
...~jam 9 malam~...
"ah kenapa masih belum selesai ?!"
keluh rose.
"su...sudah saya bilang... Anda boleh pergi..."
kata Silvia khawatir.
"jangan harap karena kebaikanmu seluruh ras benciku akan musnah, aku tetap akan menjalankan rencana jahatku tahu ! jadi kumohon jangan bersifat seperti ini ! kau ingin aku merasa bersalah ya !"
geram hati rose.
"ah tidak usah Silvia, kalian juga pasti lelah"
jelas rose.
"TUAN PUTRI!!!! TUAN KEHORMATAN!????"
teriak seorang prajurit istana.
"ROSE ?"
kaget seidon yang duga datang.
"ka...kakak... ah aku lupa memberi kabar ya"
jelas hati rose.
"rose ? kamu kemana saja ?"
tanya seidon.
"ah perasaan saya sudah bilang ke pak kusir 'aku akan pulang dengan rever dan menyusul' "
jelas rose.
"apa kau pikir ini sekedar pulang terlambat ?!
kau tahu aku mencarimu kemana mana karena ini sudah gelap, ku pikir kau kenapa Napa!"
khawatir seidon.
"ah padahal kakak seorang raja, kenapa kakak juga ikut mencari saya ?"
tanya rose dengan tatapan dingin.
"sebaiknya kau pulang sekarang"
jelas seidon sambil memegang dahi karena bingung dengan sikap Rose.
tiba tiba rose tersenyum.
"saya sedang membantu Silvia membersihkan sekolah, rever juga ikut membantu...
......bukankah seharusnya kakak suka ?"...
tanya rose dengan tersenyum.
seidon jelas jelas tahu maksud rose menekannya.
namun seidon tersenyum kembali.
"iya aku tahu, kamu mungkin merasa bersalah karena Silvia mendapat hukuman ini...
......karena menjatuhkanmu dari lantai 3"...
jelas seidon.
"baiklah kakak, jika tidak ada yang kakak ingin sampaikan, silahkan pergi karena kehadiran kakak hanya menghambat kami"
jelas seidon.
"ha.... padahal hanya membersihkan sekolah ! kenapa bisa selama ini ? biasanya kurang dari jam 6 sudah selesai kan ?"
tanya seidon, yang membuat rever, Silvia dan Rose tersentak, dan salah tingkah.
"a...anu..."
gagap rever.
"andai ini hanya di lakukan olehku mungkin aku akan mengaku, tapi bila bersama putri rose, dan tuan rever... aku takut..."
gumam hati Silvia.
jelas rose.
"tingkah kalian aneh ! ada yang kalian sembunyikan ya?"
curiga seidon.
"ukh.."
geram rose.
"Silvia ! rever ! ayo lanjutkan kerja kita ! tinggal ruang UKS kan ?"
suruh rose.
yang langsung meninggalkan seidon tanpa memedulikannya.
...~di ruang UKS~...
"anu... tuan putri apa tidak apa apa anda bersikap seperti itu pada yang mulia ?"
tanya Silvia.
"ha... siapa peduli"
jawab rose.
rever dan rose saat itu sadar bahwa rose sedang dalam masalah pribadi dan sungkan mengganggunya.
...~selesai membersihkan seluruh kelas~...
"aku pulang dulu ya"
pamit Silvia.
Silvia pun berjalan ke rumahnya yang jauh,
jam 1 pagi kemudian.
"akhirnya sampai !"
lelah Silvia.
"hei ! anak haram ! kemana saja kau ?! kau sengaja ya pulang malam agar tidak kerja di rumah ?!"
teriak Elli Ronald (nyonya Baron Ronald)
"i..ibu...aku tadi menjalankan hukuman..."
kata Silvia yang mencoba menjelaskan.
"heh ! sudah pulang malam, menjalankan hukuman ! kamu pikir kami siapa ?! beraninya menodai keluarga ini !? kenapa kau mendorong tuan putri ?! di tambah banyak rumor dirimu kesurupan ! tak tahu malu !!! kamu pikir kamu siapa ?! beraninya menyentuh tuan putri ?! kau tahu rumormu itu bukannya makin mereda malah makin panas di pergaulan bangsawan dan kas atas !!!"
teriak Elli
"ma...maafkan saya... tapi semua itu tidak benar...sa... saya mohon percayalah "
kata Silvia yang tak tahan menahan tangis.
"huh ! setiap aku menasehatimu kenapa kau malah menangis !? dasar wanita lemah ! kau hanya mempermalukan keluarga Ronald akan lebih baik bila kau mati !"
teriak Elli
Silvia hanya bisa menangis di kamarnya untuk meringankan beban hidupnya.
"Silvia... kau menangis lagi ?"
tanya igi.
*igi adalah anak angkat tuan besar Ronald (tuan Erie), yang sama sama mendapat perlakuan buruk karena igi dan Silvia adalah anak angkat, ada juga rumor yang mengatakan bahwa igi dan Silvia adalah kakak beradik kandung yang di titipkan bersamaan pada Baron Ronald.
namun kenyataannya :
igi adalah anak pertama count vilieness
dan Silvia anak kedua count vilieness
karena saat itu masa peperangan dan count vilieness menjadi pengaruh besar saat itu, terpaksalah menitipkan Silvia dan igi ke Baron Ronald agar tidak tersakiti.
namun meski sekarang perang sudah selesai.
Silvia dan igi masih belum bisa bertemu count vilieness karena alasan kontrak.
bahkan sampai sekarang igi dan Silvia belum tahu orang tua kandungnya adalah count vilieness*