Sweet Curse

Sweet Curse
Curhat



Sebenarnya Juna tak yakin dengan hal ini. Lisa baru saja sembuh, tapi dia memaksakan diri untuk ikut pertandingan taekwondo besok lusa.


"Apa kamu yakin?" Tanya Juna entah sudah yang keberapa kalinya pada Lisa. Lisa sendiri sampai jengah dan enggan untuk menjawabnya lagi.


"Kita sudah berlatih sampai seperti ini. Bagaimana bisa kita mengundurkan diri."


"Tetap saja."


"Tenang. Semuanya akan baik-baik saja." Ucap Lisa tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Rasanya percuma memaksa Lisa untuk berhenti. Akhirnya Juna menyerah dan mengizinkan Lisa melakukan sesuatu keinginannya. Sebenarnya masalahnya bukan soal kesehatan Lisa. Karena Juna percaya bahwa Lisa tidak sakit. Semuanya tentang kondisi mentalnya.


"Baik kalau kamu memaksa. Kita akan tetap mendaftarkanmu. Kalau begitu besok adalah hari tenang. Kamu tidak harus datang untuk berlatih." Lisa mengangguk mengerti.


"Kalau begitu sampai disini. Kamu bisa berganti."


"Oke."


Juna pergi meninggalkan Lisa. Sedangkan Lisa memilih untuk menghampiri Yessi. Duduk sebentar bersamanya sampai peluh keringatnya kering.


"Bagaimana kamu bisa melakukannya?" Tanya Yessi tiba-tiba.


"Melakukan apa?" Tanya Lisa tak mengerti.


"Yang tadi. Bagaimana bisa kamu membujuk Juna agar mau menuruti keinginanmu?"


"Apa membujuknya sesulit itu?"


Yessi mengangguk mantap. "Kamu lupa bagaimana caramu masuk ke sini? Bahkan dia hampir membiarkanmu dipermalukan di depan anak-anak yang lain."


"Apa begitu?"


Lisa mencoba mengingat. Benar juga, saat dia masuk ke klub ini dia benar-benar butuh perjuangan. Jika dibandingkan dengan saat ini rasanya dia bisa berbicara dengan Juna lebih mudah.


"Aku pikir dulu Juna melakukan itu karena membenciku. Sepertinya dia sekarang lebih bisa menerimaku."


Yessi menggeleng. "Tidak, kamu salah. Itu karena kamu masuk setelah semua pendaftaran selesai. Sebenarnya tidak masalah jika ada yang ingin bergabung saat pertengahan semester. Hanya Juna tak ingin membuatnya mudah. Dia hanya ingin anggota yang ikut klub ini bersungguh-sungguh untuk ikut serta. Dia tak akan membiarkan mereka masuk dan keluar klub seenaknya."


Lisa menatap Juna yang baru saja keluar dari ruang ganti. Juna sempatkan menyapa beberapa anggota klub sebelum pergi meninggalkan lapangan.


"Apa kamu terpesona?" Bisik Yessi di telinga Lisa.


Lisa menjauhkan wajahnya dari Yessi dan mengusap telinganya geli. "Apa Kakak pernah chatingan sama Juna?" Tanya Lisa penasaran.


"Tentu saja pernah. Kenapa?"


"Apa yang kalian bahas?"


"Tentu saja soal taekwondo. Apalagi? Kita kan pengurus inti klub. Dia ketua dan aku wakilnya."


"Diluar itu?"


Menatap Lisa penuh selidik. "Apa yang kamu harapkan untuk aku jawab, huh?"


"Tidak ada. Aku hanya penasaran apa manusia seperti Juna juga bisa berbalas chat seperti yang lainnya."


"Aku nggak tahu kalau dengan yang lain, tapi denganku kita hanya membahas soal klub, nggak lebih."


"Apa Kak Yessi pernah sakit lalu Juna menanyakan kabar Kakak? Maksudku jika Kakak sakit pasti Kak Yerin ngabarin Juna, kan?"


Yessi mengangguk kecil. "Benar juga. Aku akan mengatakan aku sakit dan tidak hadir, lalu dia akan membalas baik."


"Hanya itu?"


"Bisa saja kan dia bertanya Kakak sakit apa. Atau ingin datang menjenguk dan sebagainya?"


"Mana mungkin. Punya hak apa aku sampai Juna melakukan itu padaku."


Lisa mengangguk mengerti. Jadi, ternyata Juna via chat dan aslinya masih orang yang sama. Lalu kenapa dia bertingkah manis seperti itu kemarin?


"Ada apa? Apa Juna baru saja perhatian padamu saat kamu sakit?" Tanya Yessi menggoda.


Terbelalak kaget. Lisa tak menyangka Yessi akan tahu hal ini. Tidak hanya Lisa, Yessi yang melihat reaksinya pun ikut terkejut.


"Apa itu benar? Juna perhatian padamu? Katakan apa yang dia lakukan. Cepat katakan!" Padahal Yessi bertanya hanya untuk menggoda Lisa. Siapa sangka bahwa hal itu benar-benar terjadi.


"Janji jangan beritahu siapapun."


Yessi mengangguk mengerti. Walaupun di dalam hatinya ada rasa larangan adalah perintah. Dia akan memikirkan soal itu nanti.


"Kemarin kan aku sakit. Dia menitipkan makanan pada Ibu asrama dan juga membalas chatku. Dia sangat berbeda saat sedang membalas chat. Aku pikir dia juga seperti itu kepada yang lain."


"Oh astaga! Jangan bilang ini yang dimaksud Solwa kemarin!" Pekik Yessi senang. Dia juga menggoyang-goyangkan tubuh Lisa saking senangnya.


"Kamu tahu, Solwa itu teman sekamarku. Dia juga anggota OSIS dan beberapa saat yang lalu dia cerita kalau Juna membalas chat sambil senyum-senyum bahagia. Astaga.. siapa sangka dia sedang membalas chatmu."


"Juna tersenyum?" Tanya Lisa tak percaya.


"Iya. Bahkan semua orang di ruang OSIS sampai melongo saking kagetnya. Mereka hampir nggak pernah lihat Juna senyum, lalu tiba-tiba saja hal itu terjadi. Sekalinya senyum dia sambil bermain ponsel dan membalas chat. Setelah itu anak-anak OSIS langsung heboh. Mereka pikir Juna sedang membalas chat dari ibu atau adik perempuannya."


"Juna punya adik perempuan?"


"Aku nggak tahu. Itu hanya karangan anak-anak OSIS. Lagipula Juna terlalu misterius. Siapa tahu kan tiba-tiba dia punya adik perempuan. Dia yang dingin lalu tiba-tiba saja menjadi manis dengan adik perempuannya. Pasti menjadi pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat."


Lisa menggeleng tak percaya. Bahkan mereka membuat fiksi seperti itu tentang Juna. Sekarang Lisa tak akan terkejut jika tiba-tiba ada seseorang yang menulis cerita dengan Juna sebagai tokoh utamanya.


"Sepertinya aku harus menyiapkan diri." Celetuk Yessi mantap.


"Memangnya Kak Yessi mau kemana?"


"Nggak kemana-mana. Aku hanya harus menyiapkan diri untuk berteriak dengan toa."


Lisa tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Tiba-tiba bayangan soal itu terlintas dalam benaknya.


"Jangan buru-buru. Belum tentu juga."


"Apanya yang buru-buru. Kita tinggal menunggu kapan Juna akan mengaku. Sudah jelas dilihat darimanapun kamu itu orang istimewa baginya."


"Iya, dilihat dari ujung menara namsan dengan sedotan."


"No.. no.. no... Percaya padaku, dia akan segera mengaku. Kamu harus persiapkan diri sebaik mungkin. Karena aku berani bertaruh bahwa menerima pengakuannya tidak akan mudah. Coba dulu kamu bayangkan..."


Yessi merangkul bahu Lisa dan mengajaknya untuk berandai-andai. Dia mengusap udara dengan tangannya. Mengatakan pada Lisa untuk membayangkan semua ucapannya.


"Juna yang begitu dingin datang padamu dengan senyum canggung. Lalu dia memegang kedua tanganmu dan tiba-tiba saja memintamu untuk menjadi pacarnya. Oh astaga!! Aku merinding." Yessi terpekik nyaring di akhir ceritanya.


Lisa sampai harus mengusap telinganya karena mulut Yessi berada tepat di sebelah wajahnya. Lisa tak tahu harus bagaimana. Walaupun sudah sejauh ini, Lisa baru sadar bahwa curhat pada Yessi bukanlah pilihan yang tepat.


Pada akhirnya Lisa memilih segera mengakhiri sesi curhatnya. Sebelum Yessi membuatnya semakin gila karena terus membuatnya berandai-andai.


Mungkin bercerita pada Jeslyn juga bukan pilihan yang bagus. Dia bisa membayangkan akan mendapat reaksi yang tidak jauh berbeda dari reaksi Yessi sekarang.


#