
Hari ini Lisa berniat harus bisa mengobrol dengan Zoya dan Wendy. Dia bahkan berangkat lebih awal dari biasanya agar bisa menyapa mereka lebih dulu. Walaupun sebenarnya Lisa tak yakin apa keduanya biasa berangkat pagi. Jika hari ini mereka berangkat siang, maka semuanya akan sia-sia.
Bersyukur mungkin misinya bisa dibilang sukses. Ternyata Wendy tipe murid yang rajin berangkat pagi. Dengan senyum lebar dia menghampiri Wendy di bangkunya.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Apa aku bisa duduk disini?" Tunjuk Lisa pada bangku di sebelahnya.
"Mungkin bisa sebelum pemiliknya datang."
Dengan kecepatan cahaya, Lisa langsung menempelkan pantatnya pada meja di sebelah Wendy. "Apa yang kamu kerjakan?"
"Ini, soal dari tempat lesku."
"Oh, kamu juga ikut les diluar? Apa tinggal di asrama dibolehkan untuk les diluar?"
"Aku nggak tinggal di asrama. Orang tuaku meminta izin agar aku tidak harus tinggal di asrama. Mereka memiliki banyak alasan untuk itu."
"Irinya. Aku juga ingin seperti itu."
"Iri? Aku malah lebih senang tinggal di asrama. Benar juga, kamu kan tinggal di asrama. Apa punya teman sekamar itu menyenangkan?"
"Emm... Lumayan. Walaupun lebih banyak menyebalkannya. Tapi kalau dipikir-pikir memang seru kalau punya teman sekamar."
Wendy memandang Lisa iri. Dari dulu dia sangat ingin punya roomate seperti anak-anak yang lain. Namun sepertinya hal itu tak akan terjadi padanya.
"Kamu tahu, aku bahkan nggak pernah ikut berkemah saat sekolah. Kedua orang tuaku selalu melarangku pergi. Aku bahkan bukan orang yang berpenyakitan, tapi mereka terlalu overprotektif."
"Kamu pasti anak tunggal?"
"Iya, kamu benar."
"Pantas saja. Kamu anak mereka satu-satunya. Pasti mereka nggak pengen hal buruk terjadi padamu."
"Tapi kan aku juga ingin bersenang-senang dengan teman-temanku." Suasana berubah menjadi murung. Padahal niat awal Lisa mengajak Wendy mengobrol bukan untuk membuatnya sedih seperti ini.
"Kamu tenang saja. Kan setelah ujian semester ada acara ulang tahun sekolah."
"Tapi kelas khusus tidak akan pernah ikut hal begituan."
"Hah?! Kamu serius? Kenapa sekolah ini begitu membosankan. Memberikan aturan yang tidak masuk akal. Murid pintarkan harusnya diberi dispensasi, bukan malah dikurung seperti ini. Ini namanya penyiksaan..."
"Psst... Lisa... Lisa..."
"Tahu begini, aku nggak akan mau masuk kelas ini.."
"Lisa..."
"Apa?!"
Wendy menunjuk ke arah belakang Lisa. Ternyata di depan sudah ada Juna yang tengah merapikan soal-soal di meja.
"Itu Juna, lalu kenapa?" Tanya Lisa sedikit berbisik. Karena sepertinya Wendy sedang ingin mengajaknya berbicara sambil berbisik.
Wendy menatap Lisa bingung. Apa Lisa tak tahu atau hanya pura-pura bodoh.
"Jika kamu meneruskan kata-katamu, itu hanya akan seperti mengumpat di depan Juna."
"Kenapa begitu?"
"Kan yang membuat peraturan kepala sekolah dan yang menjalankan programnya anggota OSIS."
"Lalu kenapa?"
"Kan kepala sekolah ayahnya Juna, kalau kamu terus bicara. Kamu hanya akan membuat Juna tersinggung."
"HAH?!!"
Lisa menutup mulutnya yang seperti rem blong. Wendy hanya bisa menepuk jidat. Sepertinya mengobrolkan masalah orang lain dengan Lisa bukanlah pilihan yang baik.
"Kenapa kamu membuat keributan?" Tanya Juna.
Lisa menatap ke arah Juna dan murid yang lainnya. Dia membungkuk kecil sambil meminta maaf.
"Kamu benar-benar dalam masalah sekarang." Bisik Wendy.
"Apa dia mendengar semua perkataanku tadi? Aku benar-benar tidak tahu. Bagaimana ini? Apa Juna akan marah padaku?"
Lisa hanya bisa memukul kecil kepalanya. Meratapi kebodohan yang sudah tidak bisa dibendung.
"Tapi beneran Juna itu anak kepala sekolah?" Tanya Lisa kembali merapat ke arah Wendy.
Wendy cukup terkejut Lisa masih ingin membahas soal Juna. Padahal tadi dia seperti ketakutan setengah mati.
"Hey... Apa yang sedang kalian bicarakan saling berbisik seperti ini?" Tanya Cinta yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Lisa.
Mendengar suara Cinta langsung membuat Lisa kelabakan. Dia kembali menegakkan badannya dan berusaha bersikap senormal mungkin.
"Tidak. Kami tidak membicarakan apapun yang penting. Sebaiknya kita kembali ke bangku kita." Lisa menggandeng Cinta pergi.
Wendy hanya tersenyum kecil setelah Lisa pergi. Akting Lisa benar-benar buruk. Wendy yakin Lisa bukan tipe orang yang bisa berbohong.
#
"KAMU HARUS MATI!"
BRAK
Semuanya terjadi begitu cepat bahkan sampai Lisa belum sempat mengedipkan mata.
"Kamu nggak pa-pa?" Tanya Juna khawatir.
Mata Lisa masih membulat tak percaya. Setelah Juna mengulangi pertanyaannya Lisa baru sedikit sadar dan mulai mengangguk kecil.
Kini beberapa murid juga mulai berkumpul karena mendengar keributan dari luar.
"Ada keributan apa ini?" Tanya seorang guru masuk ke dalam kerumunan.
"Bawa dia ke UKS." Pinta Juna pada Wendy dan Zoya.
Keduanya mengangguk dan menggantikan Juna membopong tubuh Lisa.
"Juna, jelaskan apa yang sedang terjadi." Tanya sang guru.
Juna lalu ikut bersama guru dan murid yang baru saja dia tendang ke ruang guru.
"Kalian lihat barusan?" Tanya Lisa di tengah perjalanan mereka menuju UKS. Keduanya mengangguk.
"Juna menendangnya sampai melayang. Lihat!" Lisa menunjukkan bulu kuduknya yang masih berdiri. "Tanganku bahkan masih merinding dibuatnya."
Wendy dan Zoya saling menatap tak percaya. "Kamu lemas karena melihat tendangan Juna?" Tanya Joy memastikan.
"Heemm..." Lisa mengangguk lucu.
"Bukan karena hampir ditusuk pisau?" Wendy bertanya dengan tampang kesal.
Benar juga. Lisa baru ingat kalau laki-laki tadi hampir saja menusuknya dengan pisau. Dia bahkan belum sempat melihat apa yang mau dilakukan laki-laki tadi. Matanya hanya fokus pada kaki Juna yang lewat did epan wajahnya.
"Kenapa aku tiba-tiba diserang? Aku bahkan nggak kenal siapa dia." Ucap Lisa bingung. Dari yang Lisa tahu, dia juga tak memiliki musuh yang mungkin sakit hati sampai begitunya.
"Itu Fino. Dia murid yang sebelumnya ada di kelas khusus, tapi harus kembali ke kelas umum karena kamu dimasukkan." Jelas Wendy.
"Astaga! Jadi dia dipindahkan? Aku pikir dia nggak masuk atau gimana."
"Bagaimana mungkin siswa nggak masuk sampai berminggu-minggu." Ucap Zoya sambil memutar bola matanya.
"Benar juga. Lalu bagaimana nasib Juna sekarang? Apa dia akan dapat masalah karena menendangnya?" Lisa berhenti dan ingin berbalik untuk membantu Juna, tapi Wendy dan Zoya menahannya.
"Mungkin Juna akan baik-baik saja. Lagipula dia murid berharga semua guru. Disini Juna kan hanya berusaha menolongmu. Yang ada malah sepertinya Fino yang akan mendapatkan masalah." Pikir Zoya.
"Aku setuju dengan Zoya. Lagian membawa pisau sekolah bahkan sampai menyerang seorang murid itu sudah bisa dibilang tindakan kriminal." Tambah Wendy.
"Apa dia akan dilaporkan ke polisi?"
"Mana mungkin. Hal itu akan mencoreng nama baik sekolah kita. Kemungkinan yang paling besar dia akan dikeluarkan dari sekolah ini."
Lisa mengangguk mengerti. Walaupun dia cukup kasihan pada Fino, tapi sepertinya lebih menyeramkan jika dia harus satu sekolah dengan orang yang ingin menyerangnya.
#