SILVIA

SILVIA
sandiwara kakak adik



rose mengambil buku kosong dan kuas pen.


rose pun mulai menulis sesuatu yang ada dipikirannya.


"jika ingin menjatuhkan Silvia, Silvia harus punya alasan, ada 3 kemungkinan



karena harta


karena benci


Karena kesurupan


untuk cara pertama kurasa agak sulit, Silvia bukan tipe orang seperti itu, kalo cara kedua mungkin saja, tapi kalau Silvia membenciku dengan alasan tertentu, akan terjadi kemungkinan semua orang membenciku juga, jadi...


masa cara ketiga ?!


aku pikir pikir saja...


kalau aku buat rumor Silvia kesurupan...


masuk akal juga !


baiklah kita gunakan cara itu !


sekarang tinggal buat detailnya !"


jelas hati rose.



...~keesokan harinya~...


"aku membawa racun di sini, sekarang tinggal memasukannya ke dalam botol minum Silvia..."


kata hati rose.


"Rose !!! gawat!!!!"


teriak riria


"ada apa ? pelankan suaramu"


jelas rose.


"yang mulia raja seidon ! dia meminta agar Silvia tidak di beri hukuman !!!!!!"


jelas Riria


"apa!!!? mana mungkin, aku satu satunya keluarga seidon, beraninya dia begini ! aku akan ke ruang kepala sekolah"


kata rose yang langsung berlari keruang kepala sekolah.


......~di depan pintu kepala sekolah~......


rose mulai melemaskan otot otot wajahnya...


"permisi... ka..kakak.."


kata rose yang memberi salam.


"ah rose ! bagus kamu datang ke sini ! kita butuh kesaksianmu juga "


jelas rose.


"ah baik..."


jawab rose singkat.


"rose ketika kamu di dorong Silvia, apa yang terjadi sebelumnya. ?"


tanya kepala sekolah.


"bagus kau bertanya !"


kata hati rose.


"sekilas... sa..saya melihat mata Silvia memerah darah.."


jelas rose yang membuat seluruh ruangan kaget.


jelas seidon marah.


"sa... saya melihatnya...."


jelas rose.


"menurutku Silvia tidak usah di hukum berat selagi tak ada bukti, coba pertimbangkan "


jelas seidon.


"hmm karena ini perintah yang mulia..."


gumam kepala sekolah.


"kakak... jangan pilih kasih... jangan karena kakak menyukai Silvia kakak melepaskannya dari hukuman... bahkan tak terkecuali untukku sebagai korban..."


kata rose yang bicara pelan pekan dengan jelas.


semua orang kaget.


di tambah segerombolan orang orang yang berada di luar ruangan untuk mengintip dan mendengar semua omongan itu.


semua orang seketika shock.


"benar ! jika seidon terus menekan agar Silvia tidak di beri hukuman... maka aku tak punya pilihan lain selain mengatakan ini yang dapat membuat namamu tercoreng.


seorang raja dengan putri Baron ?!, yang benar saja !"


kata hati rose sambil menyeringai.


"yang mulia menyukai Silvia, ini urusan pribadi... mana mungkin..."


kata hati kepala sekolah sambil mengeluarkan keringat dingin.


namun ada yang mengganjal hati rose.


seidin tidak geram sama sekali.


dia malah tersenyum dan...


"apa maksudmu rose ? aku menyukai Silvia ? bagaimana ya... menyukai ya, aku menyukainya ! tapi tidak sebagai pria ! aku menyukainya sebagai pemimpin yang menjunjung tinggi prestasi penerus ! Silvia adalah anak yang pandai, bagaimana aku bisa membencinya... tapi yang ingin aku tanyakan..


kenapa kau terus seperti meminta Silvia untuk di hukum ? apa kau membenci Silvia ?"


tanya seidon dengan tersenyum,


yang membuat rose jengkel.


tapi rose juga tidak kalah dengan sandiwara seidon, rose pun melemaskan wajahnya, dan mengangkat Alis dalam


"kakak.. kakak salah paham ya, seseorang telah di dorong dari lantai 3, bukankah wajar jika orang itu membenci sang pendorong ?


tapi saya tidak ! saya tetap menyukai Silvia ! meski saya agak takut bertemu dengannya !


kakak tidak bisa melihat apa yang saya lihat kemarin ! bagaimana kakak bisa mengerti saya ?"


tanya rose.


"ha....maaf sepertinya memang benar ada kesalah pahaman, tapi Rose... akan sangat sulit menghukum Silvia tanpa bukti... hanya ada saksi..."


jelas seidon dengan tersenyum manis pada rose, namun yang lebih mengagetkan tangan seidon mengelus elus kepala rose, yang membuat orang berpikir bahwa hubungan kakak adik ini begitu harmonis.


"baiklah, saya minta maaf karena telah menentang keputusan kakak, saya begitu bodoh dan tidak tahu apa apa... maafkan saya"


jelas rose dengan lemah lembut sambil membungkuk memberi hormat.


"yah wajar saja rose, kau masih perlu belajar.."


jelas seidon Dengan senyuman.


"baiklah, aku akan memberi hukuman yang tidak berat pada Silvia, rose kau boleh melanjutkan pelajaran kelas mu"


jelas kepala sekolah.


rose pun memberi hormat dan pergi.


"mendapatkan hukuman tak berat adalah kemajuan yang cukup, yah, untungnya ini hanya permulaan"


jelas rose dalam hati sambil tersenyum.