Sweet Curse

Sweet Curse
Apa Aku Pantas?



Kini tugas Juna sudah selesai. Dia ingin berpamitan pada yang lainnya sebelum pergi. Walaupun berat, tapi Juna tahu tempatnya bukanlah disini.


Apalagi dia sudah cukup lama berada disini. Dia tak tahu sudah berapa lama waktu di dunianya berlangsung.


Ada rasa khawatir jika teman sekamarnya akan bertanya mengenai kepergiannya. Mungkin dia hanya akan mengatakan ada kepentingan keluarga.


Lagipula ayahnya sama dengannya. Mungkin itu akan menjadi alasan yang bagus.


Namun belum sempat Juna mengungkit kata pamit, bibinya lebih dulu mengusulkan membuat suatu upaca peresmian Juna dan Lisa sebagai penduduk asli bukit ini.


Sebelumnya Lisa sempat ingin menyerahkan kembali energi yang diberikan kepadanya, tapi bibi dan juga kakeknya menolak.


Mereka mengatakan Lisa pantas mendapatkan energi itu. Juna sendiri juga berpikiran hal yang sama.


Sebenarnya ada alasan lain kenapa Lilith menolak Lisa mengembalikan energi itu. Karena dia merasa mungkin suatu saat nanti Lisa akan kembali kesini.


Jika hal itu benar terjadi, maka dengan adanya energi itu akan memudahkan Lisa untuk berkunjung kembali.


Juna melihat Lisa yang kini duduk sambil menatap langit di beranda lantai dua. Wajah Lisa terlihat gusar. Entah apa yang sedang dia pikirkan.


"Apa yang kamu lakukan disini?"


"Aku masih memikirkan tentang ide Bibi Lilith tadi siang."


"Tentang upacara itu?"


Lisa mengangguk mengiyakan.


"Kamu nggak perlu melakukannya jika keberatan. Jangan merasa sungkan untuk menolak."


"Bukan begitu. Aku sebenarnya sangat nyaman berada disini, tapi masih ada perasaan yang selalu mengatakan bahwa tempatku bukan disini. Aku bukan siapa-siapa dan tidak ada hubungannya dengan kalian tanpa energi ibumu."


"Kenapa kamu berpikir terlalu keras? Ikuti saja apa kata hatimu. Jika kamu ingin tinggal kamu bisa tinggal. Semuanya akan menerimamu dengan senang hati."


"..."


"Lagipula upacara itu bukan untuk mengikatmu dengan tempat ini. Sebenarnya tanpa upacara pun kamu masih bisa masuk dan keluar dari sini. Bibi hanya ingin meresmikan saja."


"Kamu benar."


"Kenapa Bibi mencari kami?"


"Bagaimana dengan upacaranya? Bibi ingin mendengar langsung keputusan kalian berdua."


Juna menatap Lisa yang terdiam. Dia menghembuskan nafas perlahan.


"Bi, sepertinya..."


"Kita qkqn melakukannya." Ucap Lisa memotong kalimat Juna.


"Benarkah? Bibi senang mendengarnya. Kalau begitu Bibi harus segera bersiap-siap dan mengumumkannyw kepada yang lain. Upacaranya akwn kita adakan lusa. Bagaimana?"


Lilith tersenyum lebar mendengar jawaban Lisa. Dia sempat berpikir bahwa salah satu dari mereka akan menolaknya.


"Secepat itu?" Tanya Lisa khawatir.


"Tentu saja. Lebih cepat lebih baik."


"Tapi bagaimana dengan persiapannya? Apa bisa terkejar dengan waktu sesingkat itu?" Tambah Juna.


"Tenang saja. Serahkan semuanya pada Bibi. Semuanya juga akan membantu. Bahkan kalau mau kita bisa melakukan upacara itu besok."


"Besok?!" Ucap Juna dan Lisa bersamaan.


"Lihat bagaimana kompaknya kalian berdua. Bibi benar-benar ada kabar baik dari kalian." Ucap Lilith tersenyum jahil.


Lisa yang mengerti maksud Lilith hanya bisa tertunduk malu. Sedangkan Juna berusaha mengkode bibinya agar tak menggoda mereka lebih jauh lagi.


"Baik, baik Bibi mengerti. Kalau begitu sebaiknya Bibi segera bersiap-siap. Kalian silahkan teruskan mengobrolnya. Maaf Bibi menganggu."


"Bibi!" Protes Lisa.


Sedangkan Lilith hanya tertawa sambil menuruni tangga. Membiarkan sepasang anak muda itu mengobrol dari hati ke hati.


#