Sweet Curse

Sweet Curse
Gadis Itu Bernama Lisa



"Bagaimana persiapan kelas khusus untuk ujian akhir semester ini?"


Juna berjalan ke depan memberikan transkip nilai semua siswa dari kelas khusus. Meletakkan amplop keras itu di meja dan kembali mundur ke tempatnya semula.


"Seperti biasa. Kelas khusus selalu siap. Anda tak perlu khawatir."


Kepala sekolah mengangguk mengerti. Beliau membuka map yang diberikan Juna. Matanya langsung tertuju pada nama Lisa yang selalu berada di bawah Junw. Tersenyum tipis dan meletakkan kembali map itu diatas meja. Kedua tangan beliau tautkan bersama dan meletakkan pada meja.


"Sepertinya kamu benar-benar dekat dengan gadis baru itu?"


"Kita berteman."


"Sangat mengejutkan. Terlihat berbeda saat kamu tiba-tiba saja terus menempel pada seseorang."


"Anda terlalu berlebihan."


"Kenapa harus dia? Apa kamu tidak takut dengan nilaimu yang mungkin saja bisa jatuh? Bukankah kemungkinan dia yang akan berada diposisimu sekarang? Pasti akan aneh jika disalib oleh orang yang kamu bantu."


"Saya senang Anda menilainya begitu tinggi. Anda tak perlu khawatir. Saya tidak keberatan kalau ranking saya turun."


Sepertinya Kepala Sekolah lupa bagaimana sifat anaknya yang sama tak menurun darinya.


Juna bukan anak yang ambisius soal nilai. Namun terkadang dia ambisius tentang hal lain. Walaupun mereka berbeda, ada kalanya mereka terlihat sama.


"Benar. Seharusnya aku tahu bagaimana sifatmu. Kamu bahkan tak pernah perduli pada nilai."


"Saya perduli jika Anda bertanya. Tapi saya tidak keberatan jika seseorang bisa melebihi saya. Saya tidak mungkin selalu menjadi yang pertama."


"Tidak. Kamu harus selalu menjadi yang pertama." Karena begitulah seharusnya keluarga Prakasa dibesarkan. Selalu menjadi nomer satu dalam segala hal. Menjadi seorang pemimpin dan pemain profesional dalam bidak catur milik siapapun.


"Jika maksud Anda, saya harus menjadi seperti Anda. Maka jawabannya tidak. Saya akan melakukan dan bertanggung jawab atas hidup saya sendiri."


"Kamu terlalu fokus dengan klub taekwondo. Jangan sampai nilaimu turun karena itu."


"Pertandingan sudah mulai dekat."


"Bukankah kamu tidak pernah berlatih sampai seperti ini?"


"Saya terkejut Anda memiliki banyak waktu luang hingga tahu jadwal saya."


"Tentu saja. Kepala Sekolah harus tahu apa saja yang terjadi di wilayahnya memimpin, yaitu sekolah."


"Benarkah? Kalau begitu apa Anda juga tahu kalau Lisa diserang lagi beberapa hari yang lalu?"


"Gadis itu diserang? Bagaimana bisa? Sepertinya hal ini mulai menjadi serius. Apa kamu tahu siapa pelakunya?"


"Gadis itu memiliki nama dan namanya adalah Lisa. Saya belum tahu siapa pelakunya. Saya sedang mencari tahu."


"Bukankah sebaiknya gadis i-, maksudku Lisa kembali ke kelas umum? Itu demi kebaikannya."


"Saya keberatan. Karena Lisa sendiri juga tak keberatan untuk terus berada di kelas khusus."


"Tapi bagaimana jika dia terluka? Dia temanmu, apa kamu tidak khawatir?"


"Kenapa Anda berpikir jika mengembalikannya ke kelas khusus maka semua akan selesai?"


"Lalu apa rencanamu sekarang?"


"Tentu saja menangkap pelakunya dan membiarkan kelas khusus tetap seperti seharusnya."


"Kamu yakin Lisa akan baik-baik saja?"


"Kenapa Anda meragukan saya?"


"Saat kita mengobrol entah kenapa selalu berakhir menjadi perdebatan. Bukankah jika seperti ini kita seperti ayah dan anak pada umumnya?"


"Jika itu yang Anda pikirkan, saya tidak keberatan. Sepertinya sudah tidak ada yang perlu dibicarakan, kalau begitu saya undur diri."


Juna berbalik untuk pergi sebelum dipersilahkan. Kepala Sekolah hanya bisa tersenyum karenanya. Karena seperti itulah putranya.


#


Lisa manarik selimutnya sampai batas leher. Dia melirik Jeslyn yang masih berkutat dengan ponselnya. Sepertinya dia masih sibuk bertukar chat dengan ibunya.


"Sudah mau tidur?" Tanya Jeslyn yang sadar Lisa sedang menatapnya.


"Heem.. jangan tidur terlalu larut."


Jeslyn mengangguk, walaupun Lisa mungkin tak dapat melihatnya. Kembali pada layar ponsel dan mengetik sesuatu disana. "Oh iya, benar juga. Lisa!"


Merasa terpanggil, Lisa yang baru memejamkan mata membuka lebar lagi matanya. Meskipun mengantuk, tapi dia akhirnya menyahut panggilan Jeslyn. "Ada apa?"


"Bukannya akhir-akhir ini kamu sudah tidak lagi bermimpi buruk?"


Mata Lisa membulat. Benar juga, kenapa dia baru sadar. "Benar juga. Apa itu pertanda buruk?" Lisa kembali bangkit dan tak jadi tidur. Kelangsungan hidupnya jauh lebih penting daripada tidur.


"Mungkin tidak."


"Karena sebenarnya aku memang nggak terlalu yakin. Tapi kata ibuku mungkin saja itu pertanda bagus."


"Syukurlah.. tapi, menurutmu kenapa aku tiba-tiba berhenti mimpi buruk?"


Lisa mengambil boneka beruangnya untuk memangku dagunya. Dia tertelungkup sambil merubah posisi menghadap Jeslyn.


"Mungkin saja burung itu menyerah. Mungkin dia tidak sekuat yang kita pikir."


"Begitu?"


"Atau mungkin.. semuanya karena Juna?"


Lisa memutar bola matanya malas. Kenapa tiba-tiba saja nama Juna terbawa dalam pembicaraan ini. "Bagaimana bisa ini ada kaitannya dengan Juna?"


"Tapi.. bukannya kalian dekat akhir-akhir ini?"


"Tidak sedekat itu, jadi jangan terlalu khawatir."


"Aku tidak khawatir, aku malah senang."


"Tidak kamu, tidak Kak Yessi, semua sama saja."


"Ah.. aku sudah lama nggak jalan bareng Yessi."


"Serius? Padahal kupikir karena kalian sering main bareng makanya kalian terlihat mirip. Saat aku mengobrol dengannya, selalu saja aku teringat padamu.."


Mata Jeslyn berbinar. Dia bangkit untuk duduk dan menatap Lisa seksama. "Berarti koneksi berjalan dengan baik."


"Kenoksi lagi."


"Hehe" Jeslyn tersenyum lebar.


"Bagaimana dengan kelas khususmu? Sepertinya kamu sudah menyesuaikan diri disana."


"Oh benar. Aku belum cerita padamu soal ini?"


"Apa?" Tanya Jeslyn antusias.


"Beberapa hari yang lalu, Juna mengajariku bela diri untuk pertahanan."


Senyum jahil Jeslyn kembali terlihat saat mendengar ucapan Lisa.


"Apa?" Tanya Lisa kesal.


"Bukan taekwondo, kan?"


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Taekwondo kan lebih dominan untuk menyerang, bukan bertahan. Jadi.. kalian berdua berkenan?" Jeslyn kembali tersenyum jahil sambil menaik turunkan alis matanya.


"Tidak! Makanya dengar baik-baik kalau orang ngomong. Kami berlatih bela diri."


"Ya, lalu?" Jeslyn semakin tersenyum nakal.


"Lupakan. Aku berubah pikiran untuk bercerita."


"Ayolah... Oke-oke, aku berhenti menggodamu. Jadi apa yang terjadi?"


"Kalau kamu sampai menggodaku lagi, lebih baik aku pergi tidur."


"Oke, deal."


"Jadi setelah kami pulang dari tempat latihan, ada seseorang yang menjatuhkan pot padaku."


"Serius? Siapa pelakunya?"


Lisa menggeleng dengan wajah menyesal. "Sempat kami kejar, tapi dia berhasil lolos. Menurutmu.. kenapa banyak sekali orang yang ingin aku terluka? Apa aku memang pantas dibenci."


"Itu sudah keterlaluan. Bagaimana bisa kamu pantas dibenci. Apa ini juga perbuatan anak dari kelas khusus?"


"Juna bilang bukan, tapi dia akan menyelidiki lagi."


Jenslyn menghelabnafas panjang. "Kenapa hidupmu begitu berat?"


Lisa menguap lebar setelah menyelesaikan ceritanya. Rasa kantuknya sudah kembali menyerang.


"Jadi, apakah aku sudah boleh tidur?"


"Silahkan. Kamu harus istirahat yang banyak. Jangan memikirkan hal-hal berat."


Lisa mengangguk kecil. Dia kembali menarik selimutnya dan kembali berbaring dengan posisi yang benar. Mengistirahatkan tulang-tulang tubuhnya yang mulai tua.


#