SILVIA

SILVIA
mengikuti 'mereka' diam diam



~keesokan harinya~


di gerbang istana belakang.


nampak Silvia memakai baju sederhana dan topi, serta mengingatkan rambutnya.


akan terlihat seperti orang tidak dikenal.


jika dilihat oleh orang biasa.


"apakah yang mulia, akan menepati janjinya ?....


ah... tentu saja, itu pasti.. pria sejati seharusnya begitu kan ?"


gumam hati Silvia.


"kau menungguku ya.. maaf sedikit terlambat.."


kata seidon yang tiba tiba datang dengan penampilan sederhana dan memakai jubah bercindung.


"yang mulia.. ternyata anda menepati janji anda..."


kata Silvia dengan lembut dan malu


"tentu saja, seorang pria sejati akan selalu ingat janjinya"


kata seidon dengan lembut dan percaya diri.


namun tanpa di sadari.. ada seseorang yang dari tadi mengawasi mereka.


seseorang dengan pakaian pelayan biasa.


yang tidak lain adalah rose.


menatap mereka dari tadi.


dari kejauhan rose akan terlihat baik baik saja seperti orang yang melamun.


namun jika seseorang bisa melihatnya sampai hati terdalam rose.


mereka akan melihat kesedihan, kebencian dan kekecewaan.


rose yang terlihat hanya diam tidak mengatakan apa apa.


ingin sekali dia mengatakan segala hal isi hatinya pada semua orang.


agar semua orang mengerti perasaannya,


khususnya Silvia dan seidon.


rose benar benar tidak tahan ingin mengatakan keluhannya. namun suaranya sibuk menahan rasa sakit dan tangisan agar tidak berisik.


"ukggh, kau... kau... tidak mengerti... aku... harus tetap menjadi wanita kuat... lihat saja suatu hari aku pasti... akan membalaskan semuanya.. akan aku berikan rasanya perasaanku... aku pasti... hmph"


rose menutup mulutnya setelah bergumam.


karena hampir ada suara tangisan keluar dari mulutnya.


"aku pasti kuat! maka bertahanlah... hanya orang lemah yang akan menangis dan aku bukan wanita lemah ! aku bukan wanita manja yang memaksa orang mengerti aku ! aku adalah wanita mandiri yang akan menyelesaikan masalah ku dengan caraku sendiri ! ukhgh"


~waktu yang sama antara seidon dan Silvia~


"ayo kita pergi menunggang kuda"


tawar seidon


"a..aku masih belum mahir menunggang kuda... kediaman Baron tidak menyediakan banyak kuda.."


keluh Silvi dengan malunya


"siapa bilang kau harus menunggang kuda yang berbeda, pegang tanganku"


suruh seidon setelah menunggang kuda putih.


"ah.. apa tidak apa apa ?"


tany silvia ragu


namun seidon langsung menarik tangan Silvia, sehingga Silvia langsung berada didepan seidon sambil menaiki kuda.


"HYIIIIIIIIIY!"


teriak kuda yang mengangkat kedua kaki depannya, lalu melompat kecil dan berlari.


karena kaget Silvia hampir memeluk dan memegang tangan seidon.


namun detik berikutnya itu tidak sopan, dan Silvia merasa malu,


sampai sampai wajahnya memerah.


"degh degh degh"


suara depat jantung mereka yang semakin mengencang.


pipi keduanya memerah. kuda itu sangat cepat.


berbeda dengan rose yang diam diam mengikuti mereka dengan sihir teleportasinya.


namun rose menggunakan sihir itu sedikit


dari pohon satu ke pohon yang lainnya,


dari batu besar satu ke batu besar lainnya, dan tempat penghalang lainnya, agar tidak kehilangan jejak


namun tak terduga, ternyata bukan rose saja yang mengikuti seidon diam diam.


rever juga mengikuti seidon dan Silvia dengan sihir penyamaran, sehingga wajahnya berbeda, selain itu rever juga menunggang kuda hitam jauh di belakang kuda putih milik seidon dan Silvia,


namun karena mata rever layaknya mata elang rever tidak kehilangan jejak, dan rever juga membisikan suara sekitar dengan sihirnya, agar tidak terdengar suara lari kuda,


di saat rever dan rose saling mengikuti mereka dengan caranya sendiri,


seidon dan silvia malah tersenyum dan bersenang senang.


''''