
"Sudah siap?" Tanya Juna memastikan.
Lisa mengangguk yakin. Setelah itu mereka pergi masuk ke dalam hutan. Tanpa memiliki petunjuk apapun mereka hanya berjalan lurus mengikuti jalan. Beruntung malam ini bulan purnama. Jadi mereka memiliki penerangan alami. Seakan alam ikut membantu mereka.
Jangankan langit. Bahkan hewan-hewan malam juga tak ada yang muncul. Membuat Lisa sangat bersyukur akan hal itu.
Meskipun malam ini terasa cukup damai. Dia masih tak ingin melepaskan pegangannya pada tubuh Juna. Jika sampai pegangannya terlepas bisa-bisa dia akan melihat hantu tepat di depan matanya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Juna saat Lisa merepet ke arah dirinya dan menggandeng tangannya erat.
"Aku nggak ingin melihat hantu. Pinjamkan bagian tubuhmu sedikit untuk kupegang."
Juna menatap Lisa bingung. Bagaimana dia bisa menyetujui permintaan aneh Lisa? Tanpa menunggu persetujuan, Lisa tetap memegang erat tangan Juna dan menyuruhnya untuk terus berjalan.
Tak ingin memperdebatkan hal ini, Juna akhirnya menurut untuk kembali berjalan.
"Auw!" Juna terpekik kesakitan saat pegangan tangan Lisa berubah menjadi cubitan.
"Kamu ingin melakukan kekerasan padaku atau bagaimana?" Tanya Juna sambil mengusap daerah perutnya yang baru saja dicubit Lisa.
"Maaf, maaf... Habisnya kamu jalannya terlalu cepat. Tadi aku mau menarik bajumu." Ucap Lisa tersenyum kikuk. Sepertinya itu sangat sakit sampai Juna memekik begitu keras. Apalagi mereka sedang berada di tengah hutan yang sunyi. Suara pekikan Juna jadi terdengar semakin keras.
Menyudahi acara perdebatan kecil itu, mereka melanjutkan perjalanan. Kini tangan Lisa yang sebelumnya menggandeng tangan Juna beralih kebagian bahunya.
Setelah berjalan cukup jauh, Juna mengusulkan untuk istirahat. Dia juga merasa semakin mereka masuk ke dalam hutan, semakin Lisa ketakutan setengah mati. Juna masih sayang pada tubuhnya. Dia tak ingin sekujur tubuhnya membiru akibat cubitan atau remasan tangan Lisa
Mereka memilih tempat yang lumayan luas. Membangun dua buah tenda dan membuat api unggun disana.
Sudah lewat tengah malam dan langit masih begitu terang oleh cahaya bulan. Juna tak ingat terakhir kali dia melihat bintang bertebaran di langit kota. Tapi malam ini langit terlihat begitu indah.
"Indah ya?" Puji Lisa ikut menatap langit malam dan duduk di sebelahnya. Tak lupa dengan tangan yang masih terpaut pada tubuh Juna.
Juna mengangguk setuju. Kini Juna sudah pasrah dengan kelakuan tangan Lisa pada tubuhnya. Lama-lama akhirnya dia juga mulai terbiasa. Asal Lisa tak menarik kulitnya seperti tadi, Juna tidak akan keberatan.
"Jika di film-film, seharusnya ini akan jadi malam yang menyeramkan. Siapa sangka malah sebaliknya."
"Kamu ingin malam ini berakhir menjadi malam yang menyeramkan?"
Lisa menggeleng cepat. "Kamu gila ya?"
"Makanya jangan bilang begitu. Biasanya kalau diungkit mereka akan senang dan datang dengan sendirinya."
Lisa memukul bahu Juna keras-keras. Juna hanya tertawa senang melihat raut wajah Lisa yang semakin ketakutan.
"Jangan asal ngomong. Aku benar-benar takut hantu."
"Iya, iya. Kan dari awal masuk hutan juga kamu terus memegang lenganku."
Lisa hanya tersenyum garing. Itu karena dia tidak ingin melihat hantu. Lisa terus memegang entah bagaimana tubuh Juna mana yang bisa diraih tangannya. Apalagi di tengah hutan seperti sekarang. Pasti tempat ini sarangnya hantu.
Membayangkannya saja membuat bulu kuduk tangannya meremang. Entah kenapa Lisa jadi merasa dingin. Dia melihat ke arah semak-semak yang tak tertutup batang pohon. Disana sangat gelap.
"Jangan dilihat. Kalau benar sesuatu muncul dari sana kamu bisa saja pingsan."
Lisa langsung membuang wajahnya. Dia kembali menatap langit malam bertabur bintang. Dia menggeleng keras agar pikiran-pikiran menakutkan hilang dari kepalanya.
"Ayo kita tidur."
Lisa melirik dua tenda yang mereka buat beberapa saat lalu. Jika mereka tidur sekarang bukannya mereka akan berpisah. Jadi Lisa tidak akan bisa memegang Juna lagi.
"Nggak mau!" Jawab Lisa tegas.
Juna melihat Lisa heran. "Memangnya kamu nggak ngantuk. Besok kita masih harus masuk ke hutan lebih dalam lagi."
Lisa menggeleng keras. "Nanti aku nggak bisa pegang tanganmu. Bagaimana nanti kalau aku diganggu hantu?"
"Mereka nggak akan mengganggumu. Tahu sendiri kan mereka nggak mungkin datang mendekatimu."
"Iya tahu, tapi bisa saja mereka jalan-jalan diluar tenda dan menakutiku."
"Nggak mungkin. Mereka akan berada dijarak yang cukup jauh jika ada di sekitar kita."
"Kamu yakin?"
"Nggak, nggak mau!"
"Lalu kamu maunya bagaimana? Apa kita pulang saja?"
Lisa menggeleng cepat. Dia akhirnya melepaskan genggamannya pada lengan Juna dan langsung melesat masuk ke dalam tenda.
Juna terkikik geli melihat tingkah Lisa. Bagaimana bisa dia menyetujui hal ini jika berakhir dengan ketakutan setengah mati seperti sekarang.
"Jangan tertawa! Ketawamu menakutkan." Bentak Lisa dari dalam tenda.
"Iya, iya. Aku nggak ketawa. Selamat malam."
"M-malam..."
Akhirnya untuk sejenak Juna bisa memiliki tubuhnya sendiri seutuhnya, tanpa harus berbagi dengan Lisa. Tak berselang lama Juna sudah tak mendengar suara Lisa. Sepertinya dia sudah tidur.
#
Lisa tipe orang yang cepat terlelap tapi juga mudah terbangun. Seperti sekarang. Padahal baru beberapa saat yang lalu dia tertidur, tapi tiba-tiba dia terbangun oleh suara gemerisik semak-semak.
Beberapa saat kemudian muncul bayangan besar dari luar tenda. Diikuti dengan suara hewan melata di rerumputan. Membuat Lisa semakin merinding ketakutan saat melihatnya.
Aduh bagaimana ini. Lisa meraba-raba dimana tempat dia menaruh ponselnya. Dengan jari-jari yang gemetar, susah payah Lisa mencoba menelepon Juna.
Beberapa kali jari-jarinya selalu memencet nomer atau tombol yang salah. Membuat Lisa hampir menangis dibuatnya.
"J-juna...."
"Iya, aku melihatnya. Kamu baik-baik saja, kan?"
"Tolong aku... Aku benar-benar ketakutan."
"Tutup saja matamu dan serahkan semua padaku."
"Apa kamu yakin?"
"Iya."
"Kalau begitu teriak saja jika terjadi apa-apa."
Juna terkikik diseberang telepon.
"Aku serius!" Pekik Lisa tertahan.
"Iya, aku tahu."
Kemudian panggilan terputus dan Lisa mendengar suara resleting tenda Juna terbuka. Setelahnya terdengar suara Juna berteriak keras.
Lisa membalalak kaget. Apa yang sedang terjadi? Apa Juna baik-baik saja? Bagaimana kalau dia dimakan hantu itu?
"J-Juna? Apa kamu baik-baik saja? Aduh... Bagaimana ini? Apa sebaiknya aku keluar? Tapi aku takut." Racau Lisa panik di delam tenda.
Tak lama Lisa bergelut dengan ketakutannya. Tiba-tiba Juna muncul membuka resleting tenda miliknya.
"Hah!! Yak! Kamu membuatku takut!" Teriak Lisa keras. Kemudian dia buru-buru menutup mulutnya kembali.
"Apa yang terjadi? Apa hantu itu sudah pergi?"
"Ayo keluar. Ada yang ingin bertemu denganmu."
Dengan wajah bingung dan ketakutan, Lisa menurut saat Juna menarik tangannya keluar tenda.
Lisa terkejut melihat seorang wanita cantik memakai busana warna hitam yang berdiri di dekat bekas api unggun dan tengah tersenyum kepadanya.
"Hai, kita bertemu lagi."
Lisa tak tahu wanita ini siapa, tapi sepertinya dia bukan orang jahat.
#