
di sebuah kekaisaran
KEKAISARAN RAISTY
hiduplah seorang putri count vilieness
Silvia vilieness.
namun karena saat itu masa peperangan
Silvia terpaksa hidup dengan seorang Baron Ronald.
dan pada akhirnya Silvia pun mengganti namanya menjadi Silvia Ronald.
meski sudah menginjak usia 15 tahun Silvia tetap tidak mengetahui identitas aslinya.
selain itu Silvia termasuk murid yang cerdas sehingga dia mendapatkan beasiswa di sekolah besar kekaisaran
1 tahun kemudian...
~pesta kedewasaan Silvia~
"selamat nona Ronald "
"selamat atas kedewasaan anda"
banyak ucapan selamat dari semua orang
meski Silvia hanya seorang Baron
namun atas kebaikan hati dan kepintarannya dia mendapatkan banyak teman yang baik
namun
nampak di sebuah sudut seorang wanita cantik berambut pirang bergelombang yang tidak lain adalah putri rose, adik sang raja.
tahun itu juga tahun kedewasaan nya.
"mengapa banyak orang yang mengobrol dengan Silvia ?
dia hanya seorang Baron
...lihatlah senyumannya itu
...sayangnya itu tidak akan abadi
akheehhe"
suara kecil rose
"tuan putri ? maksud anda apa ?"
tanya putri countess Isrora, riria isrora
yang merupakan salah satu teman putri rose
"kau sungguh ingin mengetahuinya ? ayo ikut aku"
kata rose sambil menyeringai
"Ledy Dahlia, bisa tolong ambilkan secangkir teh ?"
minta rose
"tentu, tunggu sebentar "
angguk Dahlia, putri Marques meriyes alah satu teman rose juga.
beberapa saat kemudian
"ini tuan putri "
"ya, terima kasih, kalian tunggu di sini"
perintah rose
rose pun melangkahkan kakinya dengan lembut ke arah Silvia,
semua orang langsung menyingkir memberi jalan pada rose yang merupakan seorang putri kekaisaran...
"hai Silvia... maaf selama ini aku belum pernah menyapamu, aku benar benar sibuk sampai kelelahan, padahal aku benar benar lelah, tapi aku banyak dengar tentang dirimu dari banyak orang, aku benar benar ingin bertemu denganmu,, namun selalu ada halangan,
padahal aku sedang lelah, tapi aku tetap ingin menyapamu setidaknya kali ini, di saat hari kedewasaanmu. karena setelah ini aku pasti sibuk"
jelas rose dengan tatapan lemah
"sa...salam putri... sa... saya benar benar tidak menyangka dapat salam dari anda... ini sebuah kehormatan yang besar"
kata Silvia dengan gugup sambil membungkuk.
"ha.. saya benar benar ingin mengobrol dengan anda... tapi karena hari ini hanya ada sekali, saya juga ingin menghabiskan waktu dengan yang lainnya..
saya benar benar ingin menikmati teh ini dengan anda..
ta.. tapi..."
tubuh rose mendadak lemas, minuman yang di pegangnya pun tumpah tepat mengenai baju Silvia
Silvia memejamkan mata dan menahan rasa panas dan malu
semua orang kaget beberapa orang membantu Silvia
dan sisanya membantu rose yang kelihatan lemas.
"tu..tuan putri.. anda baik baik saja ?"
"Silvia..kau tak apa ?"
"ah Silvia aku benar benar minta maaf, padahal hanya segelas teh, tapi jariku entah kenapa tak bisa menahannya..
ma.. maaf kan aku
hik.."
kata rose dengan nada lemas
"ah tu.. tuan putri tak apa.. sungguh..
kesehatan anda jauh lebih penting..."
kata Silvia
"benar tuan putri.. anda harus menjaga kesehatan anda"
"saya khawatir, karena seorang putri kekaisaran memang pasti sibuk, dan lelah"
"tuan putri biarkan saya antarkan ke kamar"
kata orang orang
"ah tapi, bagaimana pun aku telah bersalah,
Silvia ambillah 200 gold ini, untuk menggantikan bajumu..."
kata rose
"du.. dua ratus gold ?
itu terlalu banyak tuan putri"
kata Silvia yang menganggap itu beban
"hanya segitu.. tak seberapa untuk sebanding dengan kemaluanmu..
maafkan aku...
dengan 200 gold kau langsung bisa memakai baju yang kau inginkan...
pelayan cepat antar Silvia membeli baju bagus.."
kata rose