SILVIA

SILVIA
lamaran dadakan



"huuu... igi... aku ingin segera keluar dari rumah ini ! aku tidak keberatan bila hidup di jalanan dan menjadi rakyat biasa... a..aku sudah tidak tahan lagi... aku tidak mau menjalankan misi ini"


runtuh Silvia sambil menangis.


igi pun merasa kasian pada Silvia dan ia pun memeluk dan meng elus elus kepala Silvia.


"aku mengerti perasaanmu ! tapi kumohon bertahanlah, dan jalani hidup dengan tenang"


pinta igi.


"apa ? hidup dengan tenang !? bagaimana caranya !? setiap aku menangis kau selalu bilang begitu !? aku sudah berusaha.... a..aku sudah... lelah.. hu...hik..."


runtuh rose yang menangis.


"maafkan aku Silvia, aku akan berusaha agar kau hidup tenang"


kata igi.


tak terasa setelah menangis Silvia terlelap tidur.


...~jam 6~...


"hei !!! anak pemalas ! kau belum bangun dari jam 5 ?! kau lihat cucian menumpuk ! rumah kotor !!! cepat ambil sapu dan bersihkan semuanya ! lalu cepat sekolah! "


teriak Elli


"ibu... bisakah kali ini Silvia libur ? kali ini saja ! dia sedang demam"


jelas igi.


"ha ? dia pasti hanya berpura pura ! cepat katakan kau berpura pura Silvia !!! bersihkan rumah dan berangkat sekolah !!!"


teriak Elli sambil menjambak rambut Silvia.


"aaa... i..ibu... aku akan melakukannya ! kumohon lepaskan... aaa... ibu... sakit"


rintih rose.


"ibu ! hentikan !!! kumohon lepas rambut rose! aku akan melakukan semua pekerjaan rose !!! tolong ibu !!!"


jerit igi sambil memegang tangan Elli.


"dasar anak durhaka ! beraninya kau memegang tanganku !? pergi sana ! cepat beri makan kuda dan pergi bekerja mencari uang!!!"


suruh Elli.


"ba..baik tapi kumohon lepaskan rose, ibu ! dia sedang demam"


jelas igi


"aku tak peduli ! cepat bersihkan rumah dan pergi sekolah !"


suruh Elli dan akhirnya melepaskan rambut rose.


"ba..baik"


turut rose.


"rose... tak usah paksakan dirimu..."


kata igi yang hkawatir.


"hei anak durhaka ! jangan banyak bicara cepat bereskan pekerjaanmu"


bentak Elli.


...~di sekolah~...


"katanya yang mulia datang karena urusan pekerjaan, dan kau diminta untuk menemuinya"


suruh guru.


"ba..baik"


jelas Silvia.


Silvia pun menemui seidon dengan senyuman.


"saya menghadap yang mulia raja, bila boleh saya tahu ada gerangan apa anda memanggil saya yang mulia ?"


tanya Silvia sambil memberi hormat.


"duduklah Silvia,"


suruh seidon


dengan lembut Silvia pun duduk.


kata seidon ragu.


"ya ?"


tanya Silvia.


"maukah kau menjadi ratuku ?"


tanya seidon dengan tatapan serius.


"ya ? a... apa ?"


tanya Silvia tersedak.


"jika kau menjadi ratu, tidak akan ada orang yang berani memarahimu"


jelas seidon.


"ba...bagaimana bisa saya yang rendahan ini bisa mendapat tawaran..."


kata Silvia gugup.


"anggap saja ini pernikahan politik, aku bisa beralasan kepintaranmu yang membuatku harus menikahimu, bagaiman ?"


tanya seidon.


"a... bagaimana ya..."


gagap Silvia sambil memerah.


"kau tidak perlu menjawab sekarang, aku akan memberimu waktu"


jelas seidon.


"ba..baik... saya punya kelas jadi saya akan pergi"


pamit Silvia.


saat Silvia melangkah keluar tiba tiba ada rose menghadangnya.


"hai Silvia ? baru saja hutangmu lunas, kenapa menghutang lagi padaku? beraninya kau membuatku mengerjakan pekerjaan kotor itu ?!"


tanya rose.


"sa..saya minta maaf"


jelas Silvia.


"ada apa ini ?"


tanya seidon yang tiba tiba datang.


"tidak ada, aku hanya ingin memberi Silvia bunga ini"


jawab rose sambil tersenyum.


saat Silvia ingin mengambil bunga itu,


Tiba tiba seidon menghalangi


"penjaga ! suruh seseorang memeriksa buka ini"


Surya seidon.


"Baik yang mulia"


turut penjaga.


"yang mulia ! di bunga ini adalah bunga langka dan...."


teriak seseorang yang memeriksa dengan wajah kaget.


seidon pun semakin memperhatikan.


dan Silvia mendengarkan.


seidon yakin rose akan melukai Silvia.


tapi rose tidak terlihat takut sedikitpun.


namun seidon tahu bahwa rose adalah orang paling pintar bersandiwara.


..."bunga ini aman"...