SILVIA

SILVIA
seidon



"ini..."


kata Silvia ragu


"terimalah"


kata rose tersenyum


pada akhirnya Silvia menerima uang besar itu


saat ingin membeli baju untuk pesta malam itu juga...


"ini adalah toko terbaik, tapi aku harus cepat"


kata Silvia


"saya akan menunggu di luar.."


kata pelayan Silvia


"emm yang mana ya...


ah yang mana saja, asal cepat..


tapi kalau memilih dengan acak


uang sebanyak itu benar benar di sayangkan..


"


kata hati Silvia


"ah kenapa aku berpikir tentang uang ? aku benar benar bodoh,"


"ah baju ini saja, harganya tak terlalu mahal, baju ini cocok untukku..."


Silvia langsung berlari membawa baju itu


"GDUBRAAAGGG!!!!"


"ah aku melakukan kesalahan, maafkan aku..."


Silvia langsung kaget setelah melihat orang yang ada di depannya..


"ya.. yang mulia... raja ?!"


Silvia langsung tunduk


"ma...maafkan saya..."


kata Silvia


"kau Silvia ya.."


tanya raja


"ya..benar"


kata Silvia


"apa di tanganmu ?"


tanya raja


"i..ini hanya gaun"


"bagaimana bisa kau baru belanja di hati kedewasaanmu ?"


"ah..sa.. saya...itu...putri rose tak sengaja menjatuhkan minuman pada saya"


"Rose ?!!!"


tanya raja kaget, mukanya nampak kesal


"ah i..itu tuan putri sangat kelelahan.. jadi..."


raja seidon melangkah mendekati Silvia


Silvia kehabisan kata kata


"gaun yang kau pilih benar benar jelek"


kata seidon


"ah maafkan saya, selera saya memang tidak tinggi"


kata Silvia sedih


melihat Silvia yang sedih seidon baru menyadari kesalahannya


"bukan itu maksudku... maksudku.. maaf...


akan ku pilihkan gaun yang lebih bagus"


kata seidon


setelah mendapat gaun yang di inginkan Meraka langsung pergi bersama


di kereta kuda yang sama


terasa beban dapat berdua bersama raja


~sesampainya di pesta ~


"ka..kakak ?! kenapa kembali bersama Silvia ?"


kata rose


kata seidon


rose langsung tertekan ditambah kesal,


namun ia tetap bersikap cool


*sandiwara adalah bakat terbesar rose*


"baiklah kakak... sepertinya aku harus tetap melakukan tugas tugasku meski di hari kedewasaan temanku"


kata rose dengan tatapan lelah


yang langsung menarik simpati publik


"wah benar benar kasihan tuan putri.. dia pasti benar benar lelah"


"ah tuan putri kasihan sekali"


"tidakkah yang mulia raja terlalu memaksa tuan putri ? bahkan di hari kedewasaan temannya ?"


"ah sepertinya aku harus pergi lagi Silvia...


bajumu benar benar indah, aku harus pergi dulu, lain kali kita minum teh bersama ya"


kata rose dengan senyuman


lalu melangkah pergi bersama seidon


~di ruangan yang tertutup, saat seidon dan rose bersama~


"rose apa alasanmu menumpahkan teh pada gaun Silvia ?!"


kata seidon


"dan apa alasan kakak pulang bersama Silvia ?


sekalinya tidak begini..


dia hanya seorang Baron, kenapa kakak begitu khawatir ?


tanya rose dengan santai seolah tak peduli


"kau tahu dia anak jenius, kekaisaran membutuhkan anak yang cerdas bukan seseorang yang marganya tinggi !"


jelas seidon


"kau meledekku ?!"


teriak rose


yang langsung mengambil gelas...


"apa yang akan kau lakukan ?!"


tanya seidon


"kakak... apakah kakak menyukai Silvia ?


pada pandangan pertama ?"


tanya rose


"apa maksudmu.. jangan mengelak dari topik untuk apa gelas itu.."


tanya seidon


"aku benar benar tidak Sudi Silvia menjadi kakak iparku..


satu satunya cara adalah dia tidak menyukai kakak..


setidaknya hanya dia !


kenapa kakak tidak menikahi


countes Riria


atau marquess Dahlia ?"


tanya rose


"aku kakakmu! kenapa kau malah mengatur atur ku ?!"


kata seidon


"satu kali salah"


"PRANKKKKKKK!!"


rose telah menjatuhkan gelas


"ahhhh"


teriak rose


rose langsung berlari dari ruangan itu..


dia sengaja lari melewati Silvia dan menunjukan wajah sedihnya hanya pada Silvia


lalu rose pergi ke taman belakang...


Silvia yang melihatnya langsung penasaran dan bersimpati


berbeda dengan yang lain yang tidak sadar.


Silvia pun pergi menuju rose