Sweet Curse

Sweet Curse
Pulang



Lisa keluar dari kamarnya mengenakan busana yang disiapkan Lilith beberapa saat yang lalu. Bersamaan Juna juga keluar dari kamarnya yang berseberangan dengan kamar Lisa.


Keduanya tertawa saat melihat penampilan masing-masing. Busana bernuansa merah ini benar-benar sesuatu.


Karena mereka mengenakan busana yang senada. Mereka jadi terlihat seperti sepasang pengantin China.


Membayangkannya membuat wajah Lisa bersemu merah. Apa yang baru saja dia pikirkan. Mereka hanya akan melakukan upcara peresmian menjadi warga asli. Tidak lebih.


"Baju ini aneh, kan?" Ucap Juna akhirnya karena Lisa hanya terdiam setelah mereka tertawa.


"Bagaimana bisa kamu mengatakan hal buruk kepada baju adat?" Balas Lisa tak terima mendengar keluhan Juna.


"Aku berkata apa adanya. Kamu pasti juga berpikir hal yang sama." Ucap Juna membela diri. Sebenarnya dia tak ada niat untuk mencela baju yang mereka pakai. Dia hanya mencoba mencari topik pembicaraan dengan Lisa. Hanya ingin mencairkan suasana.


"Apa yang berpikir hal sama?" Tanya Lilith tiba-tiba muncul seperti biasanya.


"Bibi disini?" Tanya Juna.


"Apa aku datang disaat yang tidak tepat?"


"Tidak. Bibi datang disaat yang tepat. Jadi sekarang bagaimana?"


"Karena kalian bintang utamanya. Jadi sekarang mari bersiap ke panggung yang telah disiapkan."


"Ada panggung?" Tanya Lisa terkejut. Dia tak mengira akan ada panggung di upacara ini. Rasanya tak siap harus berdiri di atas panggung dan menjadi tontonan semua orang.


"Ini bukan benar-benar panggung yang sesungguhnya. Hanya kata kiasan. Maksudku tempat upacara. Tenang saja." Jelas Lilith.


Lisa mengangguk lega. Hampir saja jantungnya melompat jika dia harus berada di panggung. Lisa tak terlalu nyaman menjadi pusat perhatian.


"Ayo." Ajak Lilith. Keduanya berjalan di balakang Lilith. Mengikutinya ke tempat upcara dilakukan.


#


Upacara diadakan di aula utama tempat Juna berlatih beberapa waktu lalu.


Semua orang sudah berkumpul disana. Termasuk Lisa dan Juna. Sudah ada Leos yang tengah berdiri didepan keduanya.


Keduanya diberi keberkahan dan beberapa doa dari Leos yang merupakan pemimpin desa.


Tak hanya itu, keduanya juga ditaburi pasir emas yang secara ajaib membuat tubuh keduanya bersinar. Sinar itu langsung membuat semua orang bersorak gembira. Sinar yang menandakan bahwa keduanya telah diterima oleh bukit ini.


Lisa tersenyum tipis. Walaupun mereka sudah berada ditahap akhir upacara tapi dia masih merasa gugup.


Rasa gugupnya tiba-tiba hilang saat merasakan sebuah tangan menggenggam tangannya. Lisa menengok ke arah Juna. Juna juga tersenyum kepadanya.


"Semuanya akan baik-baik saja." Lirihnya yang membuat hati Lisa lebih nyaman. Kini senyum Lisa jauh terlihat lebih tulus.


#


Setelah upacara Juna dan Lisa memutuskan untuk berpamitan. Lagipula tugas mereka sudah selesai. Mereka juga bisa kembali kesana kapanpun mereka mau.


Mereka harus segera kembali dan menyelesaikan apa yang harus dibereskan di dunia mereka sendiri.


Juna takut mereka pergi terlalu lama dan membuat semuanya khawatir. Apalagi Lisa. Dia jauh lebih banyak memiliki orang yang perduli dan akan khawatir Jika mereka tidak segera kembali.


Lilith dan Leos menerima alasan keduanya untuk kembali. Bahkan mereka dan beberapa penjaga mengantar keduanya sampai gerbang utama.


"Bibi tenang saja. Masih ada banyak waktu untuk kita berada di sekolah ini. Setelah Juna mengurus semuanya, kita pasti sempatkan untuk mampir lagi."


"Bibi akan menunggu kalian."


Setelah itu Lilith menyentuh permukaan gerbang sambil merapalkan mantra dan keduanya melewati gerbang. Kembali pada dunia yang sibuk.


Lisa menatap pohon-pohon yang menunjukkan bahwa mereka telah berada di bukit belakang sekolah.


"Apa menurutmu orang-orang akan mencari kita?" Tanya Lisa kemudian.


"Katakan saja kamu tersesat saat mencoba mendaki ke bukit." Lisa mengangguk mengerti.


"Benar. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu." Ucap Juna tiba-tiba.


"Apa?"


"Kamu belum menjawab pertanyaanku yang waktu itu."


"Yang mana?" Tanya Lisa bingung.


"Sekarang kita nggak perlu berpura-pura menjadi sepasang kekasih lagi."


Benar juga. Erka sudah dikalahkan dan mereka sudah tak memiliki alasan untuk menjadi sepasang kekasih.


"Apa aku boleh memastikan sesuatu?"


"Apa?"


Lisa memposisikan tubuh Juna agar menghadap ke arahnya.


"Kamu diam saja, oke?"


Juna hanya diam dan tak tahu apa yang ingin Lisa lakukan padanya.


CUP


Mata Juna membola. Apa yang baru saja Lisa lakukan?


"Mari kita buktikan apa yang dikatakan Jeslyn benar. Jika kamu baik-baik saja setelah ini, maka mari kita pacaran." Jelas Lisa tertunduk malu.


Kemudian dia meninggalkan Juna yang masih berdiri disana. Lisa bahkan tak berani menatap wajah Juna sekarang.


Tak ingin berakhir seperti ini. Juna menarik Lisa kembali dan membalas apa yang baru saja Lisa lakukan padanya.


Kini Lisa yang merasakan kejutan pada tubuhnya. Jadi begini rasanya saat seseorang yang kamu suka menciummu tanpa peringatan.


"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Kamu hanya tinggal mengatakan 'iya'."


"Terserah." Hanya itu yang keluar dari mulut Lisa.


Lisa yang tak tahu harus bagaimana, hanya bisa mendorong tubuh Juna dan berlari pergi. Wajahnya sudah semerah buat tomat sekarang.


Melihat reaksi lucu yang Lisa tunjukkan membuat Juna tersenyum geli. Sepertinya dia akan menjadi orang paling beruntung karena memiliki pacar seimut Lisa.


#