
"Kak Yessiiiiiiii..." Lisa berteriak nyaring sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Sampai semua siswi yang berada di lorong asrama menengok ke arahnya heran.
Karena perbuatannya menjadi pusat perhatian semua orang, Lisa meminta maaf kepada yang lain atas kegaduhan yang dia buat sepagi ini.
Saat melihat Yessi, Lisa hanya berpikir akan baik jika mereka berangkat sekolah bersama. mengingat Jeslyn dan Yessi sudah lama tidak bertemu.
Tidak hanya Jeslyn, Lisa pun juga ingin mereka menjadi lebih dekat. Bukan karena dia suka mereka berdua menggodanya. Hanya saja Lisa merasa sudah dekat dengan Yessi dan itu semua berkat Jeslyn.
Lisa merasa keduanya sangat menjaga Lisa. Mereka seperti kakak yang tak pernah Lisa miliki.
Tersenyum melihat tingkah Lisa, Yessi menghampirinya dengan langkah kecil. Berbeda dengan Lisa yang berjalan cepat ke arahnya sambil sedikit menutup wajahnya malu, diikuti oleh Jeslyn dibelakang.
"Ada apa? Kenapa pagi-pagi sudah semangat sekali." Tanya Yerin saat Lisa sudah berdiri di depannya.
"Hehe.. ayo berangkat sekolah bersama. Oh iya, katanya Kakak dan Jeslyn sudah lama nggak ketemu. Jadi sekalian saja berangkat bareng."
Dengan senang hati Jennie berjalan selangkah di depan Lisa untuk merangkul bahu Yessi.
"Benar. Sekarang kamu sibuk sekali. Jangan bilang kamu melupakanku?" Tanya Jeslyn memasang wajah kecewa.
Benar. Padahal dia mengenal Lisa lewat Jeslyn, tapi sekarang malah dia yang lebih dekat dengan Lisa. Mau bagaimana lagi? Dia lebih sering bertemu dengan Lisa daripada Jeslyn.
"Iya ya. Soalnya klub taekwondo lagi sibuk-sibuknya. Kamu sih nggak mau ikut taekwondo. Oh dan satu lagi. Berapa kali aku bilang. Panggil aku 'Kak'."
"Hehe... Umur kita kan nggak beda jauh. Oh iya, Kata Lisa kamu mirip sekali denganku."
"Oh benar. Aku juga ingat Lisa pernah mengatakannya."
"Aku juga berpikir begitu. Ngomong-ngomong aku belum punya nomer WA mu."
"Oh sebentar." Yessi mengeluarkan ponselnya dari saku dan keduanya mulai bertukar nomer WA.
"Bagus. Sekarang setidaknya kita bisa berkirim pesan."
"Berarti sekarang kamu kesepian dong karena Lisa nggak sekelas lagi denganmu?"
Mendengar itu Lisa seperti membusungkan dada bangga. Tentu saja Jeslyn akan kesepian tanpanya.
"Nggak juga." Aku Jeslyn.
Lisa menengok sebal mendengar jawaban tak berdosa Jeslyn. "Hey!" Protesnya.
"Kamu lupa aku punya banyak teman. Lagipula kita bertemu di kamar setiap hari. Mungkin jika dia nggak pindah kelas, aku sudah bosan melihat wajahnya." Jelas Jenslyn tentu saja dengan nada bercanda. Dia hanya ingin menggoda Lisa.
"Terserah." Balas Lisa berpindah tempat disebelah Yessi. Dia ngambek rupanya.
"Kamu marah? Serius kamu marah?"
"Aku nggak marah." Balas Lisa ketus.
"Kalau begitu kenapa kamu pindah kesana?" Balik sini."
"Katamu kamu bosan denganku. Kalau begitu aku akan tetap disini."
"Dasar anak kecil."
"Kamu yang anak kecil!"
"Ingat ya, aku lahir lebih dulu daripada kamu." Jelas Jenslyn mengingatkan.
"Astaga! Kita hanya beda 2 bulan."
"Tetap saja aku yang lahir duluan, jadi kamu yang anak kecil."
"Terserah." Ucap Lisa sambil memalingkan wajahnya.
#
Hari ini Juna tak ada di kelas. Dia hanya datang tadi pagi dan memberikan beberapa lembar tugas.
Cinta bilang hal ini sudah biasa. Juna selalu begitu jika sudah berurusan dengan Osis.
Mengerjakan soal begitu menjenuhkan. Lisa meninggalkan mejanya. Berdiri dan memilih beberapa buku di rak yang mungkin menarik perhatiannya.
Tak perduli dengan tugas-tugas dari Juna. Toh nantinya dia akan mendapat nilai bagus juga.
Bergerak perlahan. Lisa mencoba untuk berhati-hati agar tak menganggu yang lainnya.
"Kamu sudah selesai?" Tanya Zoya setengah berbisik.
Lisa menggeleng. "Aku bosan." Ucapnya tanpa bersuara. Dia hanya menggerakkan mulut dan tangannya.
"Bagaimana bisa kamu menyembunyikannya otak pintarmu selama ini?" Tanya Zoya lirih. Tentu saja hanya orang pintar seperti Juna yang akan bosan menjawab semua soal-soal ini. Sedangkan yang lain hanya akan pusing kebingungan dengan semuanya.
Lisa tersenyum tipis. "Aku tidak sepintar itu."
Jawaban Lisa hanya Zoya anggap sebagai rasa rendah diri. Tentu saja orang-orang terpelajar tak harus memperlihatkan kalau dirinya hebat. Biarkan orang lain yang menilai sendiri.
Mengangguk, Zoya kembali mengerjakan lembar tugasnya. Lisa melihat betapa tekunnya mereka yang berada di kelas ini. Walaupun dari luar mereka tampak sombong, namun nyatanya mereka seorang pekerja keras.
Bahkan selama Lisa berada di kelas khusus, dia tak pernah mendengar mereka mengeluh dengan cara Juna mengajar.
Padahal jika mereka benar-benar sombong, bisa jadi mereka akan meremehkan Juna. Siapa sangka mereka mengakui Juna lebih dari yang Lisa bayangkan.
Ketemu. Lisa mengambil sebuah novel terjemahan. Dia tak menyangka ada sebuah novel di rak penuh buku-buku pelajaran ini. Dilihat dari sampulnya saja sepertinya sudah menarik.
Apa mereka salah meletakkan buku atau bagaimana? Ini sebuah novel cinta. Lisa pikir hal berbau seperti fiksi cinta cukup dilarang di kelas ini.
Mungkin guru berpikir imajinatif mengganggu daya fokus mereka dalam belajar. Siapa peduli. Yang penting Lisa dapat buku bagus.
Baru halaman pertama terbuka, Lisa dibuat takjub dengan desain novel. Di setiap halaman akan ada gambar yang menjadi tema dalam paragraf tersebut.
Ini novel cinta mistis. Percintaan antara putri ular dan burung elang. Semakin Lisa membaca entah kenapa dia merasa tak asing dengan jalan ceritanya.
Kenapa dia seperti tahu dimana latar cerita dalam novel ini?
Dingin. Lisa mengusap tubuhnya yang mulai menggigil. Dia menutup kembali novel ditangannya dan melihat sekeliling. Aneh, sepertinya hanya dia yang merasa kedinginan disini.
Ada bayangan hitam berjalan perlahan terlihat dari jendela kelas. Bersamaan dengan bayangan itu muncul, Lisa juga ikut membeku. Tubuhnya tak dapat bergerak sama sekali.
Perlahan Lisa melihat sosok hitam itu berbalik menatapnya. Membuat Lisa semakin ketakutan. Dia ingin meminta tolong, tapi sulit. Untuk membuka mulut saja dia tidak bisa.
Keringat mulai mengucur di pelipisnya. Aneh padahal tubuhnya masih menggigil.
Lisa tak ingin begini. Dia tak mau kalah. Bagaimanapun juga dia harus melawan. Perlahan dia berusaha untuk menekan rasa takutnya.
Ingat bahwa makhluk itu tak lebih kuat darinya. Lisa berpikir mungkin ini hanya gertakan yang dia lakukan. Karena seingat Lisa wujud di mimpi dan juga dikenyataan jauh berbeda.
"Agggghhhhh!!!" Akhirnya setelah semua cara Lisa kerahkan, Lisa bisa berteriak keras. Walaupun setelahnya penglihatannya kabur dan diapun tak sadarkan diri.
Semua siswa di kelas terkejut mendengar teriakkan Lisa. Wendy dan Zoya mendatangi Lisa khawatir. Beberapa anak OSIS juga datang untuk melihat apa yang terjadi.
Sedikit berlari Juna menghampiri Lisa. Mengangkat tubuh rampingnya dan bergegas menuju UKS.
Kerumunan tampak terkejut melihat aksi Juna. Bagaimanapun ini bukan kali pertama Juna melakukan penyelamatan untuk Lisa.
#