Sweet Curse

Sweet Curse
Jangan Mengganggu



Hari-hari Juna dan Lisa diisi oleh latihan yang terus-menerus. Tak hanya Leos, Lilith juga melatih Lisa semua mantra yang dia kuasai.


Mungkin karena kekuatan energi Lisa yang lebih besar. Tidak hanya cepat saat mempelajarinya, bahkan Lisa dapat membuat mantra itu bekerja dua kali lebih baik dari yang Lilith ajarkan.


Lilith sangat senang mengajari Lisa berlatih. Rasanya seperti dia sendang berlatih bersama kakaknya seperti dulu.


Sudah sangat lama. Bohong jika Lilith tak merindukan masa-masa itu. Apalagi kakaknya harus pergi dengan cara yang menyakitkan.


Lilith berjanji pada dirinya dan juga pada kakaknya bahwa dia akan mengambil kembali raga sang kakak. Dengan begitu dia tidak akan malu untuk menemui kakaknya kelak di akhirat.


#


"Hahaha... Akhirnya kamu mengalahkan Kakek juga."


Mendengar tawa lepas sang Kakek membuat Juna ikut tersenyum dengan nafas masih terengah-engah. Walaupun dia menang, tapi rasanya dialah yang kalah. Karena sekarang bahkan dia tak kuat untuk bangun. Sedangkan kakeknya masih bisa bergerak dengan leluasa.


"Apa yang kamu lakukan? Orang-orang akan berpikir kamu yang kalah dalam pertarungan ini." Leos membantu Juna berdiri.


Juna tersenyum tipis. "Bahkan aku juga berpikir begitu."


"Tapi bagaimanapun Kakek bangga padamu. Kamu bisa mempelajari semuanya dalam waktu sesingkat ini. Rasanya lega, sudah tidak ada lagi yang bisa Kakek ajarkan. Kamu bisa mengembangkan semua yang Kakek ajarkan kepadamu. Masih banyak jurus yang belum belum sempurna. Kakek yakin kamu bisa mengembangkannya jauh lebih baik dari ini."


Juna mengangguk mengerti. Leos menepuk keras punggung Juna. Dia tertawa keras melihat kondisi Juna sekarang. Nafas terengahnya belum juga pulih.


Juna merintih kecil mendapatkan tepukan keras dari Leos. "Jangan menertawaiku, Kek." Protes Juna.


"Hahaha.. baik, baik, aku akan berhenti menggodamu sekarang." Walaupun setelah berkata begitu. Nyatanya Leos masih juga tertawa keras.


Juna hanya bisa menggeleng maklum. Ingatkan dia untuk tidak mudah percaya dengan ucapan kakeknya. Leos sangat berbeda dengan kedua anak perempuannya. Sepertinya keduanya memiliki sifat yang diturunkan dari sang nenek. Juna sedikit merasa bersyukur akan hal itu.


"Benar juga. Aku jarang melihat Bibi Lilith dan Lisa akhir-akhir ini." Tiba-tiba Juna baru ingat. Latihan berat yang diberikan sang kakek membuatnya lupa sejenak tentang keberadaan keduanya yang jarang terlihat.


"Mungkin mereka masih latihan." Jelas Leos memberikan segelas air pada Juna.


"Latihan?" Juna menerima gelas itu dan langsung meneguknya sampai habis.


"Mereka tidak memberitahumu? Aneh sekali. Mereka latihan bersama. Lilith mengajarkan pacarmu memanah dan juga beberapa mantra."


Mendengar kata pacar baru membuat Juna ingat kalau pernyataan cintanya beberapa saat lalu belum Lisa jawab. "Dia bukan pacarku, Kek."


"Benarkah? Padahal kalian terlihat begitu dekat. Kalian selalu saja menempel satu sama lain. Seperti ini." Leos memperagakan kedua telapak tangannya yang saling berdekatan.


"Kek, hentikan. Ini tidak lucu lagi."


"Baik, baik.. terserah apapun hubungan kalian, Kakek harap kamu mendapatkan pasangan yang baik nantinya." Ucap Leos yang tiba-tiba teringat pada Lilian.


Jika saja dulu dia lebih tegas lagi pada anak-anaknya. Mungkin Lilian tak harus pergi dan masih berada bersama mereka sekarang.


"Pasti. Kakek tidak perlu khawatir."


Leos mengangguk dan tersenyum tipis. Dia berharap Juna benar-benar memegang kata-katanya.


Juna bangkit dari duduknya. "Apa latihan kita sudah selesai sekarang?"


"Apa kamu mau melakukan sesuatu?"


"Aku ingin melihat mereka berlatih."


"Benar. Ayo kita lihat mereka berlatih. Kakek juga belum tahu bagaimana Lilith mengajar. Lisa adalah murid pertama Bibimu."


"Tidak sama sekali. Tapi Bibimu ini memang selalu percaya diri dalam hal apapun. Itu salah satu kelebihannya yang lain."


Juna mengangguk mengerti. Lalu keduanya memutuskan untuk pergi ke ruang latihan bersama.


#


"Lihat dia... Dia sangat mirip sekali dengan ibumu saat muda. Dulu ibumu juga pemanah yang hebat." Bisik Leos saat melihat Lisa berlatih.


Iya, jujur Juna juga menyadari hal ini dulu. Dia sempat tak suka pada Lisa karena sangat mirip ibunya dengan beberapa alasan. Melihat Lisa selalu mengingatkan Juna bahwa ibunya yang berada di rumah bukanlah ibu yang sesungguhnya.


Tapi perasaan benci itu hanya sementara. Karena rasa nyaman akan sosok ibunya yang dia lihat pada diri Lisa jauh lebih besar.


Melihat Lisa berhasil memanah tepat sasaran membuat Leos bertepuk tangan gembira. Ruangan yang tadinya hanya terdengar hunusan anak panah kini jauh lebih gaduh.


"Kalian disini?" Ucap Lilith saat baru menyadari keberadaan dua orang lain di ruang latihan.


"Kenapa Bibi tak mengatakan apapun padaku tentang latihan ini? Apa Bibi sudah benar-benar pulih?"


"Itulah alasanku tidak mengungkit soal latihan kami padamu. Lihat sendiri bagaimana keadaanku. Aku bahkan lebih dari sekedar sembuh. Lisa dan tabib merawatku dengan baik."


"Apakah benar? Bagaimana kata tabib?" Tanya Juna pada Lisa yang berada di sebelah Lilith.


"Pagi tadi tabib mengatakan Bibi sudah lebih baik sekarang."


"Dengarkan. Lihat bahkan kamu tidak percaya dengan ucapan Bibimu sendiri." Ucap Lilith sinis melihat bagaimana Juna lebih percaya pada Lisa daripada perkataannya.


"Latihan kami belum selesai. Jangan ganggu dan jadilah penonton yang baik. Ayo Lisa, jangan hiraukan mereka berdua."


Mendengar perintah jangan mengganggu membuat Juna dan Leos mundur kebelakang mengambil tempat duduk.


Lisa kembali pada posisi memanahnya dan tentu saja semua anak panahnya tepat sasaran sama seperti sebelumnya.


Membuat Leos bersorak menyemangati dan Juna tersenyum bangga. Padahal bukan mereka yang sedang memanah sekarang.


Lisa hanya bisa tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat tiba-tiba saja latihannya memiliki beberapa penonton. Apalagi salah satu penontonnya sangat energik.


"Bukankah aku bilang menjadi penonton yang baik?" Protes Lilith saat mendengar keributan.


"Maaf, maaf. Ah sebaiknya Kakek pergi. Kita belum menyiapkan senjata."


"Kalau begitu aku akan membantu." Ucap Juna ikut berdiri.


"Baiklah. Pergi kalian berdua. Jangan ganggu kami berlatih." Ucap Lilith bahkan sebelum keduanya berpamitan.


"Iya. Kami tidak akan mengganggu kalian lagi. Ayo Juna kita pergi." Ucap Leos bersikap seperti tengah merajuk. Dia manarik tangan Juna untuk segera pergi dari sana.


"Dasar Pak Tua itu. Masih saja seperti anak kecil." Cibil Lilith kesal.


Sedangkan Lisa dan Juna hanya bisa menahan senyum melihat tingkah ayah dan anak perempuannya ini. Mereka berdua tampak akrab satu sama lain. Membuat orang iri melihat kedekatan mereka.


Juna tarik kembali ucapannya tentang tak ada yang mewarisi sifat sang kakek. Sekali lagi dia telah salah menilai.


Sekarang bahkan sifat bibi dan kakeknya sudah seperti copy paste. Mereka sama saja.


#