Sweet Curse

Sweet Curse
Bibi Lilith



Ternyata wanita cantik tadi adalah Bibi Juna. Dewi ular yang pernah Lisa selamatkan tahun lalu.


"Maaf karena aku telah menakuti kalian." Sesal Bibi Juna.


"Namaku Lilith. Senang bisa bertemu dengan penyelamatku lagi dan juga keponakanku. Terimakasih untuk sebelumnya. Kebaikanmu tidak akan pernah aku lupakan."


"Sama-sama. Jadi bayangan besar diluar tenda tadi apakah itu Bibi Lilith?"


Lilith mengangguk. "Maaf aku harus muncul dengan wujud asliku. Seharusnya aku mimikirkan tentang itu."


"Tidak apa-apa. Hanya aku saja yang mudah ketakutan."


"Sebaiknya kita mengobrol di tempat lain. Daerah ini tidak aman. Mari ikut denganku."


Lisa dan Juna saling bertatapan. Juna mengangguk kecil kemudian mereka memutuskan untuk mengikuti Lilith.


#


Lilith membawa keduanya memasuki sebuah gua. Gua yang digunakan sebagai pintu dan juga penghubung antara dunia mereka dan dunia luar.


Lilith mengucapkan beberapa mantra dan dimensi lain langsung muncul dan mereka masuk ke dalamnya.


Tepat setelah mereka masuk pintu itu otomatis langsung menghilang. Lisa sampai dibuat kaget dan cukup panik. Bagaimana nantinya mereka keluar.


"Pintu itu nggak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Hanya keturunan kami yang bisa melewatinya. Dia dapat mendeteksi energi lain yang tak ada sangkut pautnya dengan kami."


"Apa yang terjadi pada orang yang memiliki energi lain jika memaksa melewati pintu itu?" Tanya Juna penasaran.


"Pintu itu akan melawan. Dia akan menjadi benteng yang sulit ditembus dan menyerang bagai senjata paling kuat."


"Tapi bagaimana bisa aku melewatinya?" Tanya Lisa lagi karena dia sama sekali tak memiliki darah dari keturunan mereka.


"Ingat energi yang aku berikan padamu? Itu milik kakakku dan pintu itu mengenalimu sebagai kakakku. Jadi jangan cemas, kamu sangat diterima disini."


Lilith memperlihatkan apa yang ada di depan mereka setelah melewati semak-semak. Mata Lisa dan Juna dibuat takjub melihat pemandangan indah di depan mata mereka.


Tanaman hias beraneka warna itu menyala. Membuatnya semakin indah di tengahnya malam. Belum lagi ada sekumpulan hewan menyala seperti kunang-kunang terbang berkelompok. Mereka seperti membuat formasi erbang kesana-kemari memperlihatkan pertunjukan yang luar biasa.


Belum lagi suara nyanyian burung yang entah darimana terdengar sangat indah. Padahal ini masih malam. Bagaimana bisa ada suara burung bernyanyi. Ini luar biasa. Lisa merasa dirinya sedang ada di Pandora.


"Beberapa hewan mungkin sudah banyak yang tidur. Kami tidak terlalu banyak memiliki hewan malam." Jelas Lilith.


"Ini seperti surga." Takjub Juna.


"Benarkah? Kamu menilainya berlebihan." Ucap Lilith menuntun mereka sampai ke sebuah desa atau lebih tepatnya rumah pohon yang besar.


Pohon itu besar dan menjulang tinggi sampai dahan-dahanya dapat menampung beberapa rumah yang bisa mereka tinggali.


Sekali lagi Lisa dibuat takjub. Awalnya Lisa pikir mereka akan tinggal di dalam tanah seperti ular. Dia lupa bahwa ular juga bisa tinggal di atas pohon.


Beberapa orang dari rumah pohon keluar untuk melihat kedatangan mereka. Lisa tak begitu mengerti, apa yang menarik dari kedatangan mereka sampai mereka semua keluar rumah di tengah malam.


Lilith membawa mereka sampai ke puncak tertinggi pohon. Dimana ada bangunan paling besar dari rumah pohon yang lain.


"Perkenalkan ini ayahku, Leos, dia juga kakekmu." Jelas Lilith pada Juna.


Leos langsung memeluk Juna hangat. Leos menepuk beberapa kali punggung Juna. Merasakan betapa gagahnya anak Lilian.


"Kamu tumbuh dengan baik." Puji Leos pada Juna.


"Terima kasih, Kek."


"Pasti kalian sangat lelah. Ayo Kakek tunjukkan kamar kalian."


Baru juga mereka sampai, tapi mereka sudah memiliki ruangan untuk beristirahat. Rasanya seperti mereka sudah tahu bahwa mereka akan datang.


Tentu saja keduanya diberikan kamar yang berbeda. Tapi Lisa cukup bersyukur karena kamar mereka saling berhadapan. Jadi dia tak perlu pergi jauh jika membutuhkan Juna.


Sebenarnya ini sudah dini hari. Lisa tak tahu sebaiknya dia tidur atau tetap bangun dan menunggu pagi tiba.


Lisa mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Mencoba mengirim pesan pada Juna. Namun disini sama sekali tak ada sinyal. Sepertinya ponsel tidak bisa berfungsi dengan baik di tempat ini.


Tok.. tok..


"Iya?"


"Iya silahkan." Pintupun terbuka. Tampak Lilith tersenyum lebar dengan beberapa makanan kecil di nampan.


"Kamu pasti lapar." Ucap Lilith sambil memberikan nampan makanan kecil dan juga teh pada Lisa.


"Kudapan di tengah malam." Tambah Lilith lagi.


"Terimakasih." Lisa menerima nampan itu.


Lisa melihat beberapa makanan kecil berwarna putih yang entah apa. Dia tak pernah melihat makanan seperti ini sebelumnya.


"Namanya kue embun, itu camilan kesukaan kakakku."


Lisa mengangguk mengerti kemudian mulai mengambil dan mencobanya. Diluar dugaan ternyata makanan ini sangat enak. Likith tersenyum senang melihat ekspresi kagum Lisa.


"Ehmm.. ini enak. Terbuat dari apa ini?"


"Buah-buahan gunung dan juga embun pagi."


Lisa menatap heran bagaimana buah-buahan dicampur dengan embun bisa berakhir menjadi warna putih. Apa itu mungkin? Tapi ini benar-benar enak.


"Aku senang kamu menyukainya." Ucap Lilith tersenyum lebar.


"Benar. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan. Jadi energi yang ada padaku ini apa benar milik Ibu Juna?"


"Benar "


"Kenapa Bibi memberikan energi yang begitu berharga kepadaku?"


"Pertama, karena kamu telah menolongku dan kedua, karena kamu sangat mirip dengan kakakku. Apa Juna tak pernah mengungkit tentang hal ini? Kamu benar-benar sangat mirip dengan dia."


"Tidak sama sekali. Apa waktu itu, saat Bibi terluka. Orang yang melukai Bibi adalah Ayah Juna?"


Senyum Lilith terurai. "Kamu benar. Siapa lagi yang bisa menyerangku kalau bukan dia."


"Tapi kenapa Ayah Juna tidak mencariku secara langsung. Bukannya hal itu lebih mudah?"


"Tidak, kamu salah. Jika energi itu ada padamu, maka akan sulit baginya untuk mengambil. Karena kamu manusia dan dikelilingi oleh banyak manusia lain. Dia tidak akan mengambil resiko besar untuk mengambilnya secara terang-terangan."


"Tapi dia pernah muncul saat aku berada di dalam kelas. Dan disana masih banyak orang."


"Benarkah? Dia melakukan hal itu?"


"Benar. Saat itu aku sedang membaca novel di kelas, cerita cinta putri ular dan elang."


"Kamu membacanya? Syukurlah... Apa Juna juga tahu tentang cerita itu?


"Juna sudah membacanya sampai habis. Bibi yang menaruhnya disana?"


"Benar. Aku tak tahu cara yang tepat untuk menceritakan hal ini pada kalian. Aku bersyukur kalian telah membacanya. Mungkin dia tahu tentang hal ini. Jadi dia mencegahmu untuk membacanya dan mengambil resiko besar."


"Tapi bisa saja kepala sekolah mengambil buku itu setelahnya."


Lilith menggeleng kecil. "Dia tidak akan bisa. Aku memberi sedikit sihir pada buku itu. Membuat hanya kamu dan Juna yang bisa menemukannya."


Lisa mengangguk mengerti. Pantas saja walaupun sudah berselang lama tapi Lisa masih bisa mendapatkan buku itu kembali.


"Ada hal lain yang ingin kamu tanyakan?"


Lisa menggeleng kecil. "Semuanya sudah jelas ada di buku."


Lilith mengangguk mengerti. "Sepertinya aku menulisnya dengan baik. Kalau begitu aku akan membiarkanmu beristirahat. Jika kamu ingin menghubungi kamar Juna, kamu bisa menggunakan bunga lonceng ini."


Lilith menunjuk bunga lonceng yang menempel pada tumbuhan rambat di dinding sebelah tempat tidur.


"Selamat malam."


"Selamat malam."


Lilith menutup pintu kamar Lisa dan membiarkan pemiliknya beristirahat.


#