu dia dan pacarnya saling suka? Apa mereka saling merasakan debaran? Tidak juga. Apa mereka saling nyaman satu sama lain? Mungkin.
"Mungkin karena kita nyaman satu sama lain saat bersama." Jelas Lisa tak begitu yakin. Sepertinya dia juga sudah terlalu lama sendiri sejak mendapatkan kutukan ini. Sampai dia lupa bagaimana rasanya memiliki pacar dan jatuh cinta.
"Kalau begitu kamu bisa menganggapku menyukaimu. Karena aku nggak keberatan dan nyaman saat kamu di sekelilingku."
Lisa menganga takjub. Walaupun apa yang dikatakan Juna ada benarnya, tapi bukan begitu maksud Lisa. Lisa sangat paham kalau yang Juna rasakan padanya pasti bukan suka dalam hal romantis. Tapi Lisa tak tahu cara untuk menjelaskannya.
"Bukan begitu. Kalau begitu begini saja. Aku akan menjawabnya besok setelah pulang sekolah, bagaimana?"
Juna mengangguk setuju membuat Lisa bernafas lega.
#
Sepertinya Jeslyn sudah sampai lebih dulu di asrama, terlihat dari pintu kamarnya yang sudah terbuka.
"Kamu sampai duluan?" Tanya Lisa sambil menarik kopernya ke dalam kamar.
"Kamu sudah sampai? Bagaimana liburannya?"
"Hmmm... Ya seperti biasa."
"Sebenarnya aku mendengar cerita yang cukup lucu."
"Cerita apa?"
"Ada yang bilang kalau kamu dan Juna liburan bersama. Nggak mungkin, kan? Paling juga mereka melihat Juna mengantarmu ke stasiun."
"Mereka tahu? Bagaimana bisa?" Tanya Lisa tak percaya.
"Kalian liburan bersama? Serius?" Tanya Jeslyn tak kalah terkejut.
"Iya. Ibuku mengundangnya makan malam di rumah. Tapi berakhir dengan dia yang menginap."
Lisa mengangguk polos. Membuat Jeslyn histeris tak karuan. Alhasil penghuni asrama yang ada berdatangan untuk menanyakan penyebab kegaduhan yang dibuat Jeslyn.
Dasar mulutnya Jeslyn benar-benar. Akhirnya mereka hanya bisa mengatakan tidak apa-apa sambil meminta maaf.
"Serius Juna mau? Demi apa?" Bisik Jeslyn akhirnya. Karena sepertinya anak-anak mulai ingin tahu dengan obrolan mereka. Jeslyn takut ada kamar sebelah yang menguping.
"Ya begitu. Berkat jurus maut rayuan ibuku. Akhirnya Juna berada disana selama liburan. Tapi sepertinya dia kelihatan enjoy. Nggak tertekan sama sekali. Lagipula desaku nggak terlalu buruk."
Jeslyn mengangguk percaya. Ini benar-benar berita luar biasa. Kalau sampai seisi sekolah tahu, pasti akan jadi heboh besar. Sayangnya jari Jeslyn ternyata tak bisa diajak kompromi. Dia mengirim pesan kepada orang yang memberinya kabar kemarin.
"Tunggu, apa yang kamu lakukan?" Tanya Lisa curiga.
"Aku? Aku mengirim pesan pada Jihan. Mengatakan bahwa yang dia lihat kemarin benar. Katanya Jihan melihat kalian naik kereta bersama di awal liburan. Aku sempat mengatakannya salah lihat. Aku sedang meminta maaf sekarang."
"Hah? Terus kenapa kamu berbicara sambil berbisik kalau kamu sendiri yang menyebarkan ini?" Tanya Lisa frustrasi.
"Oh iya, benar juga." Ucap Jeslyn baru sadar. "Apa menurutmu Jihan akan menyebarkan berita ini?"
"100% yakin. Lihat saja besok, pasti aku akan menjadi bahan tontonan anak-anak." Ucap Lisa kesal. Bagaimana tidak kesal. Dia sudah lelah diperlakukan bak topeng monyet oleh penghuni sekolah. Lisa hanya ingin sekali saja hidupnya damai.
"Tenang... " Jeslyn merangkul Lisa. "Ini berita baik. Kamu akan baik-baik saja."
"Aku sudah belajar dari pengalaman untuk nggak mudah percaya sama kata-katamu." Jengkel Lisa. Sedangkan Jeslyn hanya meringis menanggapi ucapan Lisa.
"Benar. Aku baru ingat. Ada yang ingin aku katakan padamu. Sebenarnya ada sesuatu yang terjadi saat kami liburan bersama."
"Apa? Kalian sudah sampai ketahap seserius itu?"
PLAK. Lisa memukul kepala Jeslyn cukup keras. "Jangan berpikir yang aneh-aneh. Dengarkan dulu kalau orang mau ngomong."
"Sakit. Iya-iya." Jeslyn mengusap kepalanya bekas pukulan Lisa tadi.
"Sekarang aku sudah bisa melihat hantu. Seperti katamu mereka memang tak berani datang mendekat, tapi saat aku dan Juna saling menyentuh, tiba-tiba saja hantu-hantu itu menghilang."
"Kan! Benar apa kataku, kalian itu cocok. Energi kalian serasi makanya ini semua bisa terjadi. Lalu apalagi?"
"Apa? Tentu saja hanya itu. Kamu mengharapkan apa?" Tentu saja Lisa tidak mungkin bercerita soal pernyataan cinta Juna. Karena Jeslyn juga tahunya keduanya benar-benar berpacaran.
"Oh iya, aku ada pertanyaan. Menurutmu orang saling suka itu seperti apa?"
Jeslyn cukup terkejut mendengar perubahan arah pembicaraan ini. Namun dia tetap memikirkannya.
"Bukannya karena kamu merasa dia orang yang tepat. Seperti kamu suka dan nyaman bersamanya. Ada debaran dan juga rasa saling membutuhkan satu sama lain? Bukannya begitu?"
Lisa tampak berpikir. Dia dan Juna juga tidak membenci satu sama lain. Mereka juga saling membutuhkan, tapi Lisa yakin kalau keduanya tidak saling suka. Jadi sebenarnya salahnya dimana?
"Apa ada alasan lain yang lebih masuk akal?"
"Hmm.. bagaimana kalau debaran jantung?"
"Aku nggak merasa itu sewaktu pacaran dengan Dimas."
"Makanya kan kalian putus."
"Kita putus karena kutukan bodoh ini? Bukan karena nggak saling suka."
"Bagitu? Kalau begitu aku menyerah. Sepertinya aku sendiri juga belum tahu alasan kedua orang saling suka. Kenapa kamu bertanya?"
Lisa menggeleng. "Hanya penasaran saja."
#