
Ini pertama kalinya Juna membaca buku dalam waktu sesingkat ini. Hanya dalam sehari dia menyelesaikan buku yang tebalnya hampir 5 cm itu. Sebenarnya ini juga kali pertama dia membaca buku diluar buku pelajaran.
Novel yang menceritakan bagaimana kisah cinta antara seorang dewi dan juga iblis bersayap. Jelas dikatakan diawal cerita bahwa iblis itu menyamar menjadi manusia dan merayu sang dewi.
Walaupun ditentang oleh keluarga, tapi sang dewi tetap bersikeras untuk menjadi manusia dan memilih hidup bersama si iblis setelah termakan rayuannya.
Bahkan sang dewi memilih untuk menyerahkan kekuatannya kepada sang adik perempuan untuk bisa menjadi manusia biasa seutuhnya.
Iblis yang awalnya hanya mengincar kekuatan sang dewi merasa sia-sia dengan semua upayanya. Dia tak mengira dewi akan menjadi manusia tanpa kekuatan yang dia miliki sebelumnya.
Namun iblis tak tinggal diam. Dia mencari cara lain supaya bisa menjadi dewa. Dewi tetaplah dewi. Walaupun sudah menjadi manusia, masih ada energi inti yang tersimpan di dalam dirinya. Kelak energi itu hanya bisa muncul dan diturunkan kepada anaknya.
Dengan begitu iblis begitu sabar menanti sampai akhirnya dia memiliki anak bersama sang dewi dan menunggu hingga anak itu dewasa. Hingga energi dalam dirinya sempurna.
Selama menunggu dia juga masih berusaha mencari celah untuk mengambil energi sang dewi yang dilindungi oleh adik perempuannya.
Juna menutup novel tebal itu. Dia mulai mencari tahu siapa pengarang dan penerbit buku ini tapi tak ada nama yang tertera di sampul. Dia juga sudah mencoba mencari artikel di internet tapi tak mendapat hasil apapun.
Buku ini seperti tak pernah ada. Juna merasa buku ini sengaja ditempatkan disana agar Lisa ataupun dirinya bisa membacanya.
Juna yakin kisah dalam buku ini bukanlah sekedar dongeng belaka. Ini pasti kisah yang menceritakan pertemuan ibu dan ayahnya.
Jadi selama ini dia dan ibunya sudah diperdaya oleh ayahnya yang ternyata seorang iblis kejam.
#
"Aku sudah membacanya." Ucap Juna saat mereka berdua berada di kelas.
"Kamu sudah menyelesaikan buku setebal itu dalam semalam?" Tanya Lisa tak percaya.
"Sepertinya aku tahu siapa dewa yang kamu tolong atau lebih tepatnya dewi yang kamu tolong."
"Benarkah? Siapa dia?"
"Kalau dugaanku benar. Dia adalah adik dari ibuku dan ibuku dulunya juga seorang dewi. Mungkin sekarang bibiku sedang dalam bahaya. Ayahku sedang memburunya. Kita harus membantu bibiku."
"Tapi bagaimana bisa kita membantu? Bahkan keberadaannya saja kita nggak tahu."
"Aku punya ide. Bagaimana kalau setelah pulang sekolah kita pergi ke bukit belakang sekolah. Tapi ini akan sangat berbahaya. Aku nggak akan menyalahkanmu jika kamu menolak untuk ikut."
"Seberapa bahaya?"
"Kamu ingat saat pertama kali kamu menemukanku di tengah hujan malam-malam di belakang sekolah?"
Lisa mengangguk semangat. Sudah lama dia menantikan Juna menceritakan hal ini. Tapi Juna tak kunjung bercerita. Lisa sampai lupa ingin menanyakannya lagi.
"Itu pertama kalinya aku berani menyelidiki ke anehan ayahku. Dia pergi ke bukit belakang sekolah dan aku mengikutinya. Namun aku bahkan tak bisa masuk ke dalam hutan. Sekumpulan burung mengejarku hingga aku jatuh ke dalam jurang."
"Kamu jatuh ke jurang? Lalu bagaimana caranya kamu bisa kembali ke daerah sekolah?"
"Aku nggak tahu. Seingatku aku pingsan dan saat bangun aku mendengar suaramu dan Jeslyn mengobrol. Begitulah aku meminta bantuan kalian."
"Apa bibimu juga yang membawamu sampai kesini?"
"Kemungkinan besar iya."
"Baik. Sudah dipastikan. Nanti malam kita akan masuk ke dalam hutan." Ucap Lisa mantap.
"Baik."
#
Jeslyn menatap Lisa heran setelah tiba di kamar, tiba-tiba saja dia mengemas beberapa barang. Lisa terlihat seperti akan bepergian jauh.
Merasa penasaran Jeslyn turun dari tempat tidurnya dan mendekat ke arah Lisa. Karena beberapa kali dia memanggil, Lisa tampak tak mendengarnya sama sekali.
"Kamu mau kemana?" Tanya Jeslyn tepat di sebelah telinga Lisa.
"Wow.. wow.. wow.. kamu membuatku terkejut."
"Aku seharusnya yang bicara begitu." Balas Lisa kesal.
"Kamu mau kemana kok berkemas?"
"Benar. Aku belum cerita kepadamu. Sepertinya aku dan Juna sudah tahu semuanya. Ternyata ibu Juna adalah seorang dewi dan ayahnya adalah iblis. Intinya Ayah Juna ingin mengambil energi istrinya agar bisa menjadi dewa, sama seperti katamu."
"..."
"Kemungkinan ular yang aku tolong kemarin adalah Bibi Juna, adik perempuan ibunya. Aku dan Juna berencana untuk pergi ke bukit belakang sekolah malam ini." Lisa langsung mengarahkan jari telunjuknya pada Jeslyn. "Jangan beritahu siapapun!"
"Iya.. iya.."
Lisa kembali melakukan pekerjaannya mengemasi barang.
"Kali ini kamu nggak mengajakku?" Tanya Jeslyn penasaran.
"Aku nggak ingin hal seperti kemarin terjadi lagi. Kamu tahu kan aku ke bukit bukan untuk bersenang-senang."
"Tapi bagaimana kalau aku ingin ikut. Ayolahhhh..."
"Tapi ini akan berbahaya. Kamu disini saja. Cari bantuan kalau aku dan Juna nggak segera kembali."
"Cari bantuan ke siapa? Apa guru nanti akan percaya pada ucapanku?"
"Terserah kamu meminta tolong pada siapapun. Jangan ceritakan semuanya. Katakan saja kita menghilang di hutan."
"Berapa hari kalian akan pergi?"
"Rencana hanya saat akhir minggu ini, tapi kita nggak tahu apa yang akan terjadi disana."
"Apa kamu nggak takut?"
"Tentu saja aku takut. Kamu tahu sendirikan aku takut pada hantu. Tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur terseret dalam masalah ini."
Lisa selesai mengemas barangnya kemudian dia berdiri dan mencoba tas ransel yang sudah dia tata rapi. Dia tak menyangka ternyata barang bawaannya cukup banyak. Padahal dia sudah mengurangi beberapa barang karena tidak muat.
"Apa itu nggak terlalu berat?" Tanya Jeslyn khawatir melihat tas yang Lisa bawa bahkan lebih besar dari tubuhnya.
"Kurasa ini cukup ringan. Cukup mengejutkan aku bisa mengangkatnya tanpa kesulitan." Lisa mencoba berjalan dari ujung tempat tidur ke arah pintu.
"Lihat. Ini cukup ringan." Lisa menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri. Menunjukkan bahwa tas itu benar-benar ringan.
"Benar juga, kamu kan punya energi dewa." Ucap Jeslyn baru sadar.
"Ah iya, aku lupa yang satu itu. Pantas saja."
"Kalau begitu sebaiknya aku segera pergi. Sebelum Juna menungguki terlalu lama."
"Baiklah. Aku doakan yang terbaik untukmu. Semoga semuanya berjalan lancar dan semua ini segera berakhir bahagia."
"Iya terimakasih."
"Maaf aku nggak bisa bantu banyak." Sesal Jeslyn.
Lisa menggeleng tak setuju. "Sebaliknya, kamu sudah membantu kami begitu banyak. Jika kamu nggak ada, mungkin sampai sekarang aku masih merasa diriku pembawa sial. Setidaknya sekarang aku tahu bukan itu alasan semua hal buruk ini terjadi padaku."
Jeslyn mengangguk mengerti. "Hati-hati. Kalian harus pulang dengan selamat."
Lisa mengangguk kecil sebelum keluar dari kamarnya.
#