
"Ehmmmmm...." Saat anggota OSIS mulai mendekat tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik dan membekap mulut Lisa. Lisa berusaha meronta dan melawan, tapi tidak berhasil. Tenaga orang yang membekapnya luar biasa besar.
"Diam. Kalau kamu nggak mau ketangkep sama mereka." Bisik orang yang membekap mulutnya. Lisa berhenti meronta saat telinganya mengenali suara siapa itu.
"Juna?" Lirih Lisa saat bekapan dimulutnya terlepas. Terlihat para anggota OSIS sudah mulai menjauh dari tempat mereka bersembunyi.
"Sssttt.. jangan keras-keras. Nanti mereka tahu kita disini. Ayo ikut aku. Kita nggak bisa lama-lama disini."
"Tapi gimana sama Jeslyn?"
"Dia akan baik-baik saja."
Sedikit berkutat dengan pikirannya, akhirnya Lisa mengikuti kemana Juna membawanya. Lagi-lagi Juna membuatnya takjub dengan membawanya ke tempat-tempat yang tak akan bisa dia temui di sekolah manapun.
Sejak kapan gudang belakang sekolah menjadi markas persembunyian yang terlihat begitu nyaman. Tempat ini hampir mirip seperti tempat yang ada di belakang sekolah. Tapi sepertinya tempat itu sudah dilenyapkan oleh Juna.
"Apa nggak masalah kamu membawaku kesini?" Pertanyaan Lisa tak mendapat respon yang baik dari Juna. Bukannya menjawab dia malah melemparkan pertanyaan lain.
"Apa yang kamu lakukan di sekolah semalam ini?"
"Aku mengantarkan Jeslyn mengambil ponselnya. Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan disana?"
Mata Lisa melotot kaget saat mendapati tumpukan soal ujian dipojok ruangan ini. "Kamu mencuri soal ujian?" Ucap Lisa tak percaya.
"Aku menukarnya."
Lisa semakil melotot tak percaya. "Bagaimana bisa? Dan untuk apa kamu melakukan hal ini?"
"Agar semua siswa bisa tetap lanjut bersekolah disini."
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah melihat soal yang para ahli buat. Semuanya diluar dari kisi-kisi yang diajarkan kepada kita selama ini. Kalau seperti ini terus, akan banyak siswa yang dikeluarkan seperti tahun-tahun sebelumnya."
"Lalu bagaimana kalau kamu ketahuan? Bagaimana kalau guru sadar jika soalnya sudah ditukar."
"Mereka tidak akan sadar. Aku bahkan mencocokan semua jawaban dengan kunci yang ada."
Lisa menganga lagi. Bagaimana bisa laki-laki ini berbuat sampai sejauh ini? Tapi memang dari yang Lisa ingat, semester awal kemarin memang nilai semua siswa naik pesat. Banyak yang menduga bahwa siswa angkatan baru memiliki banyak anak yang pandai. Siapa sangka bahwa semua ini adalah perbuatan Juna.
"Kenapa kamu berbuat sampai sejauh ini? Kamu nggak takut ketahuan dan ditangkap."
"Aku nggak perduli. Aku akan melawan kepala sekolah dengan konsekuensi apapun."
"Kenapa kepala sekolah melakukan ini? Kenapa beliau membiarkan banyak anak yang dikeluarkan dari sekolah?"
"Dia ingin membuat sekolah ini berkelas dengan kabar sulitnya para siswa bertahan disini. Padahal dengan mereka bisa masuk kesini saja sudah membuktikan kalau mereka mampu dan layak."
Tatapan Lisa pada Juna berubah sayu. Dia tak tahu apa yang dilakukan Juna ini benar atau salah. Tapi dia tak keberatan dengan apa yang Juna lakukan. Bahkan Lisa merasa Jungkook seperti pahlawan dimatanya.
"Tenang. Rahasiamu aman padaku. Aku nggak akan membocorkan hal ini pada siapapun."
"Aku nggak takut semuanya terbongkar. Silahkan lakukan semaumu."
Rasanya Lisa ingin memaki Juna sekarang juga. Padahal dia berniat untuk membantu, tapi sepertinya niat baiknya tidak diperlukan sama sekali.
"Apa kamu menyukaiku?"
Mata Lisa melotot kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Juna. Ada apa dengan pertanyaan itu?
"Hah?"
"Jawab saja. Apa kamu menyukaiku?"
"Nggak mungkinlah." Jawab Lisa jengkel.
"Bagus. Kalau begitu ayo kita pacaran."
"Hah?!"
Apa telinga Juna sedang bermasalah atau bagaimana? Bukannya Lisa bilang tidak, tapi kenapa dia malah bersikeras mengajaknya untuk berpacaran.
"Apa kamu tuli?"
"Pendengaranku masih masih berfungsi dengan sangat baik."
"Lalu kenapa kamu mengajakku pacaran. Kan sudah kubilang aku nggak punya perasaan sama sekali padamu."
"Hanya untuk sementara. Kamu mau kan menangkap orang yang ingin menyelakaimu. Aku pikir ini bisa membantu."
"Konyol. Bagaimana itu mungkin?"
"Lalu apa rencanamu setelah ini?"
"Itu urusanku. Kamu nggak perlu khawatir."
Lisa mencibil kesal. "Aku disini mencoba membantu oke."
"Kalau kamu ingin membantu, maka lakukan dengan benar."
"Dengan benar bagaimana? Menjadi pacarmu?"
Juna mengangguk yakin. Lagipula hanya dengan dekat Lisa saja Juna sudah memiliki banyak petunjuk.
"Oke kalau memang itu maumu. Ayo kita pacaran."
Juna tersenyum lebar. "Pintar. Aku tahu kamu akan mengatakannya."
Lisa mengerutkan dahi mendengar jawaban dari Juna. Apa dia baru saja masuk dalam permainan Juna atau bagaimana?. Apa setelah ini semuanya akan baik-baik saja?
"Tapi bagaimana dengan Cinta?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Dia kan suka sama kamu."
"Tapi kan aku nggak suka sama dia."
"Dia pasti akan sakit hati."
"Bagaimana kalau begini. Setelah semuanya selesai, kamu jelaskan rencana kita dan minta maaf padanya."
"Apa itu akan berhasil?"
"Tentu saja. Kalau sampai nggak berhasil kamu bisa minta bantuanku. Aku akan membuatnya memaafkanmu dengan mudah."
Lisa mengangguk mengerti. Karena Cinta memang selalu mendengarkan apa kata Juna.
#
Hanya dengan melakukan pertunjukan kecil seperti bergandengan tangan, membuat seisi sekolah tahu bahwa Lisa dan Juna resmi berpacaran. Tentu saja kabar itu membuat heboh tiga angkatan.
Barisan para sakit hati fans Juna semakin bertambah banyak. Walaupun begitu mereka tidak akan bisa menyakiti Lisa karena Juna sendiri yang datang untuk memberi peringatan pada mereka.
Melihat Juna begitu menjaga Lisa yang ada mereka semua semakin jatuh hati pada sikap Juna. Sekarang pangeran berkuda putih sudah menemukan seorang putri.
Setelah kabar itu mencuat, Cinta mulai menjauhi Lisa. Lisa sangat paham akan hal itu. Mau bagaimana lagi. Dia sudah mengambil keputusan ini.
"Lisaaaaaa...." Jeslyn menghampiri Lisa yang sedang duduk bersama Wendy dan Zoya. Tidak hanya Jeslyn, bahkan Yessi dan Solwa juga ikut duduk di meja yang sama.
"Jadi jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa kalian pacaran tanpa memberitahuku?"
"Yah... Ceritanya panjang."
"Kalau begitu ringkas sampai jadi pendek. Aku memaksa."
"Ya.. intinya aku dan Juna, kita memang pacaran."
"Astaga! Pada akhirnya aku akan mengucapkan selamat lewat toa." Ucap Yessi histeris. Sepertinya dia sudah mulai tertular sifat bar-bar Jeslyn.
"Nggak, Kak. Jangannnnnn... Nanti Kak Yessi bisa dapat hukuman."
"Kalau begitu bagaimana kalau disini saja." Yessi langsung berdiri dan berteriak. Lisa bahkan tak sempat untuk menahannya.
"JUNA DAN LISA SELAMAT YA.... SEMOGA HUBUNGANNYA LANGGENG!!!" Teriak Yessi di kantin hingga membuat semua orang bersorak ramai.
Lainnya juga bergantian memberi selamat pada Lisa. Sedangkan yang diberi selamat hanya bisa tersenyum kaku. Rasanya dia seperti orang yang baru menikah saja. Padahal mereka hanya pacaran biasa. Lisa tahu bisa berpacaran dengan Juna merupakan suatu rekor, tapi semua ini sangat berlebihan.
"Lisa selamat ya..."
"Iya, terimakasih."
"Selamat ya, Lisa."
"Terimakasih."
"Ayo kita kembali ke kelas, aku malu." Lirih lisa berbisik kepada Wendy dan Zoya.
"Kenapa harus malu. Nikmati saja." Balas Zoya yang melihat penderitaan Lisa sebagai hiburan.
#