
"Kamu menjalin hubungan dengannya?"
"Tidak." Jawab Juna yakin. Jika Juna mengingat mungkin bulan ini menjadi bulan tersering dia dipanggil ke ruang kepala sekolah. Benar-benar suatu rekor. Juna tak pernah membayangkan dirinya akan berada di ruang kepala sekolah hampir setiap hari.
"Semua siswa melihatnya."
"Mereka hanya melihat saya menggendong Lisa karena dia pingsan. Itu tidak membuktikan kalau saya menjalin hubungan dengannya. Apa menolong teman itu salah?"
"..."
"Lagipula, apa salahnya jika saya benar-benar memiliki hubungan dengannya? Saya juga remaja seperti yang lain."
"Kamu seharusnya tidak lupa kalau kamu selalu menjadi contoh semua siswa. Jangan sampai memberikan contoh buruk pada mereka."
"Saya mengerti."
"Jangan sampai mengecewakan dan membuat image ketua OSIS menjadi buruk."
"Baik."
"Kamu boleh pergi."
Dengan senang hati Juna undur diri dari ruangan itu. Juna semakin bertanya-tanya kenapa kepala sekolah begitu tertarik dengan Lisa. Rasanya tak pernah sekalipun beliau tertarik pada salah satu siswa secara khusus.
Hal ini membuat Juna semakin curiga. Sebenarnya ada satu yang ingin dia coba. Tapi dia tak tahu apa rencananya bakan berhasil. Karena mungkin rencananya ini akan membuat Lisa bertambah sulit.
Setelah kejadian kemarin banyak yang berasumsi bahwa Lisa tengah kerasukan atau melihat hal mistis. Juga rumor sebelumnya tentang pembawa sial dan lainnya kembali mencuat. Juna sendiri baru tahu ada rumor seperti itu sebelumnya.
Kelas khusus yang awalnya tak pernah tertarik soal rumor, kini juga mulai membicarakan hal ini walaupun sedikit. Bagaimanapun juga kejadian itu terjadi di kelas mereka. Ada yang ketakutan kalau-kalau kelas mereka berhantu, tapi ada juga yang berpikir Lisa sudah tidak waras dan depresi.
Lisa sendiri hari ini memutuskan untuk absen. Pilihan yang tepat karena dia tak harus mendengar omong kosong mereka. Sepertinya Juna harus mengurus rumor ini secepatnya sebelum bertambah semakin parah.
#
Tok.. tok.. tok..
Lisa beranjak dari kasurnya. Siapa yang datang ke kamarnya di jam pelajaran seperti ini? Ibu asrama tampak tersenyum ramah saat pintu terbuka. Ibu asrama memberikan kantung kresek kepadanya.
Lisa tampak kebingungan menerima pemberian beliau. Karena dia tidak pernah mendengar ada hal semacam ini terjadi saat ada murid yang sakit. Apa tidak apa-apa dia menerimanya?
"Ada orang yang mengkhawatirkanmu. Jadi dia menitipkan ini pada Ibu. Dia juga berpesan untuk menjagamu selama kamu sakit, tapi sepertinya kamu sudah lebih baik sekarang." Jelas Ibu asrama saat melihat wajah bingung Lisa.
"Iya, saya sudah lebih baik. Mungkin besok sudah bisa bersekolah seperti biasa."
"Kalau begitu segera kembali istirahat. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi ibu." Ibu asrama beranjak pergi.
"Tunggu, Bu. Kalau boleh tahu, dari siapa semua ini?"
Ibu asrama tersenyum. "Kamu akan tahu sendiri nanti."
Lisa menimang sejenak. Ini pasti tidak mungkin dari Jeslyn karena Jeslyn bisa saja datang langsung kemari dan tidak mungkin juga dari Kak Yessi dengan alasan yang sama. Lagipula, mana mungkin Kak Yessi tahu kalau Lisa sakit. Atau jangan-jangan makanan ini dari Juna?
Lisa meraih ponselnya. Mencari id line Juna dalam grup WA kelas. Dia mengambil beberapa gambar dari makanan yang diterimanya, lalu mengirim foto dari bungkusan itu pada Juna.
"Ini darimu?" Ketiknya dalam pesan.
'Kamu sudah menerimanya?'
"Kenapa kamu mengirimiku makanan?"
'Tentu saja untuk dimakan. Apa kamu sudah makan?'
"Belum."
'Bagus. Kalau begitu makanlah.'
"Kalau begitu terimakasih atas makanannya."
'Sama-sama.'
Parahnya bagaimana bisa wajah sedingin itu bisa melakukan hal-hal manis seperti ini. Tanpa bertanya dan tanpa memberi tahu apapun tiba-tiba sudah datang makanan.
Bahkan Lisa belum pernah diperlakukan seperti ini oleh mantan-mantannya terdahulu. Lisa memukul dahinya keras. 'Dasar bodoh! Kenapa kamu membandingkan Juna dengan mantan-mantanmu.' pikirnya.
Masa bodoh dengan isi otak Juna. Lisa memilih untuk menyantap makanan ini. Saat membuka makanannya, betapa terkejutnya Lisa melihat semuanya adalah makanan favoritnya.
Tunggu! Bagaimana bisa Juna tahu kalau Lisa menyukai semua ini? Ini sudah bukan so sweet lagi, tapi rasanya lebih ke menyeramkan.
Lisa meraih ponselnya lagi. Mengirim pesan singkat pada Juna.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku suka semua ini?"
'Kamu suka itu? Baguslah. Aku hanya membeli yang ada di kantin.'
Ah... Lisa mengangguk mengerti. Sepertinya dia salah sangka dengan niat baik Juna. Untung saja dia bertanya. Kalau tidak dia pasti sudah berpikir yang tidak-tidak padanya.
"Tunggu. Kenapa kamu bisa bermain ponsel saat jam pelajaran?"
Tidak seperti sebelumnya, Lisa harus menunggu beberapa menit untuk mendapatkan balasan.
'Aku sedang berada di ruang OSIS. Aku perlu ponsel untuk mengirim data ke grup jika kamu ingin tahu.'
Lisa mengangguk lagi. Ternyata enak juga jadi anggota OSIS. Mereka bisa memakai ponsel di jam kelas tanpa dimarahi.
"Enak juga ya jadi anggota OSIS."
'Mau bergabung?'
Lisa mendekatkan layar ponsel itu hingga hampir menempel pada matanya. Memastikan bahwa dia tidak salah baca.
'Ikut saja seleksinya tahun depan.' Tambah Juna lagi.
"Apa aku bisa masuk? Maksudku apa aku cukup kompeten untuk menjadi anggota OSIS?"
'Semua orang bisa berada di OSIS.'
"Akan aku coba nanti."
'Bagus. Kalau begitu kembali beristirahat. Aku akan kembali melanjutkan pekerjaanku.'
"Iya. Terimakasih lagi untuk makanannya."
'Iya. Sama-sama.'
Lisa tersenyum kecil. Ternyata Juna cukup menyenangkan untuk diajak mengobrol via chat. Berbeda dengan bertatapan langsung dengannya. Lisa terkikik geli saat membayangkan wajah datar Juna sambil mengetik semua ini.
"Apa dia juga seperti itu dengan yang lain?" Tanya Lisa pada dirinya sendiri.
Ada rasa penasaran dan ingin tahu bagaimana Juna berkirim pesan dengan siswa yang lain. Apa sebaiknya besok dia tanya ke Wendy dan Zoya? Tapi sepertinya mereka tidak begitu dekat dengan Juna. Atau mungkin Cinta? Tapi bagaimana kalau nanti Cinta jadi salah paham padanya?
"Masa bodoh. Lebih baik aku makan."
#
Solwa dan Juju saling bertatapan saat melihat Juna tengah memainkan ponselnya sambil tersenyum kecil. Bukan berarti mereka ingin menegur Juna karena bermain ponsel. Hanya saja mereka penasaran siapa orang yang tengah berkirim pesan dengan Juna disaat sibuk seperti ini.
Apalagi sampai Juna mau meluangkan waktu untuk membalas chatnya. Pasti orang itu sangat istimewa.
Mereka semua sudah hafal bagaimana sikap Juna. Bertemu dengan Juna secara langsung jauh lebih mudah daripada harus menunggu balasan chat darinya.
Jika urusan pekerjaan, baru dia akan membalasnya dengan serius. Tanpa basa-basi apapun. Masalahnya tidak mungkin ada orang yang membalas pekerjaan sambil tersenyum seperti itu.
Sepertinya tidak hanya Solwa dan Juju, anak-anak yang lain juga mulai sadar apa yang terjadi dengan Juna. Ada yang ikut tersenyum kecil saat melihat bagaimana Juna membalas chat sambil tersenyum.
Mereka lega ternyata Juna sama saja seperti mereka. Dia juga seorang remaja pada umumnya.
#